<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Budaya &#8211; Perpustakaan Sidodadi (TBM)</title>
	<atom:link href="https://perpustakaansidodadi.com/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://perpustakaansidodadi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Mar 2018 01:57:27 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.8</generator>

<image>
	<url>https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2021/02/ico-perpustakaan-sidodadi-hargomulyo-pripih.jpg</url>
	<title>Budaya &#8211; Perpustakaan Sidodadi (TBM)</title>
	<link>https://perpustakaansidodadi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Bagaimana Mengelola Perpustakaan Desa ?</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/5109/bagaimana-mengelola-perpustakaan-desa/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/5109/bagaimana-mengelola-perpustakaan-desa/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Mar 2018 01:57:27 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[info perpustakaan]]></category>
		<category><![CDATA[Informasi Umum]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://perpustakaansidodadi.com/?p=5109</guid>

					<description><![CDATA[Hadirnya sebuah perpustakaan di desa diharapkan mampu meningkatkan minat dan kemampuan baca masyarakat desa. Selain itu, perpustakaan desa didirikan sebagai sarana umum yang digunakan untuk menyelenggarakan aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan desa. Dalam hal ini, keberadaaan perpustakaan desa menjadi sangat penting peranannya dalam menopang keberlangsungan sistem pendidikan yang ada &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2018/03/WhatsApp-Image-2018-03-14-at-08.55.22.jpeg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-5110 aligncenter" src="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2018/03/WhatsApp-Image-2018-03-14-at-08.55.22.jpeg" alt="" width="498" height="703" srcset="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2018/03/WhatsApp-Image-2018-03-14-at-08.55.22.jpeg 717w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2018/03/WhatsApp-Image-2018-03-14-at-08.55.22-213x300.jpeg 213w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2018/03/WhatsApp-Image-2018-03-14-at-08.55.22-700x988.jpeg 700w" sizes="(max-width: 498px) 100vw, 498px" /></a>Hadirnya sebuah perpustakaan di desa diharapkan mampu meningkatkan minat dan kemampuan baca masyarakat desa. Selain itu, perpustakaan desa didirikan sebagai sarana umum yang digunakan untuk menyelenggarakan aktivitas yang berkaitan dengan kegiatan pembangunan desa. Dalam hal ini, keberadaaan perpustakaan desa menjadi sangat penting peranannya dalam menopang keberlangsungan sistem pendidikan yang ada (UU No 43 tahun 2007).</p>
<p>Namun, dalam pelaksanaannya, peranan perpustakaan desa masih belum optimal. Kendala utama yang mungkin dihadapi oleh pengelola perpustakaan desa adalah belum adanya pedoman khusus yang dapat digunakan sebagai acuan pengelolaan perpustakaan desa. Oleh karena itu, buku <strong>Menuju Sukses Tata Kelola Perpustakaan Desa </strong>hadir sebagai pedoman pengelolaan perpustakaan desa. Buku yang terbit pada awal Maret 2018 ini ditulis oleh R. Tri Haryono, S.H, M.M. Beliau merupakan lulusan Magister Manajemen di Universitas Janabadra Yogyakarta. Beliau juga pernah menempuh studi sarjana S-1 di Jurusan Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.</p>
<p>Buku <strong>Menuju Sukses Tata Kelola Perpustakaan Desa </strong>ditulis berdasarkan pengalaman dan pengetahuan penulis dalam mengelola perpustakaan desa, terutama ilmu manajemen yang diperoleh penulis selama studi S-2 di bidang Manajemen. Selain itu, buku ini juga ditulis berdasarkan sumber bahan pustaka yang relevan serta peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya yang berhubungan dengan pengelolaan perpustakaan desa.</p>
<p>Meskipun buku <strong>Menuju Sukses Tata Kelola Perpustakaan Desa </strong>hanya berisikan 180 halaman dengan dimensi buku 14,5 x 20,5 cm, konten buku ini dapat dikatakan sangat lengkap. Konten utama yang dapat ditemukan di dalam buku ini di antaranya adalah tata kelola perpustakaan desa, koleksi perpustakaan desa, promosi perpustakaan desa, wisata edukatif perpustakaan desa, dan pembinaan perpustakaan desa. Buku ini diharapkan mampu membantu para pengelola perpustakaan desa dalam meningkatkan peranan perpustakaan desa menjadi lebih optimal.</p>
<p>Sebagai pengelola perpustakaan desa, Anda dapat mendapatkan buku <strong>Menuju Sukses Tata Kelola Perpustakaan Desa</strong> di toko buku terdekat. Dengan memiliki buku ini, Anda akan mendapatkan gambaran mengenai perpustakaan desa yang ideal berikut dengan strategi mempromosikan perpustakaan desa agar memiliki banyak pengunjung. Jadi, tunggu apa lagi ? Milikilah segera buku <strong>Menuju Sukses Tata Kelola Perpustakaan Desa </strong>ini !</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/5109/bagaimana-mengelola-perpustakaan-desa/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PESONA WISATA  KABUPATEN KULONPROGO : Wisata Waduk Sermo</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/744/pesona-wisata-kabupaten-kulonprogo-wisata-waduk-sermo/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/744/pesona-wisata-kabupaten-kulonprogo-wisata-waduk-sermo/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2014 04:55:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=744</guid>

					<description><![CDATA[Pemandangan hijau royo-royonya perbukitan yang mengelilingi Waduk Sermo, merupakan  daya tarik objek wisata air dan alam ini. Terletak di Dusun Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Waduk Sermo banyak menyimpan keindahan sebagai objek wisata minat khusus.   Waduk Sermo selain sebagai objek wisata juga sebagai suplai dan konservasi mata air dengan &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/06/DSC_0189.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-745 aligncenter" alt="DSC_0189" src="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/06/DSC_0189.jpg" width="400" height="267" srcset="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/06/DSC_0189.jpg 400w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/06/DSC_0189-300x200.jpg 300w" sizes="(max-width: 400px) 100vw, 400px" /></a></p>
<div><span style="color: #993300;">Pemandangan hijau royo-royonya perbukitan yang mengelilingi Waduk Sermo, merupakan  daya tarik objek wisata air dan alam ini. Terletak di Dusun Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Waduk Sermo banyak menyimpan keindahan sebagai objek wisata minat khusus.</span></div>
<div><span style="color: #993300;"> </span></div>
<div><span style="color: #993300;">Waduk Sermo selain sebagai objek wisata juga sebagai suplai dan konservasi mata air dengan cakupan 7.152 hektar. Sementara untuk genangan waduk yang menawarkan kesejukan dan cocok untuk bersantai tersebut mencapai 157 hektar. Dengan perahu wisata wisatawan bisa berkeliling menikmati panorama indah.</span></div>
<div></div>
<div><span style="color: #993300;">Untuk menikmati objek wisata ini, pengunjung juga bisa membawa peralatan pancing, karena dalam air waduk hidup berbagai macam jenis ikan seperti nila, tombro, gurami, lele dan bader. Tim SAR siaga penuh untuk menjamin rasa aman wisatawan. Ingin santai, berbagai warung makan dengan menu tradisional khas Menoreh siap melayani wisatawan.</span></div>
<div><span style="color: #993300;"> </span></div>
<div><span style="color: #993300;">Menuju objek wisata Waduk Sermo hanya membutuhkan waktu 15 hingga 20 menit dari Kota Wates. </span></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/744/pesona-wisata-kabupaten-kulonprogo-wisata-waduk-sermo/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sejarah Sekaten Yogyakarta</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/405/sejarah-sekaten-yogyakarta/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/405/sejarah-sekaten-yogyakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2013 04:39:58 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=405</guid>

