<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ibu dan Balita &#8211; Perpustakaan Sidodadi (TBM)</title>
	<atom:link href="https://perpustakaansidodadi.com/category/ibu-dan-balita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://perpustakaansidodadi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Oct 2013 07:28:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.5</generator>

<image>
	<url>https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2021/02/ico-perpustakaan-sidodadi-hargomulyo-pripih.jpg</url>
	<title>Ibu dan Balita &#8211; Perpustakaan Sidodadi (TBM)</title>
	<link>https://perpustakaansidodadi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Kurir ASI</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/375/kurir-asi/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/375/kurir-asi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 10 Oct 2013 07:28:01 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibu dan Balita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=375</guid>

					<description><![CDATA[Layanan Kurir ASI Eksklusif ini berawal dari pengalaman pribadi Pimpinan kami (Fikri Nauval) saat istri tercinta (Evi Kurniati) memberikan ASI eksklusif kepada putri ketiganya. Evi adalah seorang wanita bekerja, saat anak pertama dan kedua, Evi gagal memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya selama 6 bulan penuh dikarenakan disaat waktu cuti &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Layanan Kurir ASI Eksklusif</strong> ini berawal dari pengalaman pribadi Pimpinan kami (<strong>Fikri Nauval</strong>) saat istri tercinta <strong>(Evi Kurniati</strong>) memberikan ASI eksklusif kepada putri ketiganya. Evi adalah seorang wanita bekerja, saat anak pertama dan kedua, Evi gagal memberikan ASI eksklusif untuk buah hatinya selama 6 bulan penuh dikarenakan disaat waktu cuti melahirkan sudah habis maka Evi sudah tidak lagi dapat memberikan ASI eksklusif-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika anak ketiga lahir saat itu Fikri sudah memiliki perusahaan jasa kurir, lantas beliau pun mulai memanfaatkan kurir-kurir untuk mengambil ASIP di kantor istri untuk kemudian mengantarkannya ke rumah. Alhasil anak ketiga dari Fikri pun mendapatkan ASI eksklusif dengan penuh selama satu tahun. Dari situlah akhirnya muncul sebuah pemikiran apabila hal tersebut dialami oleh Fikri dan Evi lalu bagaimana dengan ibu-ibu lain?</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan dibantu beberapa staff kemudian Fikri melakukan survey kecil-kecilan ke beberapa mahasiswi dan pelajar putri mengenai masa depan mereka. Hampir 100% mereka menjawab bahwa setelah mereka lulus nanti mereka ingin menjadi wanita bekerja, dan inilah kenyataan yang ada khususnya para wanita yang berada dikota kota besar . Lalu apa yang terjadi jika semua perempuan ingin bekerja di kantoran?</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah masalah akan muncul disaat mereka mulai menikah dan melahirkan anak pertama, kedua, dan seterusnya. Mereka hanya mendapatkan masa cuti tiga bulan untuk bisa memberikan ASI eksklusif kepada buah hatinya, lalu bagaimana apabila mereka sudah kembali bekerja? Banyak kasus yang apabila mereka sudah mulai bekerja dengan berangkat pagi dan pulang malam hari akhirnya ASI eksklusif hanya terkejar hingga 1-2 bulan, sisanya kalau kehabisan terpaksa mereka akan ‘menambal’ nya dengan susu formula.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya memang, banyak ibu yang sambil bekerja pun tetap mampu mengejar stock ASIP untuk si kecil. Tapi bagaimana kalau yang nasib ASI-nya pas-pasan? Perah hari ini dan diberikan kepada bayinya besok? Dari jawaban-jawaban tadi maka dapat diambil kesimpulan bahwa generasi yang akan datang terancam tidak mendapatkan ASI Eksklusif nya dengan baik dikarenakan semakin menurunnya tingkat pemberian ASI Eksklusif dan ditambah dengan kendala kendala yang akan dihadapi oleh para ibu khususnya dikota kota besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pemikiran dan survey yang kami lakukan akhirnya kami membuat satu divisi khusus dimana divisi ini akan melayani kebutuhan masyarakat pada hari ini dan khususnya dikota besar seperti Jakarta. Layanan tersebut kami beri nama<strong> KURIR ASI</strong>. Yang membedakan KURIR ASI dengan kurir kurir lainnya adalah didalam melakukan pengiriman ASI eksklusif ini kurir kami dilengkapi peralatan khusus yaitu:</p>
<ul style="text-align: justify;">
<li><strong>Tas khusus dengan lapisan bahan yang membuat ASI tetap pada kualitasnya</strong></li>
<li><strong>Ice gel yang dapat tahan dingin hingga 4 jam</strong></li>
<li><strong>Wrapping untuk tutup botol agar ASI lebih<br />
steril lagi.</strong></li>
</ul>
<p style="text-align: justify;">Jadi sekarang para ibu tidak perlu stress memikirkan bagaimana memberikan ASIP nya ke rumah disaat para ibu sedang bekerja dikantor, apalagi kalau harus lembur di kantor atau ada meeting lanjutan hingga larut malam. Karena saat ini para ibu yang bekerja dapat memanfaatkan layanan kami yaitu <strong>KURIR ASI EKSKLUSIF</strong>.</p>
<p style="text-align: justify;">Mudah-mudahan dengan adanya jasa layanan ini kami dapat memberikan angin segar untuk para ibu menyusui dan membantu para ibu untuk selalu semangat memberikan yang terbaik untuk buah hatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">sumber: <span style="text-decoration: underline;">http://www.kurir-asi.com</span>/</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/375/kurir-asi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>RESIKO PERSALINAN CAESAR</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/130/resiko-persalinan-caesar/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/130/resiko-persalinan-caesar/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 02:42:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibu dan Balita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=130</guid>

					<description><![CDATA[&#160; 30 Januari 2006 Jaman dahulu kala, persalinan hampir selalu mengenal kata &#8220;normal&#8221;, dalam arti bayi keluar melalui &#8220;jalan lahir&#8221; atau vagina. Seorang kerabat pernah bercerita, ketika melahirkan anaknya yang sungsang, oleh bidan perutnya &#8220;dipijat sedemikian rupa&#8221; supaya posisi kepala bayi mengarah ke vagina. Walhasil rasanya pasti sakit luar biasa, &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="56%"><img fetchpriority="high" decoding="async" alt="kelahiran caesar" src="http://mediasehat.com/image/lahir5.jpg" width="300" height="198" border="0" /></td>
<td width="44%">
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td align="right">30 Januari 2006</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jaman dahulu kala, persalinan hampir selalu mengenal kata &#8220;normal&#8221;, dalam arti bayi keluar melalui &#8220;jalan lahir&#8221; atau vagina. Seorang kerabat pernah bercerita, ketika melahirkan anaknya yang sungsang, oleh bidan perutnya &#8220;dipijat sedemikian rupa&#8221; supaya posisi kepala bayi mengarah ke vagina. Walhasil rasanya pasti sakit luar biasa, karena pada saat itu bayinya sudah menendang-nendang, dan tangan bidan menekan sebegitu kerasnya untuk bisa memutar posisi bayi.</td>
</tr>
<tr>
<td colspan="2">Saya sendiri merupakan produk &#8220;caesar&#8221;. Pada saat itu (akhir dekade 70an), caesar adalah jalan akhir yang baru diambil ketika proses kelahiran normal tidak mungkin dilakukan. Posisi saya sewaktu di perut ibu waktu itu sungsang 180derajat, artinya posisinya benar-benar terbalik dari yang semestinya (membujur, bukan melintang). Sebelum keluar keputusan caesar dari dokter, dokter tetap mengusahakan proses kelahiran secara normal. namun setelah dipastikan tidak mungkin, barulah dokter minta persetujuan dari ayah untuk melakukan operasi caesar. Walhasil saat itu saya lahir telat sekitar 4 jam, sehingga saya keluar dalam keadaan biru dan keracunan air ketuban.</p>
<p>Namun mulai akhir dekade 90an sampai dengan saat ini, melahirkan dengan cara caesar seakan-akan menjadi trend dan mode. Para calon ibu berbondong-bondong mem-booking rumah sakit untuk melakukan proses kelahiran dengan cara caesar, seperti halnya mem-booking hotel. Operasi caesar pun banyak yang dilakukan tanpa anjuran medis sama sekali. Alasan yang diberikan umumnya agar bisa memilih tanggal lahir seperti yang diinginkan (misalnya, pada pergantian millenium), juga untuk alasan praktis seperti sang ibu tidak perlu tersiksa harus mengejan, selain itu rasa nyeri yang ditimbulkan saat proses kelahiran juga tidak separah melahirkan normal karena sang ibu mengalami bius, baik lokal maupun total. Tak heran, angka kelahiran caesar di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.</p>
<p>Banyaknya calon ibu yang minta di-caesar tanpa rekomendasi medis, diduga karena kurangnya informasi tentang hal itu. Padahal, resiko operasi itu banyak dan serius, sehingga jauh lebih berbahaya dibanding persalinan normal. Dan yang harus memikul resiko itu bukan cuma sang ibu, tapi juga bayi. WHO sendiri mengatakan bahwa seharusnya operasi caesar hanya digunakan untuk menangani 10-15% persalinan.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, mediasehat akan membantu para calon ibu untuk mengetahui seluk beluk resiko kelahiran secara caesar, baik pada ibu, maupun pada bayi.</p>