					<description><![CDATA[Jika anda datang ke Jogja, saat ini tengah berlangsung perayaan Sekaten yang berlangsung hingga 15 Februari mendatang. Ada beragam suguhan yang bisa anda nikmati. Di antaranya adalah panggung budaya. Berbagai suguhan kesenian dari yang klasik hingga yang modern, disuguhkan setiap malam. Bagi penikmatin kesenian tradisional jawa, anda bisa menikmati ketoprak &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/11/Sekaten-.jpg"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-406" alt="Sekaten-" src="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/11/Sekaten-.jpg" width="512" height="346" srcset="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/11/Sekaten-.jpg 512w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/11/Sekaten--300x202.jpg 300w" sizes="(max-width: 512px) 100vw, 512px" /></a></p>
<p>Jika anda datang ke Jogja, saat ini tengah berlangsung perayaan <strong>Sekaten</strong> yang berlangsung hingga 15 Februari mendatang. Ada beragam suguhan yang bisa anda nikmati. Di antaranya adalah panggung budaya. Berbagai suguhan kesenian dari yang klasik hingga yang modern, disuguhkan setiap malam. Bagi penikmatin kesenian tradisional jawa, anda bisa menikmati ketoprak humor dan wayang orang, wayang kulit. Ada pula kesenian khas keraton Yogyakarta. Anda juga bisa menyaksikan berbagai kesenian modern seperti qasidah, pentas musik, dan lain-lain.<br />
Selain berbagai pertunjukan, <strong>prosesi Sekaten</strong> juga dimeriahkan dengan pasar malam. Di sini berbagai jenis makanan, pakaian, barang rumah tangga, berbagai permainan dan lain-lain bisa anda nikmati. Dan para pedagang yang datang tidak hanya dari wilayah Yogyakarta, melainkan juga dari berbagai daerah. Ketak telor misalnya, makanan khas betawi ini ikut serta meramaikan Sekaten</p>
<p>Sekaten merupakan perpaduan antara kegiatan dakwah Islam dan seni. <strong>Sejarah Sekaten</strong> menyebutkan, bahwa Sunan Kalijaga sering menggunakan kesenian karawitan (gamelan Jawa) untuk memikat masyarakat luas agar datang dan menikmati pergelaran karawitan-nya dengan menggunakan dua perangkat gamelan Kanjeng Kyai Sekati. Di tengah pagelaran diisi khotbah dan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Pagelaran seni karawitan sendiri bertepatan dengan perayaan maulid Nabi Muhammad saw.</p>
<p><a href="http://maxtroholidays.com/blog/sejarah-dan-tradisi-sekaten-yogyakarta.html/attachment/sekaten-jogja-_maxtro-tour-and-travel" rel="attachment wp-att-2422"><img loading="lazy" decoding="async" alt="Sekaten Jogja _maxtro tour and travel" src="http://maxtroholidays.com/wp-content/uploads/2012/12/Sekaten-Jogja-_maxtro-tour-and-travel.jpg" width="320" height="213" /></a></p>
<p>Bagi mereka yang bertekad untuk memeluk agama Islam, diwajibkan mengucapkan kalimat Syahadat. Dari kata syahadatain inilah muncul <strong>istilah Sekaten</strong> sebagai akibat perubahan pengucapan. Bagi masyarakat Yogyakarta meyakini bahwa dengan merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad saw, akan mendapat pahala dari Yang Maha Agung dan dianugerahi awet muda. Dalam prosesinya, mereka diharuskan menguyah sirih di halaman Masjid Agung Yogyakarta, terutama pada hari pertama dimulainya perayaan Sekaten. Tak heran jika hingga kini banyak dijumpai para penjual sirih dengan ramuannya dan nasi gurih dengan berbagai lauk-pauknya.</p>
<p>Di saat kerajaan Islam bergeser ke Mataram dan ketika kerajaan Islam Mataram terbagi dua (Kasultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta), <strong>perayaan Sekaten</strong> tetap digelar secara rutin tiap tahun sebagai warisan budaya Islam. Perayaan sekaten yang terus berkembang dari tahun ke tahun pada dasarnya terdapat tiga pokok inti yang antara lain: pertama, dibunyikannya dua perangkat gamelan (Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu) di Kagungan Dalem Pagongan Masjid Agung Yogyakarta selama 7 hari berturut-turut, kecuali Kamis malam sampai Jumat siang; kedua, peringatan hari lahir Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 11 Mulud malam, bertempat di serambi Kagungan Dalem Masjid Agung, dengan Bacaan riwayat Nabi oleh Abdi Dalem Kasultanan, para kerabat, pejabat, dan rakyat, dan ketiga, pemberian sedekah Ngarsa Dalem Sampean Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan, berupa Hajad Dalem Gunungan dalam upacara Garebeg sebagai upacara puncak sekaten.</p>
<p><strong>Puncak perayaan Sekaten</strong> dimulai pada tanggal 6 Maulud (Rabiulawal) saat sore hari, ditandi dengan dikeluarkannya gamelan Kanjeng Kyai Sekati dari tempat persemayamannya, Kanjeng Kyai Nogowilogo ditempatkan di Bangsal Trajumas dan Kanjeng Kyai Guntur Madu di Bangsal Srimanganti. Dua pasukan abdi dalem prajurit bertugas menjaga gamelan pusaka tersebut, yaitu prajurit Mantrijero dan prajurit Ketanggung. Tepat pada pukul 24.00 WIB, gamelan Sekaten dipindahkan ke halaman Masjid Agung Yogyakarta dengan dikawal kedua pasukan abdi dalem prajurit Mantrijero dan Ketanggung. Kanjeng Kyai Guntur Madu ditempatkan di pagongan sebelah selatan gapuran halaman Masjid Agung dan Kanjeng Kyai Nogowilogo di pagongan sebelah utara. Di halaman masjid tersebut, gamelan Sekaten dibunyikan terus menerus siang dan malam selama enam hari berturut-turut, kecuali pada malam Jumat hingga selesai sholat Jumat siang harinya.</p>
<p>Tepat pada tanggal 11 Maulud (Rabiulawal), mulai pukul 20.00 WIB, Sri Sultan menghadiri upacara Maulud Nabi Muhammad SAW bertempat di Masjid Agung. Peryaan mauled nabi ini ditandai dengan pembacaan naskah riwayat maulud Nabi yang dibacakan oleh Kyai Pengulu. Upacara tersebut selesai pada pukul 24.00 WIB, dan setelah semua selesai, perangkat gamelan Sekaten diboyong kembali dari halaman Masjid Agung menuju ke Kraton. Pemindahan ini merupakan tanda bahwa upacara Sekaten telah berakhir.</p>
<p><strong>Sekaten </strong>adalah<strong> warisan budaya Islam</strong> yang tidak sebatas seremonial. Ada banyak nilai yang terkandung di dalamnya, dari mulai ketauladanan nabi dan keagungan ajarannya yang harus kita jadikan acuan hidup, hingga menjaga eksistensi budaya Islam yang tumbuh berdapingan dengan</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/405/sejarah-sekaten-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kirab Miyos Gongso YOGYAKARTA</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/401/kirab-miyos-gongso-yogyakarta/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/401/kirab-miyos-gongso-yogyakarta/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2013 04:35:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=401</guid>

					<description><![CDATA[Iringan gerimis hujan mengawal kedua perangkat Gamelan Pusaka Sekaten, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo mulai dipersiapkan dipindahkan menuju Pagongan di Masjid Gedhe. Kirab pemindahan dikawal oleh dua bregada prajurit, yaitu Bregada Prajurit Mantrijeron dan Patangpuluhan, tidak ketinggalan pula para Panji dari semua bregada prajurit Keraton. Turut serta sejumlah abdi dalem &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/11/300_200__miyosgongso_00118012013134311.jpg"><img loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-402 alignleft" alt="300_200__miyosgongso_00118012013134311" src="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/11/300_200__miyosgongso_00118012013134311.jpg" width="439" height="200" /></a></p>