<p>RESIKO PADA IBU</p>
<p><strong>Resiko Jangka Pendek</strong></p>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="5%">1.</td>
<td width="95%">Infeksi pada Bekas Jahitan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Infeksi luka akibat persalinan caesar beda dengan luka persalinan normal. Luka persalinan normal sedikit dan mudah terlihat, sedangkan luka operasi caesar lebih besar dan berlapis-lapis. Untuk diketahui, ada sekitar 7 lapisan mulai dari kulit perut sampai dinding rahim, yang setelah operasi selesai, masing-masing lapisan dijahit tersendiri. Jadi bisa ada 3 sampai 5 lapis jahitan. Bila penyembuhan tidak sempurna, kuman akan lebih mudah menginfeksi sehingga luka menjadi lebih parah. Bukan tidak mungkin dilakukan penjahitan ulang.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">2.</td>
<td>Infeksi Rahim</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Infeksi Rahim terjadi jika ibu sudah kena infeksi sebelumnya, misalnya mengalami pecah ketuban. Saat dilakukan operasi, rahim pun terinfeksi. Apalagi jika antibiotik yang digunakan dalam operasi tidak cukup kuat.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">3.</td>
<td>Keloid</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Keloid atau jaringan parut muncul pada organ tertentu karena pertumbuhan berlebihan. sel-sel pembentuk organ tersebut. Ukuran sel meningkat dan terjadilah tonjolan jaringan parut. Perempuan yang punya kecenderungan keloid tiap mengalami luka niscaya mengalami keloid pada sayatan bekas operasinya.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">4.</td>
<td>Cedera Pembuluh Darah</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Pisau atau gunting yang dipakai dalam operasi beresiko mencederai pembuluh darah. Misalnya tersayat. Kadang cedera terjadi pada penguraian pembuluh darah yang lengket. Ini adalah salah satu sebab mengapa darah yang keluar pada persalinan caesar lebih banyak dibandingkan persalinan normal.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">5.</td>
<td>Cedera pada Kandung Kemih</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Kandung kemih letaknya melekat pada dinding rahim. Saat operasi caesar dilakukan, organ ini bisa saja terpotong. Perlu dilakukan operasi lanjutan untuk memperbaiki kandung kemih yang cedera tersebut.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">6.</td>
<td>Perdarahan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Perdarahan tak bisa dihindari dalam proses persalinan. Namun, darah yang hilang lewat operasi caesar dua kali lipat dibandingkan lewat persalinan normal.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">7.</td>
<td>Air Ketuban Masuk ke Pembuluh Darah</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Selama operasi caesar berlangsung, pembuluh darah terbuka. Ini memungkinkan komplikasi berupa masuknya air ketuban ke dalam pembuluh darah (embolus). Bila embolus mencapai paru-paru, terjadilah apa yang disebut <i>pulmonary embolism</i>. Jantung dan pernapasan ibu bisa terhenti secara tiba-tiba. Terjadilah kematian mendadak.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">8.</td>
<td>Pembekuan Darah</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Pembekuan darah bisa terjadi pada urat darah halus di bagian kaki atau organ panggul. Jika bekuan ini mengalir ke paru-paru, terjadilah embolus.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">9.</td>
<td>Kematian Saat Persalinan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Beberapa penelitian menunjukkan, angka kematian ibu pada operasi caesar lebih tinggi dibanding persalinan normal. Kematian umumnya disebabkan kesalahan pembiusan, atau perdarahan yang tak ditangani secara cepat.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">10.</td>
<td>Kelumpuhan Kandung Kemih</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Usai operasi caesar, ada kemungkinan ibu tidak bisa buang air kecil karna kandung kemihnya kehilangan daya gerak (lumpuh). Ini terjadi karena saat proses pembedahan berlangsung, kandung kemih terpotong.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">11.</td>