<p>Iringan gerimis hujan mengawal kedua perangkat Gamelan Pusaka Sekaten, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo mulai dipersiapkan dipindahkan menuju Pagongan di Masjid Gedhe. Kirab pemindahan dikawal oleh dua bregada prajurit, yaitu Bregada Prajurit Mantrijeron dan Patangpuluhan, tidak ketinggalan pula para Panji dari semua bregada prajurit Keraton. Turut serta sejumlah abdi dalem setingkat Bupati, abdi dalem Keprajan dan abdi dalem Punokawan.</p>
<p>Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, Kirab Miyos Gongso dimulai dari Regol Brojonolo menuju Masjid Gedhe melewati Supit Urang, Sitihinggil, Pagelaran dan Alun-alun, dan langsung membelok kebarat menuju Regol Masjid Gedhe. Kirab Miyos Gongso yang membawa perangkat Gamelan Pusaka Sekaten, yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo merupakan tradisi yang sudah berlangsung lama dari sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah, dari jaman Kasultanan Demak hingga berdiri Keraton Kasultanan Yogyakarta.</p>
<p>Tradisi Miyos Gongso bermula dari kejatuhan Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka yang diakibatkan serangan dari Kerjaan Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Tidak butuh waktu lama, 1403 Saka berdirilah Kerajaan Kasultanan Demak  dengan Raden Patah sebagai raja pertama yang bergelar Sultan Syah Alam Akbar. Untuk menunjukkan keberadaannya sebagai pusat kekuasaan baru, Kasultanan Demak mengambil sisa-sisa kejayaan dan kekayaan Majapahit, termasuk Gamelan Pusaka Kyai Sekar Delima.</p>
<p>Untuk menunjukkan keberadaannya, Kerajaan Demak menggelar Sekaten sebagai komunikasi politik antara pihak kerajaan dengan rakyat yang berada di wilayahnya. Untuk melengkapi gamelan tersebut, Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian menciptakan seperangkat gamelan yang diberinama Kyai Sekati. Satu perangkat lagi merupakan warisan Kerajaan Majapahit, yang kemudian diberi nama Nyai Sekati. Kedua perangkat gamelan Pusaka inilah yang selalu diperdengarkan dalam keramaian Sekaten.</p>
<p>Berjalannya waktu dengan diringi kejatuhan pusat-pusat kekuasaan di Jawa, tetap tidak menghilangkan tradisi Sekaten beserta Kirab Miyos Gongso yang diwariskan secara turun-temurun. Dimulai dari keruntuhan Kasultanan Demak, tradisi ini diwariskan oleh Kasultanan Pajang dan dilanjutkan Dinasti Mataram Islam sejak dari Kotagede, Kerta, Plered sampai dengan Kartasuro dan Surakarta.</p>
<p>Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari pada tahun 1755 &#8211;yang membagi Dinasti Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, sebagaimana wilayah-wilayah kekuasaan, pusaka-pusaka pun kemudian dibagi dua untuk masing-masing Keraton&#8211; tidak menghilangkan tradisi Sekaten dan Miyos Gongso yang merupakan warisan jaman Kasultanan Demak.</p>
<p>Setelah Perjanjian Giyanti terwujud, Kasunanan Surakarta mewarisi Gamelan Pusaka Kyai Sekati, sementara pasangannya Gamelan Pusaka Nyai Sekati diwarisi oleh Kasultanan Yogyakarta. Mengingat tradisi Gamelan Pusaka Sekaten bersifat sepasang, kedua kerajaan baru tersebut membuat duplikat Gamelan Pusaka yang tidak dimilikinya. Kasultanan Yogyakarta kemudian memiliki sepasang Gamelan Pusaka Sekaten, yaitu Nyai Sekati dan duplikat Kyai Sekati.</p>
<p>Atas dasar inisiatif Sri Sultan HB I, pasangan gamelan tersebut disempurnakan kembali dan diberikan nama baru. Gamelan Pusaka Nyai Sekati diberi nama baru Kyai Gunturmadu, sementara duplikat Gamelan Pusaka Kyai Sekati diberi nama Kyai Nogowilogo. Gunturmadu mengandung arti “turunnya anugerah“, sedangkan Nogowilogo memiliki makna “ kemenangan perang yang lestari”.</p>
<p>Dan menjelang tengah malam, sesampainya di depan Regol Masjid Gedhe, Kirab Miyos Gongso berhenti sejenak untuk melakukan upacara serah terima bersama seluruh pengiringnya. Setelah dilakukan upacara serah terima, bersama seluruh pengiringnya, kedua perangkat Gamelan Pusaka Sekaten langsung dibawa menuju Pagongan <em>(Pagongan adalah sebuah bangunan berbentuk panggung, yang secara khusus dipergunakan untuk menempatkan sekaligus memperdengarkan Gamelan Pusaka Sekaten pada setiap bulan Maulud. Sebagaimana Gamelan Pusaka Sekaten, bangunan Pagongan juga berjumlah sepasang, yang terletak di halaman depan Masjid Gedhe, pada sisi utara dan selatan. Gamelan Pusaka Kyai Gunturmadu selalu ditempatkan di Pagongan sebelah selatan, sementara Gamelan Pusaka Kyai Nogowilogo ditempatkan di Pagongan sebelah utara).</em></p>
<p>Bregada Prajurit Patangpuluh, mengawal Gamelan Pusaka Kyai Nogowilogo menuju Pagongan di sebelah Utara dan Bregada Prajurit Mantrijero, mengawal Gamelan Pusaka Kyai Gunturmadu menuju Pagongan di sebelah selatan. Sementara Di kedua bangunan Pagongan ini, kedua perangkat Gamelan Pusaka tersebut akan diperdengarkan terus-menerus setiap hari selama sepekan, kecuali pada waktu-waktu sholat dan pada malam Jum’at sampai dengan setelah Sholat Jum’at.<em><strong> (konten: aan ardian/kotajogja.com</strong></em><em><strong>) </strong></em></p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/401/kirab-miyos-gongso-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suku Tengger</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/195/suku-tengger/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/195/suku-tengger/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 03:47:26 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=195</guid>

					<description><![CDATA[Rona wajah yang memerah, kain sarung yang selalu dililitkan dilehernya, serta kupluk yang menjadi penutup kepala merupakan ciri khas Suku Tengger yang merupakan hasil adaptasi dari suhu gunung bromo yang begitu dingin. Suku Tengger merupakan sebuah suku yang tinggal didaerah pedalaman pegunungan bromo yang menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Rona wajah yang memerah, kain sarung yang selalu dililitkan dilehernya, serta kupluk yang menjadi penutup kepala merupakan ciri khas Suku Tengger yang merupakan hasil adaptasi dari suhu gunung bromo yang begitu dingin. Suku Tengger merupakan sebuah suku yang tinggal didaerah pedalaman pegunungan bromo yang menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Malang.</p>
<p>Keberadaan Suku Tengger berdasarkan legenda yang memasyarakat, suku tengger berasal dari keturunan Roro Anteng dan Joko Seger, nama “Tengger” sendiri diambil dari akhiran “Teng” dari Roro Anteng dan “Ger” dari Joko Seger. Suku tengger merupakan penduduk asli jawa yang pada saat itu hidup pada masa pemerintahan kerajaan Majapahit. Saat masuknya Islam ke pulau jawa terjadi persinggungan dengan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau jawa, yang salah satunya kerajaan majapahit yang merasa terdesak dengan kedatangan pengaruh Islam, kemudian melarikan diri ke wilayah Bali dan pedalaman Gunung Bromo dan Semeru. Pasangan Roro Anteng dan Joko Seger yang melarikan diri ke pedalaman Bromo, kemudian menjadi penguasa daerah tersebut dan diberi nama “Tengger”.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_yrh582JL-Xs/TNWbjtobcKI/AAAAAAAAA6I/ZoeR9-ga1pU/s1600/Suku+Tengger+3.jpg" /></p>
<p>Warga Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani sayuran. Kesuburan lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di antara dua gunung yang masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung Semeru. Pertanian yang mereka hasilkan dijual keluar desanya dengan bantuan pengepul yang yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari peggunungan tengger. Selain bertani, ada sebagian masyarakat Tengger yang berprofesi menjadi pemandu wisatawan di Bromo. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menawarkan kuda yang mereka miliki untuk disewakan kepada wisatawan.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_yrh582JL-Xs/TNWcCAnZhkI/AAAAAAAAA6M/BKFwNp6Blmk/s400/Suku+Tengger+5.jpg" /></p>