<td>Hematoma</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Hematoma adalah perdarahan dalam rongga tertentu. Jika ini terjadi, selaput di samping rahim akan membesar membentuk kantung akibat pengumpulan darah yang terus menerus. Akibatnya fatal, yaitu kematian ibu. Sebenarnya, kasus ini juga bisa terjadi pada persalinan normal. Tapi mengingat resiko perdarahan pada operasi caesar lebih tinggi, resiko hematoma pun lebih besar.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">12.</td>
<td>Usus Terpilin</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Operasi caesar mengakibatkan gerak peristaltik usus tak bagus. Kemungkinan karena penangananan yang salah akibat manipulasi usus, atau perlengketan usus saat mengembalikannya ke posisi semula. Rasanya sakit sekali dan harus dilakukan operasi ulang.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">13.</td>
<td>Keracunan Darah</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Keracunan darah pada operasi caesar dapat terjadi karena sebelumnya ibu sudah mengalami infeksi. Ibu yang di awal kehamilan mengalami infeksi rahim bagian bawah, berarti air ketubannya sudah mengandung kuman. Jika ketuban pecah dan didiamkan, kuman akan aktif sehingga vagina berbau busuk karena bernanah. Selanjutnya, kuman masuk ke pembuluh darah ketika operasi berlangsung, dan menyebar ke seluruh tubuh. Keracunan darah yang berat menyebabkan kematian ibu.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Resiko Jangka Panjang</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td align="center">14.</td>
<td>Masalah Psikologis</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Berdasarkan penelitian, perempuan yang mengalami operasi caesar punya perasaan negatif usai menjalaninya (tanpa memperhatikan kepuasan atas hasil operasi). Depresi pasca persalinan juga merupakan masalah yang sering muncul. Beberapa mengalami reaksi stres pascatrauma berupa mimpi buruk, kilas balik, atau ketakutan luar biasa terhadap kehamilan. Masalah psikologis ini lama-lama akan mengganggu kehidupan rumah tangga atau menyulitkan pendekatan terhadap bayi. Hal ini bisa muncul jika ibu tak siap menghadapi operasi.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">15.</td>
<td>Pelekatan Organ Bagian Dalam</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Penyebab pelekatan organ bagian dalam pascaoperasi caesar adalah tak bersihnya lapisan permukaan dari noda darah. Terjadilah pelengketan yang menyebabkan rasa sakit pada panggul, masalah pada usus besar, serta nyeri saat melakukan hubungan seksual. Jika kelak dilakukan operasi caesar lagi, pelekatan bisa menimbulkan kesulitan teknis hingga melukai organ lain, seperti kandung kemih atau usus.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">16.</td>
<td>Pembatasan Kehamilan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Dulu, perempuan yang pernah menjalani operasi caesar hanya boleh melahirkan tiga kali. Kini, dengan teknik operasi yang lebih baik, ibu memang boleh melahirkan lebih dari itu, bahkan sampai lima kali. Tapi resiko dan komplikasinya makin berat.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Resiko Persalinan Selanjutnya</strong></p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td align="center">17.</td>
<td>Sobeknya Jahitan Rahim</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Ada tujuh lapis jahitan yang dibuat saat operasi caesar. yaitu jahitan pada kulit, lapisan lemak, sarung otot, otot perut, lapisan dalam perut, lapisan luar rahim, dan rahim. Jahitan rahim ini bisa sobek pada persalinan berikutnya. Makin sering menjalani operasi caesar, makin tinggi resiko terjadinya sobekan.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">18.</td>
<td>Pengerasan Plasenta</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Plasenta bisa tumbuh ke dalam melewati dinding rahim, sehingga sulit dilepaskan. Bila plasenta sampai menempel terlalu dalam (sampai ke myometrium), harus dilakukan pengangkatan rahim karena plasenta mengeras. resikonya terjadi plasenta ini bisa meningkat karena operasi caesar.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">19.</td>
<td>Tersayat</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Ada dua pendapat soal kemungkinan tersayatnya bayi saat operasi caesar. Pertama, habisnya air ketuban yang membuat volume ruang di dalam rahim menyusut. Akibatnya, ruang gerak bayi pun berkurang dan lebih mudah terjangkau pisau bedah. kedua, pembedahan lapisan perut selapis demi selapis yang mengalirkan darah terus menerus. Semburan darah membuat janin sulit terlihat. Jika pembedahan dilakukan hati-hati, bayi bisa tersayat di bagian kepala atau bokong. Terlebih, dinding rahim sangat tipis.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">20.</td>