<p>Bahasa yang biasa di pergunakan merupakan bahasa jawa kuno yang diyakini sebagai dialek asli orang Majapahit. Suku Tengger merupakan salah satu sub kelompok orang Jawa yang mengembangkan variasai budaya yang khas. Kekhasan ini bisa dilihat dari bahasanya, dimana mereka menggunakan bahasa Jawa dialek tengger, tanpa tingkatan bahasa sebagaimana yang ada pada tingkatan bahasa dalam bahasa Jawa pada umumnya.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_yrh582JL-Xs/TNWdETIyCKI/AAAAAAAAA6Q/5h-5SU2U7d4/s1600/Suku+Tengger+2.jpg" /></p>
<p>Masyarakat tengger mayoritas memeluk agama Hindu, namun agama Hindu yang dianut bukan Hindu Dharma seperti yang ada di Bali, Hindu yang berkembang di masyarakat tengger adalah Hindu Mahayana. Bagi suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada (Kasodo). Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo.</p>
<p>Suku Tengger kaya akan kepercayaan dan upacara adat, diantaranya ialah:</p>
<p>Upacara Adat Karo : Dilakukan pada bulan Puso, yang merupakan hari raya terbesar masyarakat Tengger, tujuan penyelenggaraan upacara karo adalah Mengadakan pemujaan terhadap Sang Hyang Widi Wasa dan menghormati leluhurnya, memperingati asal usul manusia, untuk kembali pada kesucian.</p>
<p>Upacara Pujan Kapat : Jatuh pada bulan keempat menurut tahun saka, bertujuan untuk memohon berkah keselamatan serta selamat kiblat, yaitu pemujaan terhadap arah mata angin.</p>
<p>Upacara Pujan Kawolu : Jatuh pada bulan kedelapan tahun saka. Masyarakat mengirimkan sesaji ke kepala desa, dengan tujuan untuk keselamatan bumi, air, api, angin, matahari, bulan dan bintang.</p>
<p>Upacara Pujan Kasanga : Jatuh pada bulan sembilan tahun saka. Masyarakat berkeliling desa dengan membunyikan kentongan dengan membawa obor. Tujuan upacara ini adalah memohon kepada Sang Hyang Widi Wasa untuk keselamatan Masyarakat Tengger.</p>
<p>Upacara Pujan Kasada : Upacara ini disebut juga sebagai Hari Raya Kurban. Biasanya lima hari sebelum upacara Yadnya Kasada.</p>
<p>Upacara Bari’an : Upacara ini dilakukan setelah terjadi bencana alam, dilaksanakan 5-7 hari setelah bencana itu terjadi. Upacara Bari’an juga dilaksanakan sebagai wujud ungkapan syukur kepada Sang Hyang Widi.</p>
<p>Upacara Unan-unan : Diadakan hanya setiap lima tahun sekali. Tujuannya untuk melalukakan penghormatan terhadap Roh Leluhur. Dalam upacara ini selalu diadakan penyembelihan binatang ternak yaitu Kerbau. Kepala Kerbau dan kulitnya diletakkan diatas ancak besar yang terbuat dari bambu, diarak ke sanggar pamujan.</p>
<p>Upacara Entas-entas : Dimaksudkan untuk menyucikan arwah (roh) orang yang telah meninggal dunia supaya orang tersebut masuk surga, dilakukan pada hari ke 1000 setelah orang tersebut meninggal.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/195/suku-tengger/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Suku OSING dan Kehidupannya</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/192/suku-osing-dan-kehidupannya/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/192/suku-osing-dan-kehidupannya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 03:45:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=192</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Predikat Using dilekatkan kepada masyarakat Blambangan karena kecenderungan mereka menarik diri dari pergaulan dengan masyarakat pendatang pasca perang Puputan Bayu. Pendudukan VOC di Blambangan tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja untuk menjalankan usaha-usaha eksploitasi di Blambangan. Oleh karena itu, kemudian VOC mendatangkan banyak pekerja dari Jawa Tengah dan Madura &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div><img loading="lazy" decoding="async" alt="" src="http://www.permatabangsa.web.id/wp-content/uploads/2012/11/Suku-Osing.jpeg" width="400" height="253" /></div>
<p>Predikat Using dilekatkan kepada masyarakat Blambangan karena kecenderungan mereka menarik diri dari pergaulan dengan masyarakat pendatang pasca perang Puputan Bayu. Pendudukan VOC di Blambangan tentu saja memerlukan banyak tenaga kerja untuk menjalankan usaha-usaha eksploitasi di Blambangan. Oleh karena itu, kemudian VOC mendatangkan banyak pekerja dari Jawa Tengah dan Madura dalam jumlah besar,sementara sisa-sisa masyarakat Blambangan /wong osing yang mayoritas telah memilih untuk mengucilkan diri di pegunungan.</p>
<p>Sesekali interaksi terjadi, antara masyarakat asli dan pendatang. Dalam interaksi tersebut, masyarakat asli acapkali menggunakan istilah “sing” atau “hing” yang berarti “tidak”. Dari sanalah penamaan Wong Using berasal. Sementara masyarakat asli menyebut kaum pendatang dengan istilah “Wong Kiye”. Selain perkataan “tidak” yang mencirikan penolakan interaksi dengan pendatang, masyarakat Using juga menggunakan peristilahan yang “kasar” seperti asu, celeng, luwak, bajul atau bojok. Menurut Hasnan Singodimayan, peristilahan itu selain sebagai bahasa sandi juga mempertegas penolakan masyarakat Using terhadap berbagai bentuk “penjajahan” yang dialami dalam perjalanan sejarah mereka.</p>
<p>Penduduk sisa-sisa rakyat Blambangan yang mendiami wilayah Kabupaten Banyuwangi, sebagian Jember, Bondowoso, Situbondo dan Lumajang disebut masyarakat Using. Dulu sebelum dibakukan, banyak menulis dengan kata “Osing” kadang juga “Oseng”, namun setelah diurai secara fonetis oleh pakar Linguisitik dari Universitas Udayana Bali (Prof Heru Santoso), diperoleh kesepakatan resmi dengan menulis kata “Using” yang berarti “Tidak”. Pertanyaannya, kenapa orang asli Blambangan disebut Using? Penyebutan itu, sebetulnya bukan permintaan orang-orang Blambangan. Ini lebih merupakan ungkapan prustasi dari penjajah Belanda saat itu, karena selalu gagal membunjuk orang-orang sisa Kerajaan Blambangan untuk bekerja sama. Kendati pimpinan mereka sudah dikalahkan, tetapi tidak secara otomatis menyerah kepada musuh. Sikap yang sama, juga ditujukkan saat awal-awal Orde Baru berkuasa, orang Banyuwangi paling susah diajak kerja sama, atau menjadi pegawai Negeri. Mereka masih menganggap, pemerintahan yang ada tidak jauh berbeda dengan penjajah Belanda.</p>
<p>Meski akhirnya sikap “Sing” ini berangsur-angsur melunak, dengan banyaknya orang Using yang menjadi pegawai negeri, atau masuk ranah-ranah publik yang sebelumnya tidak pernah dilakukan, namun nama “Using” sudah terlanjur melekat. Bahkan tumbuh kebanggan kolektif, bila disebut sebagai orang Using. Setelah generasi-generasi muda itu, tahu sejarah bagaimana nenek moyangnya berjuang mati-matian, mempertahankan wilayah dan harga diri.</p>
<p>Perang “Puputan” atau juga dikenal perang habis-habisan, akhirnya dijadikan tonggak hari lahirnya Kabupaten Banyuwangi. Pertimbangannya, semangat heroik dari tentara Blambangan ini diharapkan bisa menjadi tauladan. Bahkan seorang penulis asal Belanda menyebutkan, jika rakyat Blambangan hanya tinggal berapa ribu saja. Sebagai bentuk penekanan terhadap warkat Blambangan, kepala laskar Blambangan yang kalah perang, ditancapkan di sepanjang jalan. Meski demikian, sisa rakyat Blambangan tidak langsung menyerah dan tunduk kepada musuh. Mereka memilih mengungsi ke gunung atau membentuk kelompok-kelompok kecil. Mereka berkomunikasi menggunakan bahasa-bahasa sandi, berupa nama-nama bintang. Kelang bahasa sandi ini menjadi umpatan khas wong Using. Selain itu, bahasa Using dikenal mempunyai ratusan dialek. Setiap kampung-kampung Using, bisa diidentifikasi dari cara mereka berbicara dan berpakaian. Misalnya dalam satu pertemuan besar di sebuah lapangan, maka mereka akan mudah mengenali orang Using dari daerah mana, dari cara mereka berbicara.</p>
<p>Selain itu, ternyata kampung-kampung Using tidak ada yang menghadap jalan raya. Umumnya kampung Using itu merupakan jalan kecil dari sebuah jalan raya beraspal, kemudian di kawasan itu berjubel pemukiman. Meski berada di pedesaan, namun kampung-kampung Using terkenal padat. Ini ternyata tidak lepas dari sejarah masa lalu wong Using yang selalu dilanda ketakutan, pasca kekalahan laskar Blambangan pada Perang Puputan Bayu. Mereka selalu berkelompok dan selalu mewaspadai kedatangan orang asing.</p>
<p>Akibat tidak mau bekerja sama dengan Belanda, praktis Wong Using mengkonsentrasikan hidupnya di sektor pertanian. Sementara sentra-sentra perekonomian lain di Banyuwangi, justru banyak ditempati orang di luar Banyuwangi. Sektor perkebunan yang rata-rata saat itu milik Belanda dan Inggris, banyak dikerjakan orang Madura. Saat itu, wong Using sangat menolak keras kerja sama dengan Belanda dan pemilik kebun. Sektor laut, justru banyak dilakukan orang-orang dari Madura, seperti di Muncar. Sektor pemerintahan bisa ditebak, tidak ada orang-orang Using yang mau bekerja di sektor ini. Meski diantara mereka ada yang sekolah hingga perguruan tinggi, namun tidak begitu saja orang-orang Using mengijinkan anaknya menjadi pegawai negeri. Mereka masih beranggapan, pemerintahan itu adalah penjajah, karena melanjutkan pemerintahan yang dibentuk Belanda. Sikap menolak bekerjasama dengan musuh ini, bisa dilihat dari keberadaan Pabrik Gula. Meski Banyuwangi merupakan wilayah pertanian yang subur, namun Belanda saat itu tidak berhasil memaksa warga Banyuwangi untuk menanam tebu sebagai pemasok pabrik gula. Padahal di Jember dan Situbondo, bertengger sejumlah pabrik gula. Nyaris kehidupan feodal hanya tumbuh di perkebunan, seperti di wilayah Glenmore dan Kalibaru.</p>
<p>Dari aspek seni-budaya, orang luar banyak menyatakan. jika budaya dan kesenian Banyuwangi merupakan perpaduan Jawa-Madura dan Bali. Pernyataan ini memang tidak terbantahkan, karena letak geografis Banyuwangi yang berdekatan dengan Bali. Namun ada yang menarik dari catatan Sejarawan asal Belanda TG. Pigeaud dalam bukunya Runtuhkan Kerajaan Mataram Islam. Dalam buku itu disebutkan. jika wilayah Kerajaan Blambangan saat itu, menjadi rebutan antara Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung dengan kerajaan Mengwi di Bali. Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud menyatakan, suatusaat pengaruh Bali sangat kuat dalam segala aspek kehidupan rakyat Blambangan, maka saat itu pula pengaruh Mataram melemah. Namun apabila Mataram sudah bisa mengusai kembali sendi-sendi kehidupan di Blambangan, saat itu juga pengarusnya secara sosial kemasyarakat juga akan kuat. Dalam proses inilah, lahir kesenian semacam Janger yang mirip dengan langedrian yang ada di Yogyakarta, dengan cerita diambil dari Serat Damarwulan yang ditulis Pujangga di Kerajaan Mataram. Atau Kesenian Praburoro yang mengabil cerita Hikayat Amir Hamzah (Kata orang Using: Amir Ambyah), kesenian ini juga bisa ditemukan di Sleman DIY. Janger bentuk sampaan seperti Ketoprak, sedang Praburoro seperti Wayang Orang. Namun mocopat yang berkembang di Banyuwangi, bukan berasal dari kalangan Keraton, melainkan mocopat pesisiran. Nama-nama pupuhnya hampir sama, hanya ada penekanan pada pupuh-pupuh tertentu.</p>
<p>Setelah itu, orang-orang Mataraman atau bisa disebut Jowo Kulon mulai masuk Banyuwangi, trerutama daerah selatan. Mereka juga membawa kesenian, seperti wayang, Reog Ponorogo dan kesenian Jawa lainnya. Namun dalam perkembangannya, terjadi asimilasi. Misalnya, secara teknis seniman Banyuwangi itu mempunyai ciri khas dalam memukul alat musik, yaitu tekhnik timpalan. Ini terjadi baik cara memukul gamelan, maupun rebana (terbang).</p>
<p>Namun dalam kehidupan sosial, kadang orang-orang pendatang ini merasa lebih tinggi dibanding orang asli Banyuwangi. Mereka memang mengusai sektor-sektor formal. Misalnya pegawai Negeri di Kabupaten hingga Kecamatan, banyak dijabat orang pendatang. Mereka yang masih selaran dengan perjuangan Mataram ini, kadang memandang orang asli Banyuwangi sebelah mata. Padangan orang terbelakang dan tidak mau diajak maju, kadang sulit dihilangkan. Apalagi pada saat jaman pergolakan poilitik, kesenian dan senimam Banyuwangi yang yang tergabung dan digunakan propaganda oleh PKI. Lengkap sudah penderitaan sisa-sisa Laskar Blambangan ini.</p>
<p>Sebagai pemilik syah atas warisan leluhurnya,ternyata orang-orang Using sangat sulit memperjuangkan Bahasa Using sebagai materi ajar di sejumlah sekolah dasar. Ini tidak heran, karena para pejabat di Pemkab Banyuwangi dan Dinas Pendidikan saat itu, memang dijabat orang Jowo Kulonan. Mereka masih beragapan sebagai penjajah, karena menganggap Bahasa using sebagai sub-dealek dari Bahasa Jawa. Padahal berdasarkan penelitian Profersor Heru Santoso, Using bukan sebagai dialek-Jawa,tetapi sudah merupakan bahasa sendiri. Tentu kaidah-kaidah menetukan suatu bahasa disebut bahasa sendiri, bukan sebagai dialek, sudah dikupas panjang lebar oleh Pakar Linguistik dari Udayana Bali ini.</p>
<p>Bahkan peneliti dari Balai Bahasa Yogyakarta, Wedawaty menyebutkan, jika bahasa Using dan Bahasa Jawa itu kedudukannya sama sebagai turunan dari Bahasa Jawa Kuno ayau Bahasa Kawi. Bahasa Jawa sekarang lebih berkembang, terutama adanya strata atau tingkatan bahasa sesuai kasta dan umur. Namun bahasa Using terlihat lebih statis, karena tidak mengenal tingkatan tutur, seperti Bahasa kawi induknya. Bahkan Budayawan using, Hasan Ali menduga, kota kata Bahasa Bali dalam Balines-Nederland yang disusun seorang misionaris Belanda adalah kota kata Bahasa using, karena penyusunlan puluhan tahun tinggal di Blambangan, sebelum bisa menyebrang ke Bali.</p>
<p>Alahmdullah, setelah puluhan tahun perjuangan, akhirnya Bahasa Using diajarkan di tingkat SD dan SMP. Ini tidak lepas dari uapaya keras dari Budayan yang tergabung dalam Dewan Kesenian Blambangan (DKB) dan Budayawan Hasan Ali yang menyusun Kamu Using. Berngasur-angsur wong Using juga mulai menunjukkan eksistensi dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan sempat menempatkan Syamsul Hadi yang orang Using sebagai Bupati, meski akhirnya terjerat sejumlah kasus korupsi. Sebelumnya, Bupati Banyuwangi selalu dijabat orang dari luar dan tentara tentunya. Saat Orde Lama pernah dijabat M Yusuf, itupun sementara setelah Bupati aslinya terlibat PKI. Saat Orde Baru, ternyata meneruskan Mataram. Bisa percaya bisa tidak, dua pejabat Bupati banyuwangi berasal dari Mojokerto (dulu Majapahit), yaitu Djoko Supaat dan T. Pornomo Sidik. Saat Mataram menguasai Blambangan, juga menggunakan backgorund Majahit dalam cerita Damarwulan untuk mendiskreditkan Raja Blambangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/192/suku-osing-dan-kehidupannya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kebudayaan Suku Bugis</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/188/kebudayaan-suku-bugis/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/188/kebudayaan-suku-bugis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 03:41:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=188</guid>

					<description><![CDATA[Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku suku Deutero-Melayu, atau Melayu muda. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orang-orang bugis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Suku Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku suku Deutero-Melayu, atau Melayu muda. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.</p>
<p>Penyebaran Suku Bugis di seluruh Tanah Air disebabkan mata pencaharian orang-orang bugis umumnya adalah nelayan dan pedagang. Sebagian dari mereka yang lebih suka merantau adalah berdagang dan berusaha (massompe‘) di negeri orang lain. Hal lain juga disebabkan adanya faktor historis orang-orang Bugis itu sendiri di masa lalu.</p>
<p>Sejarah Perkembangan Suku Bugis</p>
<p>Orang Bugis zaman dulu menganggap nenek moyang mereka adalah pribumi yang telah didatangi titisan langsung dari “dunia atas” yang “turun” (manurung) atau dari “dunia bawah” yang “naik” (tompo) untuk membawa norma dan aturan sosial ke bumi (Pelras, The Bugis, 2006).</p>