<td>Masalah Pernapasan</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Bayi yang lahir lewat operasi caesar cenderung mempunyai masalah pernapasan yaitu napas cepat dan tak teratur. Ini terjadi karena bayi tak mengalami tekanan saat lahir seperti bayi yang lahir alami sehingga cairan paru-parunya tak bisa keluar. Masalah pernapasan ini akan berlanjut hingga beberapa hari setelah lahir.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td align="center">21.</td>
<td>Angka APGAR Rendah</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td>Angka Apgar adalah angka yang mencerminkan kondisi umum bayi pada menit pertama dan menit ke lima. Rendahnya angka Apgar merupakan efek anestesi dan operasi caesar, kondisi bayi yang stres menjelang lahir, atau bayi tak distimulsai sebagaimana bayi yang lahir lewat persalinan normal. Berdasarkan penelitian, bayi yang lahir lewat operasi caesar butuh perawatan lanjutan dan alat bantu pernapasan yang lebih tinggi dibandingkan bayi lahir normal.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3">Sumber :</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td align="center" width="1%"></td>
<td align="center" width="3%">1.</td>
<td width="96%">Majalah Parents Guide, Vol. No. 7, April 2003</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td align="center"></td>
<td align="center">2.</td>
<td>Photos courtesy of http://www.thedanverzone.com/ryans-birth-photos.html</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
<tr>
<td>
<table width="100%" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3">Sumber :</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td align="center" width="1%"></td>
<td align="center" width="3%">1.</td>
<td width="96%">Majalah Parents Guide, Vol. No. 7, April 2003</td>
</tr>
<tr valign="top">
<td align="center"></td>
<td align="center">2.</td>
<td>Photos courtesy of http://www.thedanverzone.com/ryans-birth-photos.html</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/130/resiko-persalinan-caesar/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Donor ASI, Amankah?</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/126/donor-asi-amankah/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/126/donor-asi-amankah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 02:37:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibu dan Balita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=126</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Air Susu Ibu (ASI) sangat bermanfaat bagi bayi. Didalamnya terkandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan bagi bayi. Namun apa jadinya jika ada seorang ibu yang tidak bisa menyusui karena beberapa kasus kesehatan, Ibu bayi meninggal usai melahirkan atau sama sekali tidak bisa mengeluarkan ASI. Nah, donor ASI jawabannya. Tapi, amankah? &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><img decoding="async" alt="" src="http://mediasehat.com/artikel/image/IBU%20menyusui%20ASI%202.jpg" width="320" height="286" align="left" />Air Susu Ibu (ASI) sangat bermanfaat bagi bayi. Didalamnya terkandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan bagi bayi. Namun apa jadinya jika ada seorang ibu yang tidak bisa menyusui karena beberapa kasus kesehatan, Ibu bayi meninggal usai melahirkan atau sama sekali tidak bisa mengeluarkan ASI. Nah, donor ASI jawabannya. Tapi, amankah?</p>
<p align="justify">Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, donor ASI sudah mulai dilakukan. Melalui Bank ASI yang tersedia, para Ibu yang tidak bisa memberikan ASI kepada bayinya karena beberapa alasan bisa tetap memberikan ASI kepada bayinya dengan bantuan pendonor ASI. Tapi sayang, secara resmi belum ada Bank ASI di Indonesia karena Indonesia baru melakukan aktifitas donor ASI saja.</p>
<p align="justify">Untuk mengetahui tingkat keamanan ASI yang didonorkan, sebaiknya Anda harus mengetahui beberapa hal-hal di bawah ini karena baik mendonorkan ASI atau menerima donor ASI tidak boleh sembarangan. Ada rangkaian prosedur yang harus dijalani kedua belah pihak.</p>
<p align="justify">Tahap pertama, pemeriksaan lisan berupa wawancara. Tujuannya untuk mengorek riwayat kesehatan pendonor ASI. Tahap kedua berupa pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk mengetahui apakah si pendonor mengidap penyakit Hepatitis A, Hepatitis C, Rubella dan HIV.</p>
<p align="justify">Setelah didonorkan, ASI masih harus dipasteurisasi untuk mematikan virus dan bakteri yang berbahaya bagi bayi. Donor ASI juga ditempatkan di wadah dan suhu yang khusus agar ASI bisa bertahan lama. Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2012 tentang ASI Eksklusif sebenarnya telah menetapkan persyaratan bagi pendonor dan penerima ASI. Diantaranya, donor ASI dilakukan sesuai permintaan Ibu kandung atau kerabat bayi, identitas pendonor ASI harus jelas dan pendonor ASI memiliki riwayat kesehatan yang baik.</p>
<p align="justify">Bagi Anda yang ingin mendonorkan ASI, tidak disarankan jika Anda menerima donor darah dalam 12 bulan terakhir, menerima transplantasi organ dalam waktu 1 tahun terakhir, minum alkohol lebih dari 24 jam, pengguna obat-obatan berdosis tinggi, pengguna obat-obat herbal, merokok, menggunakan obat-obat terlarang, memiliki penyakit hepatitis, HIV dan memakai implant payudara.</p>
<div align="justify"></div>
<div align="justify">Ditulis oleh</div>
<div align="justify">Maria Ulfa Eleven Safa</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/126/donor-asi-amankah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tips Menghadapi Anak Pemilih Makanan</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/124/tips-menghadapi-anak-pemilih-makanan/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/124/tips-menghadapi-anak-pemilih-makanan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 02:36:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibu dan Balita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=124</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Semakin bertambahnya usia, anak-anak sudah bisa memilih makanan yang ingin dimakanya. Tapi bagaimana jadinya jika anak Anda terlalu pemilih makanan yang ingin dimakan? Marah dan kesal saja terhadap anak tidak akan menyelesaikan masalah. Mengomeli anak setiap jam makan hanya akan membuat anak frustasi. Anda bisa mencoba beberapa trik dari &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p align="justify"><img decoding="async" alt="" src="http://mediasehat.com/artikel/image/foodwithkidss1.jpg" width="300" height="225" align="left" />Semakin bertambahnya usia, anak-anak sudah bisa memilih makanan yang ingin dimakanya. Tapi bagaimana jadinya jika anak Anda terlalu pemilih makanan yang ingin dimakan? Marah dan kesal saja terhadap anak tidak akan menyelesaikan masalah. Mengomeli anak setiap jam makan hanya akan membuat anak frustasi. Anda bisa mencoba beberapa trik dari Kepala Ahli Diet Rumah Sakit Breach Permen, Mumbai, Dr Eileen Candai,  di bawah ini untuk menghadapi “<em>si Picky Eater</em>” ini.</p>
<p align="justify">1. Temukan makanan yang disukai semua anggota keluarga. Makan bersama-sama dengan keluarga akan membuat anak berpikir bahwa makanan tersebut memang enak untuk dimakan. Untuk permulaan, Anda bisa menawarkan dia seporsi kecil makanan tersebut. Jika si kecil menyukainya, Anda bisa tambahkan porsinya.</p>
<p align="justify">2. Berikan porsi makanan yang kecil tapi sering. Kebanyakan orang tua memberikan porsi yang besar untuk si kecil. Padahal tidak semua anak bisa makan dengan jumlah porsi yang besar. Berikan porsi yang kecil namun sering. Bila perlu gantilah menu makanan setiap hari untuk menghindari kebosanan si kecil.</p>
<p align="justify">3. Ajak teman sebayanya untuk makan bersama. Anda bisa menyuapi si kecil saat teman-temannya juga sedang disuapi Ibunya.</p>
<p align="justify">4. Undang saudara atau teman Anda yang menjadi favorit si kecil untuk makan malam bersama. Misalnya, Om atau Tante yang menjadi favorit anak. Biasanya jika sedang ada tamu, anak-anak akan makan dengan tenang tanpa perlu bertengkar dulu dengan Anda.</p>
<p align="justify">5. Jangan paksa anak untuk makan. Layaknya orang dewasa, anak-anak pun kadang mengalami masa tidak ingin makan atau ingin makan jenis makanan tertentu. Jika memang dia tidak ingin makan apapun, biarkan saja karena pada saatnya nanti si kecil akan meminta makan jika dia lapar. Jika dia ingin makan makanan tertentu, berikan.</p>
<p align="justify">6. Buat suasana yang menyenangkan saat makan. Tidak ada lagi omelan atau bentakan saat jam makan tiba. Anda bisa bertanya apa yang si kecil suka atau bertanya apa makanan favoritnya saat sedang makan.</p>
<p align="justify">7. Berikan camilan. Banyak makanan utama yang bisa Anda kreasikan menjadi camilan yang menarik untuk si kecil. Camilan kini banyak lho yang mengandung gizi yang cukup untuk si kecil.</p>
<p align="justify">8. Jangan tawarkan minuman saat si kecil sedang makan karena ini akan membuat anak cepat kenyang. Berikan minumann saat si kecil sudah menghabiskan makanannya.</p>