<p>Umumnya orang-orang Bugis sangat meyakini akan hal to manurung, tidak terjadi banyak perbedaan pendapat tentang sejarah ini. Sehingga setiap orang yang merupakan etnis Bugis, tentu mengetahui asal-usul keberadaan komunitasnya. Kata “Bugis” berasal dari kata to ugi, yang berarti orang Bugis.</p>
<p>Penamaan &#8220;ugi&#8221; merujuk pada raja pertama kerajaan Cina (bukan negara Cina, tapi yang terdapat di jazirah Sulawesi Selatan tepatnya Kecamatan Pammana Kabupaten Wajo saat ini) yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang/pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We‘ Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu‘, ayahanda dari Sawerigading.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-K3OFo7Bo4hU/TajZxt9gycI/AAAAAAAAADQ/TFg-LoTbQGo/s200/h.jpg" /></p>
<p>Sawerigading sendiri adalah suami dari We‘ Cudai dan melahirkan beberapa anak, termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar. Sawerigading Opunna Ware‘ (Yang Dipertuan Di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk Banggai, Kaili, Gorontalo, dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.</p>
<p>Adat Istiadat</p>
<p>Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten Sidenreng Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama Sidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang ta’at beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimana-mana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen. Namun terdapat daerah dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut ‘Tau Lautang’ yang berarti ‘Orang Selatan’.</p>
<p>Adat Pernikahan</p>
<p>Dalam sistem perkawinan adat Bugis terdapat perkawinan ideal:</p>
<p>1. Assialang Maola</p>
<p>Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kesatu, baik dari pihak ayah</p>
<p>maupun ibu.</p>
<p>2. Assialanna Memang</p>
<p>Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua, baik dari pihak ayah</p>
<p>maupun ibu.</p>
<p>3. Ripaddeppe’ Abelae</p>
<p>Ialah perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga, baik dari pihak ayah</p>
<p>maupun ibu atau masih mempunyai hubungan keluarga.</p>
<p>Adapun perkawinan – perkawinan yang dilarang dan dianggap sumbang (salimara’):</p>
<p>1. perkawinan antara anak dengan ibu / ayah</p>
<p>2. perkawinan antara saudara sekandung</p>
<p>3. perkawinan antara menantu dan mertua</p>
<p>4. perkawinan antara paman / bibi dengan kemenakan</p>
<p>5. perkawinan antara kakek / nenek dengan cucu</p>
<p>Tahap – tahap dalam perkawinan secara adat :</p>
<p>1. Lettu ( lamaran)</p>
<p>Ialah kunjungan keluarga si laki-laki ke calon mempelai perempuan untuk</p>
<p>menyampaikan keinginannya untu melamar calon mempelai perempuan.</p>
<p>2. Mappettuada. (kesepakatan pernikahan)</p>
<p>Ialah kunjungan dari pihak laki-laki ke pihak perempuan untuk membicarakan</p>
<p>waktu pernikahan,jenis sunrang atau mas kawin,balanja atau belanja</p>
<p>perkawinan penyelanggaran pesta dan sebagainya</p>
<p>3. Madduppa (Mengundang)</p>
<p>Ialah kegiatan yang dilakukan setelah tercapainya kesepakayan antar kedua bilah</p>
<p>pihak untuk memberi tahu kepada semua kaum kerabat mengenai perkawinan yang</p>
<p>akan dilaksanakan.</p>
<p>4. Mappaccing (Pembersihan)</p>
<p>Ialah ritual yang dilakukan masyarakat bugis (Biasanya hanya dilakukan oleh kaum</p>
<p>bangsawan), Ritrual ini dilakukan pada malam sebelum akad nikah di mulai,</p>
<p>dengan mengundang para kerabat dekat sesepuh dan orang yang dihormati</p>
<p>untuk melaksanakan ritual ini, cara pelaksanaan nya dengan menggunakan daun</p>
<p>pacci (daun pacar),kemudian para undangan di persilahkan untuk memberi berkah</p>
<p>dan doa restu kepada calon mempelai, konon bertujuan untuk membersihkan dosa</p>
<p>calon mempelai, dilanjutkan dengan sungkeman kepada kedua orang tua calon mempelai.</p>
<p>Pasangan Pengantin</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-tAXwlFTPWJI/TajiWZ1bZ8I/AAAAAAAAADY/HH51mK5asAY/s320/orang+bugis.jpg" /></p>
<p>Hari pernikahan dimulai dengan mappaendre balanja , ialah prosesi dari mempelai laki-laki disertai rombongan dari kaum kerabat, pria-wanita, tua-muda, dengan membawa macam-macam makanan, pakaian wanita, dan mas-kawin ke rumah mempelai wanita. Sampai di rumah mempelai wanita langsung diadakan upacara pernikahan,dilanjutkan dengan akad nikah. Pada pesta itu biasa para tamu memberikan kado tau paksolo’. setelah akad nikah dan pesta pernikahan di rumah mempelai wanita selesai dilalanjutkan dengan acara “mapparola” yaitu mengantar mempelai wanita ke rumah mempelai laki-laki.</p>
<p>mappaenre botting :</p>
<p>Beberapa hari setelah pernikahan para pengantin baru mendatangi keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai wanita untuk bersilaturahmi dengan memberikan sesuatu yang biasanya sarung sebagai simbol perkenalan terhadap keluarga baru. Setelah itu, baru kedua mempelai menempati rumah mereka sendiri yang disebut nalaoanni alena.</p>
<p>Kepercayaan</p>
<p>Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat. Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu. Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat. Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka. Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap.</p>
<p>Hukum Adat</p>
<p>Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo’. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Ade’e De’nakkeambo, de’to nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo’ Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan.</p>
<p>Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhiketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara’ La Toa, Nenek Mallomo’ disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo’ dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara’ (ahli mengenai buku Lontara’) dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Nu’mang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya.</p>
<p>Mata Pencaharian</p>
<p>Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.</p>
<p>Adat Panen</p>
<p>Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla, sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi.</p>
<p>Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini.</p>
<p>Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati.</p>
<p>Bahasa Suku Bugis</p>
<p>Bahasa Bugis adalah bahasa yang digunakan etnik Bugis di Sulawesi Selatan, yang tersebar di kabupaten sebahagian Kabupaten Maros, sebahagian Kabupaten Pangkep, Kabupaten Barru, Kota Pare-pare, Kabupaten Pinrang, sebahagian kabupaten Enrekang, sebahagian kabupaten Majene, Kabupaten Luwu, Kabupaten Sidenrengrappang, Kabupaten Soppeng,Kabupaten Wajo, Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Bulukumba, dan Kabupaten Bantaeng. Masyarakat Bugis memiliki penulisan tradisional memakai aksara Lontara. Pada dasarnya, suku kaum ini kebanyakannya beragama Islam Dari segi aspek budaya, suku kaum Bugis menggunakan dialek sendiri dikenali sebagai ‘Bahasa Ugi’ dan mempunyai tulisan huruf Bugis yang dipanggil ‘aksara’ Bugis. Aksara ini telah wujud sejak abad ke-12 lagi sewaktu melebarnya pengaruh Hindu di Kepulauan Indonesia.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/-9moNguXdFsI/Tajd9gOxOhI/AAAAAAAAADU/dbv1kK85gKE/s320/aksara-bugis.jpg" /></p>
<p>Aksara Bugis</p>
<p>Kesenian</p>
<p>Alat musik:</p>
<p>1.Kacapi(kecapi)</p>
<p>Salah satu alat musik petik tradisional Sulawesi Selatan khususnya suku Bugis,</p>
<p>Bugis Makassar dan Bugis Mandar. Menurut sejarahnya kecapi ditemukan atau</p>
<p>diciptakan oleh seorang pelaut, sehingga bentuknya menyerupai perahu yang</p>
<p>memiliki dua dawai,diambil karena penemuannya dari tali layar perahu.</p>
<p>Biasanya ditampilkan pada acara penjemputan para tamu, perkawinan, hajatan,</p>
<p>bahkan hiburan pada hari ulang tahun.</p>
<p>2. Sinrili</p>