<p align="justify">9. Berkreasilah dengan makanan. Anda bisa mencoba menu baru, cara penyajian yang baru dan disukai anak-anak. Misalnya dengan membuat bento untuk bekal makan siangnya. Ini akan membuat anak-anak menyukai makanannya.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/124/tips-menghadapi-anak-pemilih-makanan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>ASI vs Susu Formula</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/122/asi-vs-susu-formula/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/122/asi-vs-susu-formula/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 02:35:22 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibu dan Balita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=122</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Kita sering mendengar kampanye agar tiap ibu yang baru melahirkan memberikan ASI pada sang buah hati, bahkan sebisa mungkin ASI eksklusif, yaitu ASI tanpa makanan lain pendamping ASI selama setidaknya empat bulan pertama usia bayi. ASI memang makanan yang paling cocok untuk bayi manusia, demikian pula halnya dengan susu &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" id="irc_mi" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_4oqplwvp1BU/SS7LrR0jnBI/AAAAAAAAAIc/FyAv2BxnliE/s400/asi+blog.jpg" width="393" height="393" /></p>
<p>Kita sering mendengar kampanye agar tiap ibu yang baru melahirkan memberikan ASI pada sang buah hati, bahkan sebisa mungkin ASI eksklusif, yaitu ASI tanpa makanan lain pendamping ASI selama setidaknya empat bulan pertama usia bayi. ASI memang makanan yang paling cocok untuk bayi manusia, demikian pula halnya dengan susu sapi, tentunya paling cocok untuk bayi sapi, dan bukan bayi manusia. Untuk lebih meyakinkan, berikut beberapa keunggulan ASI dibanding dengan susu formula.</p>
<p>Sumber gizi sempurna</p>
<p><strong>ASI : </strong>Mengandung zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. Antara lain, faktor pembentuk sel-sel otak, terutama DHA, dalam kadar tinggi. ASI juga mengandung <em>whey </em> (protein utama dari susu yang berbentuk cair) lebih banyak daripada <em> casein </em> (protein utama dari susu yang berbentuk gumpalan) dengan perbandingan 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan nprotein ASI lebih mudah diserap oleh tubuh bayi.</p>
<p><strong>Susu formula : </strong> Tidak seluruh zat gizi yang terkandung di dalamnya dapat diserap oleh tubuh bayi. Misalnya, protein susu sapi tidak mudah diserap karena mengandung lebih banyak casein. Perbandingan whey dan casein dalam susu sapi adalah 20 : 80.</p>
<p>Mudah dicerna</p>
<p><strong>ASI : </strong> Pembentukan enzim pencdrnaan bayi baru sempurna pada usia kurang dari 5 bulan. ASI mudah dicerna bayi karena mengandung enzim-enzim yang dapat membantu proses pencernaan.</p>
<p><strong>Susu formula : </strong> sulit dicerna karena tidak mengandung enzim pencernqaan. Akibatnya, lebih banyak sisa pencernaan yang dihasilkan dari proses metabolisme (proses pembakaran zat-zat di dalam tubuh menjadi energi, sel-sel baru, dan lain-lain) yang membuat ginjal bayi harus bekerja keras.</p>
<p>Komposisi sesuai kebutuhan</p>
<p><strong>ASI : </strong> Komposisi zat gizi ASI sejak hari pertama menyusui biasanya berubah dari hari ke hari. Misalnya kolostrum (cairan bening berwarna kekuningan yang biasanya keluar pada awal kelahiran) terbukti mempunyai kadar protein yang lebih tinggi, serta kadar lemak dan laktosa (gula susu) yang lebih rendah dibandingkan ASI <em>mature </em> (ASI yang keluar hari ke-10 setelah melahirkan). Kandungan kolostrum yang seperti ini akan membantu system pencernaan bayi baru lahir yang memang belum berfungsi optimal. Selain itu komposisi ASI pada saat mulai menyusui ( <em>fore milk </em>) berbeda dengan komposisi pada akhir menyusui ( <em>hind milk </em>). Kandungan protein fore milk (berwarna bening dan encer) tinggi, tetapi kandungan lemaknya rendah bila dibandingkan dengan hind milk (berwarna putih dan kental). Makanya, jangan terlalu cepat memindahkan bayi untuk menyusu pada payudara yang lain, bila ASI pada payudara yang sedang diisapnya belum habis.</p>
<p><strong>Susu formula : </strong> komposisi zat gizinya selalu sama untuk setiap kali minum (sesuai aturan pakai).</p>
<p>Mengandung zat pelindung</p>
<p><strong>ASI : </strong> Mengandung banyak zat pelindung, antara lain immunoglobulin dan sel-sel darah putih hidup. Selain itu, ASI mengandung faktor bifidus. Zat ini penting untuk merangsang pertumbuhan bakteri <em>Lactobacillus bifidus </em> yang membantu melindungi usus bayi dari peradangan atau penyakit yang ditimbulkan oleh infeki beberapa jenis bakteri merugikan, seperti keluarga <em>coli </em>.</p>