<p>Alat musik yang mernyerupai biaola cuman kalau biola di mainkan dengan</p>
<p>membaringkan di pundak sedang singrili di mainkan dalam keedaan pemain</p>
<p>duduk dan alat diletakkan tegak di depan pemainnya.</p>
<p>3. Gendang</p>
<p>Musik perkusi yang mempunyai dua bentuk dasar yakni bulat panjang dan bundar</p>
<p>seperti rebana.</p>
<p>4. Suling</p>
<p>Suling bambu/buluh, terdiri dari tiga jenis, yaitu:</p>
<p>• Suling panjang (suling lampe), memiliki 5 lubang nada. Suling jenis ini telah punah.</p>
<p>• Suling calabai (Suling ponco),sering dipadukan dengan piola (biola) kecapi dan</p>
<p>dimainkan bersama penyanyi</p>
<p>• Suling dupa samping (musik bambu), musik bambu masih terplihara di daerah</p>
<p>Kecamatan Lembang. Biasanya digunakan pada acara karnaval (baris-berbaris) atau</p>
<p>acara penjemputan tamu.</p>
<p>Seni Tari</p>
<p>• Tari pelangi; tarian pabbakkanna lajina atau biasa disebut tari meminta hujan.</p>
<p>• Tari Paduppa Bosara; tarian yang mengambarkan bahwa orang Bugis jika</p>
<p>kedatangan tamu senantiasa menghidangkan bosara, sebagai tanda kesyukuran</p>
<p>dan kehormatan</p>
<p>• Tari Pattennung; tarian adat yang menggambarkan perempuan-perempuan yang</p>
<p>sedang menenun benang menjadi kain. Melambangkan kesabaran dan ketekunan</p>
<p>perempuan-perempuan Bugis.</p>
<p>• Tari Pajoge’ dan Tari Anak Masari; tarian ini dilakukan oleh calabai (waria),</p>
<p>namun jenis tarian ini sulit sekali ditemukan bahkan dikategorikan telah punah.</p>
<p>• Jenis tarian yang lain adalah tari Pangayo, tari Passassa ,tari Pa’galung, dan tari</p>
<p>Pabbatte(biasanya di gelar padasaat Pesta Panen).</p>
<p>Makanan Khas Sulawesi Selatan</p>
<p>1. COTO MAKASSAR</p>
<p>2. KONRO</p>
<p>3. SOP SAUDARA</p>
<p>4. PISANG EPE’</p>
<p>5. PISANG IJO</p>
<p>6. PALU BASSAH</p>
<p>7. PALA BUTUNG</p>
<p>8. NASU PALEKKO (Bebek)</p>
<p>Permainan</p>
<p>Beberapa permainan khas yang sering dijumpai di masyarakat Bugis ( Pinrang): Mallogo, Mappadendang, Ma’gasing, Mattoajang (ayunan), getong-getong, Marraga, Mappasajang (layang-layang), Malonggak</p>
<p>Senjata Suku Bugis</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/-g86YksbL3dA/TajptOBU7ZI/AAAAAAAAADg/Ejx1lfppfrc/s1600/badik_bugis_swordsblogdetikcom.jpg" /></p>
<p>KAWALI senjata khas suku bugis</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/188/kebudayaan-suku-bugis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Penteng, Permainan Rakyat Madura</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/184/penteng-permainan-rakyat-madura/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/184/penteng-permainan-rakyat-madura/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 03:37:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=184</guid>

					<description><![CDATA[&#160; Penteng merupakan nama salah satu permainan tradisional rakyat Madura, khususnya permainan untuk anak-anak. Permainan ini hanya mempergunakan dua potong kayu lurus sebesar ibu jari orang dewasa. Bahan untuk alat permainan ini mudah diper­oleh, karena terdapat di daerah sekitarnya. Permainan ini tidak mempunyai hubungan dengan suatu peris­tiwa, baik keagamaan maupun &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<div><img decoding="async" alt="" src="http://jawatimuran.files.wordpress.com/2012/09/peteng001.jpg?w=345&amp;h=262" /></div>
<p>Penteng merupakan nama salah satu permainan tradisional rakyat Madura, khususnya permainan untuk anak-anak. Permainan ini hanya mempergunakan dua potong kayu lurus sebesar ibu jari orang dewasa. Bahan untuk alat permainan ini mudah diper­oleh, karena terdapat di daerah sekitarnya.</p>
<p>Permainan ini tidak mempunyai hubungan dengan suatu peris­tiwa, baik keagamaan maupun upacara tradisional, karena itu per­mainan penteng ini hanya merupakan permainan hiburan yang dalam pelaksanaannya dimainkan pada waktu senggang untuk mengisi kekosongan.</p>
<p>Dalam pelaksanaannya permainan penteng tidak pula diiringi anak-anak ada yang bermain sambil bersiul-siul atau mendendang­kan lagu, hal itu merupakan hal yang biasa sebagai cetusan spontan dari jiwa anak-anak yang gembira. Bagi anak-anak pedesaan me­mang merupakan suatu kebiasaan untuk bermain penteng sambil menunggu padi di sawah atau sambil mengembalikan ternak me­reka di padang.</p>
<p>Permainan ini sangatlah sederhana dan mudah dimainkan. Hampir semua anak-anak dapat memainkannya, karena yang diperlukan hanya keterampilan, kejelian dan sedikit pemikir­an, agar dirinya menang. Selain bersifat hiburan, permainan ini ju­ga bersifat kompetitif karena ada lawan bermain dan ada ketentu­an kalah menang.</p>
<p>Permainan penteng dimainkan oleh anak-anak paling banyak enam orang, kemudian dibagi dalam dua kelompok, masing-masing kelompok tiga orang anak. Selain dimainkan secara berkelompok permainan ini dapat pula dimainkan secara perorangan, yakni sa­tu lawan satu hanya saja bila dimainkan secara perorangan terasa kurang mengasyikkan. Oleh karena itu permainan ia, lebih sering dimainkan secara berkelompok sehingga menjadi lebih semarak.</p>
<p>Pada umumnya penteng dimainkan oleh anak laki-laki, namun tidak tertutup kemungkinan bagi anak perempuan. Asal saja ang­gota kelompok permainan ini harus sama sejenis. Hal ini, disebabkan pada akhir permainan ada acara gindungan (bergendongan), yang kalah harus menggendong yang menang. Para pelaku dari per­mainan tersebut, rata-rata berusia antara enam sampai dengan lima belas tahun dengan tidak membatasi kelompok masyarakat­nya.</p>
<p>Peralatan yang dipergunakan dalam permainan penteng terdiri dari dua bilah kayu sebesar ibu jari dengan ukuran yang berbeda, satu pendek dan satu lagi panjang. Kayu yang pendek, berukuran kira-kira 13 cm, disebut pangkene, sedangkan yang panjang berukuran kira-kira 39 cm disebut panglanjang. Kedua bilah kayu bia­sanya ini terbuat dari kayu gabus, atau dari bambu yang dipotong sedemikian rupa. Selain kedua alat tadi, juga diperlukan sebuah lubang kecil di tanah yang berukuran panjang antara 20—25 cm dengan lebar 5 cm dan dalam lubangnya kira-kira 5 cm. Lubang ini dipergunakan sebagai tempat penyoket (penyukit) pangkene oleh panglanjang.</p>
<p>Apabila peralatan yang diperlukan telah ada, maka dicarilah ter dengan panjang kira-kira sepuluh meter. Setelah disepakati oleh para pemain dan persiapan lainnya telah disiapkan, juga disepakati jumlah nilai yang hendak dicapai (misal nilainya hanya sampai 50 atau 100), maka permainan dapat dimulai.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://jawatimuran.files.wordpress.com/2012/09/peteng002.jpg?w=252&amp;h=371" /></p>
<p>Para pemain yang berjumlah enam orang ini memilih kawan­nya yang sebaya melakukan “suten” untuk menentukan siapa-siapa yang termasuk teman bermainnya. Yang menang berkelom­pok sama yang menang dan yang kalah berkelompok dengan yang kalah. Jika telah ditentukan masing-masing anggota kelompok, selanjutnya diadakan kembali “suten” untuk menentukan kelom­pok mana yang mendapat giliran pertama bermain (alako kaada). Dua orang anak mewakili kelompoknya masing-masing melakukan “suten” alagi. Bagi kelompok yang menang dalam “suten” menda­patkan giliran pertama untuk alako (bekerja), sedangkan kelom­pok yang kalah bertugas untuk se ajaga (menjaga).</p>
<p>Setelah semuanya disepakati dan kelompok yang alako dan se ajaga telah diketahui, barulah permainan dimulai. Misalnya, kelom­pok 1 yang alako dan kelompok II yang se ajaga Mereka tidak ter­ikat dengan, urutan pemain dalam kelompoknya. Pemain bebas melakukan nyoket (menyukit) lebih dahulu. Kalau terdapat kesa­lahan yang dilakukan oleh seorang pemain di dalam kelompok­nya pada satu tahap permainan yang harus diselesaikan, tidak bo­leh digantikan oleh kawannya untuk menyelesaikan tahapan ber­ikutnya. Temannya harus melakukan dari semula kembali.</p>