<p><strong>Susu formula : </strong> hanya sedikit mengandung immunoglobulin, dan sebagian besar merupakan jenis yang “salah” (tidak dibutuhkan oleh tubuh bayi,. Selain itu, tidak mengandung sel-sel darah putih dan sel-sel lain dalam keadaan hidup.</p>
<p>Cita rasa bervariasi</p>
<p><strong>ASI : </strong>cita rasa ASI bervariasi sesuai dengan jenis senyawa atau zat yang terkandung di dalam makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu.</p>
<p><strong>Susu formula : </strong> bercita rasa sama dari waktu ke waktu.<br />
(Sumber : Majalah Ayahbunda, No. 19, tahun 2004)</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/122/asi-vs-susu-formula/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Ibu Hamil Puasa?</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/119/bolehkah-ibu-hamil-puasa/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/119/bolehkah-ibu-hamil-puasa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 02:28:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ibu dan Balita]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=119</guid>

					<description><![CDATA[  Sisi (26 tahun) sedang bimbang, pasalnya bulan ramadhan sebentar lagi akan tiba. Sisi masih bingung apakah dirinya akan berpuasa atau tidak mengingat kondisinya yang sedang hamil muda. Sisi tidak sendiri, karena masih banyak ibu hamil bahkan para suami dan orang-orang terdekat ibu hamil masih memperdebatkan boleh tidaknya ibu hamil &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #339966;"><strong> </strong></span></p>
<p align="justify"><input type="image" height="200" src="http://mediasehat.com/artikel/image/window-bumil-puasa.jpg" width="200" align="left" />Sisi (26 tahun) sedang bimbang, pasalnya bulan ramadhan sebentar lagi akan tiba. Sisi masih bingung apakah dirinya akan berpuasa atau tidak mengingat kondisinya yang sedang hamil muda. Sisi tidak sendiri, karena masih banyak ibu hamil bahkan para suami dan orang-orang terdekat ibu hamil masih memperdebatkan boleh tidaknya ibu hamil berpuasa. Kebanyakan mereka khawatir jika ibu hamil berpuasa akan berpengaruh pada janin yang dikandungnya. Apakah benar begitu?</p>
<p>Puasa sebetulnya tidak berpengaruh pada kesehatan janin. Yang menjadi masalah adalah justru kesehatan ibu hamil itu sendiri saat menjalankan ibadah puasa. Jika ibu hamil merasa sehat dan mampu untuk berpuasa maka lakukanlah puasa. Namun jika tidak dalam kondisi fit sebaiknya jangan berpuasa.</p>
<p>Karena sebetulnya berpuasa hanya soal perpindahan waktu makan saja. Untuk itu, ibu hamil harus pintar-pintar mengatur asupan nutrisi agar nutrisi yang dibutuhkan tubuhnya dan janinnya tercukupi selama berpuasa. Misalnya dengan tetap mengkonsumsi empat sehat lima sempurna, minum suplemen atau vitamin, minum air putih yang banyak antara waktu berbuka hingga sahur.</p>
<p>Tapi ternyata tidak semua ibu hamil boleh berpuasa loh. Dalam kasus tertentu ibu hamil tidak diperbolehkan berpuasa misalnya ibu hamil yang menderita kencing manis, hipertensi, pendarahan, dehidrasi atau kekurangan cairan dan mengalami gangguan pencernaan.</p>
<p>Untuk itu, berikut ini adalah tips bagi ibu hamil dalam menjalankan puasa ramadhan.</p>
<p>1. Saat sahur, makanlah makanan yang mengandung protein dan lemak dalam porsi yang cukup. Misalnya daging yang mengandung kalori dan protein tinggi.</p>
<p>2. Upayakan mengkonsumsi vitamin yang mengandung zat besi dan vitamin c.</p>
<p>3. Jangan minum atau makan yang manis terlalu banyak karena akan membuat tubuh lemas di siang hari akibat insulin shock.</p>
<p>4. Banyak minum air putih yaitu sebanyak 2 liter dan minumlah segelas susu hangat.</p>
<p>5. Saat berbuka, hindari minuman dingin karena minuman dingin akan memperberat kerja lambung. Minumlah minuman yang hangat seperti teh manis untuk mengembalikan kadar gula yang turun.</p>
<p>6. Makanlah dalam porsi kecil terlebih dahulu karena makan terlalu banyak dalam sekali waktu akan membuat tubuh lemas.</p>
<p>7. Setelah salat tarawih, jika Anda masih lapar. Makanlah secukupnya dengan asupan nutrisi yang seimbang. Misalnya banyak makan sayuran dan daging.</p>
<p>Batalkan puasa Anda jika Anda mengalami muntah-muntah, berkeringat dingin, gemetar, mimisan, diare, terlalu lemas dan pusing.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selamat berpuasa!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh:</p>
<p>Maria Ulfa Eleven Safa, S.Sos</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/119/bolehkah-ibu-hamil-puasa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