<p>Jalan permainan penteng ini, terdiri dari beberapa tahapan yang harus diselesaikan oleh setiap pemain. Tahap pertama, yakni menyoket pangkene dengan panglan­jang. Pemain pertama dari kelompok alako (kelompok I) akan menyoket, pangkene ditaruh melintang di atas lubang kecil lalu dicukit dengan panglanjang ke depan (lihat gambar).</p>
<p>Penyukit yang pandai akan mengarahkan pangkene ke tempat yang tidak dijaga dan diusahakan agar pangkene tidak dapat di­tangkap oleh lawan. Apabila tiga kali berturut-turut dalam tahap ini pangkene tertangkap oleh lawan, berarti kelompok I yang alako gagal dan harus diganti oleh pemain dari kelompok II yang se ajaga. Jika cukitan pertama tidak tertangkap oleh yang se ajaga (kelompok II), maka dari batas berhentinya pangkene tadi oleh panglanjang yang ditaruh melintang di atas lubang. Jika pangkene mengenai panglianjang berarti penyukit pertama gagal dan diganti oleh penyukit kedua dari kelompok I. Juga dinyatakan gagal apabila cukitannya dapat ditangkap oleh kelompok II. Selanjutnya penyukit kedua sekarang melakukan cukitan dan kalau berhasil (artinya tidak tertangkap dan tidak mengenai panglanjang) ia dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.</p>
<p>Pada tahap kedua, yaitu memukul pangkene dengan panglan­jang. Kedua alat itu dipegang dengan tangan kanan, pangkene di­lemparkan ke atas lalu dipukul dengan panglanjang (lihat gam­bar). Bila pangkene yang melayang tidak dapat ditangkap oleh lawan, kelompok I memperoleh nilai dengan mengukur jarak ja­tuh pangkene ke lubang, diukur dengan menggunakan panglan­jang. Kalau pangkene dapat ditangkap oleh lawan dan dilemparkan kembali ke lubang, atau ketika jatuh dan ternyata masih bergerak lalu disepak ke arah lubang sehingga jarak pangkene ke lubang tidak lagi sepanjang panglanjang maka gagallah penyukit kedua itu penyukit ketiga dengan dimulai dari cukitan pertama. Sebaliknya bila masih dapat diukur baik di muka atau di belakang lubang, dianggap hidup dan memperoleh nilai. Maka pemain dapat melan­jutkan tahap berikutnya.</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://jawatimuran.files.wordpress.com/2012/09/peteng003.jpg?w=220&amp;h=300" /></p>
<p>Pada tahap ketiga, yakni dengan memukul pangkene yang di­taruh memanjang dalam lubang dengan sebagian menonjol (men­cuat) ke luar. Kemudian yang menonjol ke luar itulah yang dipu­kul sehingga meloncat ke atas lalu dipukul lagi oleh panglanjang ke depan (lihat gambar). Kalau pangkene tidak tertangkap oleh lawan, kelompok I memperoleh nilai lagi dengan mengukur jarak jauh terpelantingnya pangkene ke lubang dengan panglanjang. Untuk mendapatkan nilai yang lebih banyak lagi, bila pangkene pada waktu melesat ke luar dari lubang dapat dipukul dua kali (berarti terkena pukulan tiga kali tanpa menyentuh tanah) maka alat pengukurnya bukan panglanjang tetapi diukur dengan pangkene. Kemudian pemain melanjutkan tahap selanjutnya ialah metar.</p>
<p>Di tahap metar ini, pangkene ditaruh di atas tangan kiri yang ditelungkupkan. lalu dilontarkan ke atas dan dipukul dengan panglanjang. Apabila lawan tidak berhasil menangkapnya maka kelompok I menambah nilainya. Jika pangkene yang dilontarkan ke atas dapat dipukul dua kali, maka alat penghitungnya pun pangkene sehingga penambahan nilai lebih banyak lagi.</p>
<p>Tahap selanjutnya adalah dengan menaruh pangkene di antara jepitan tangan dengan lengan tangan kanan, lalu dilontarkan ke atas dan dipukul. Bila tidak berhasil ditangkap oleh lawan, maka nilai bertambah lagi. Begitu pula jika pukulannya dua kali, maka alat pengukurnya pun bukan panglanjang tetapi pangkene.</p>
<p>Sebagai tahap yang terakhir, ialah menaruh pangkene di atas jari kaki kanan, lalu dilontarkan ke atas dan dipukul dengan panglanjang. Jika tidak tertangkap olah lawan, kelompok I menambah nilai lagi. Apabila nilai akhir sudah tercapai oleh salah satu kelompok, maka kelompok yang menang mulai melakukan metar yang kedua. Metar yang kedua ini mula-mula dilakukan oleh pemain pertama, caranya yakni dengan menaruh pangkene di atas telapak tangan kiri yang tertelungkup, kemudian dilontarkan ke atas kemudian dipukul pangkene dengan panglanjang. Lalu dilanjutkan oleh pemain yang kedua, juga melakukannya hal yang sama seperti permainan yang pertama dari tempat jatuhnya pangkene ke arah lain yang disenangi. Begitu juga pemain yang ketiga menyambungnya dengan metar juga dari tempat jatuhnya “petaran” pemain yang kedua. Apabila ketiganya berhasil memetar jauh-jauh, piaka pihak yang kalah harus menggendong yang menang sejauh jumlah jarak petaran menuju pangkal petaran.</p>
<p>Di sinilah puncak kegembiraan permainan penteng itu. Para pemain yang kalah dapat minta untuk bermain lagi, dapat tukar menukar kawan atau diganti dengan mengadakan “suten” lagi. Hal ini semuanya tergantung kepada anak-anak. Pada umumnya mereka bermain dua kali, dan sesudah itu bubar pulang ke rumahnya masing-masing.</p>
<p>Analisa</p>
<p>Sesuai dengan iklim tropisnya, kehidupan masyarakat Madura bersifat agraris, dengan mata pencaharian pokok pada umumnya adalah bertani. Dalam kegiatan bercocok tanam mereka saling menolong, hal ini merupakan kebiasaan masyarakat di desa pada umumnya.</p>
<p>Dalam kegiatan-kegiatan di ladang atau pun di sawah-sawah, orang tua selalu mengajak anak-anaknya untuk turut mem­bantu sesuai dengan fisik anak tersebut. Dalam perjalanannya me­nuju sawah ladang itulah anak-anak menemukan pohon bambu. Bambu oleh masyarakat sengaja mereka tanam, karena banyak kegunaannya. Bambu ini sengaja mereka tanam sebagai penahan erosi dan tempat berteduh para petani mau pun para penggembala dari sengatan terik matahari. Selain itu bambu juga dapat diguna­kan untuk membuat rumah. Rumah-rumah tradisional masyarakat Madura pada umumnya terbuat dari gedek yang bahannya dari bambu. Bambu tersebut dikerat tipis-tipis dan dianyam sedemikian rupa yang dibaut bilik, selain itu juga dapat dibuat untuk keperlu­an yang lainnya yang berupa kerajinan tangan berupa anyam-anyaman. Tidaklah mengherankan, bambu tersebut banyak sekali menfaatnya bagi masyarakat petani.</p>
<p>Penteng sebagai suatu permainan anak-anak sudah dikenal se­jak dahulu. Siapa yang mula-mula melakukan permainan ini tidak banyak diketahui, yang jelas permainan ini sudah ada sejak dahulu. Pada mulanya permainan ini dimainkan oleh anak-anak petani dengan tidak membatasi stratifikasi sosial. Jadi. siapa saja dapat memainkannya. Biasanya anak-anak petani ketika akan menuju ladang, melalui jalan yang panjang, sepanjang jalan itu diteduhi oleh pohon bambu. Ketika beristirahat, mereka akan berteduh dinaungan bambu, dan pada saat itulah anak-anak sambil duduk duduk ada yang memotong bambu itu untuk kemudian mereka membuatnya jadi alat permainan, yang penyelenggaraannya dilakukan untuk mengisi waktu terluang di siang hari. Permainan penteng ini merupakan suatu permainan yang khas, sesuai dengan kondisi lingkungan di mana keadaan sosial masyarakatnya telah melatarbelakangi budaya dalam bentuk permainan rakyat.</p>
<p>Bentuk permainan ini, sudah dikenal di luar pulau Madura, karena Madura letaknya di ujung Jawa Timur, sehingga tidak mus­tahil kebudayaan yang datang dari luar mau pun dari dalam bercampur dan kebudayaan itu dibawa ke luar Madura atau sebaliknya.</p>
<p>Tidaklah heran apabila permainan yang sama juga terdapat di luar pulau Madura, walaupun namanya berlainan akan tetapi cara dan jalannya permainan sama. Seperti di Jakarta, permainan ini namanya gatrik, di Aceh peh kayee, di Sulawesi Selatan maccule/accangke.</p>
<p>Permainan penteng yang merupakan permainan rakyat tra­disional mempunyai arti yang penting dalam meningkatkan nilai-nilai budaya, terutama bagi pelaksanaan permainan. Permainan ini dapat mendidik anak-anak agar menjadi tahu bahwa segala sesuatu dalam kehidupan ini sangat berguna, seperti bambu yang menjadi bahan alat permainan ini. Bambu tersebut banyak sekali keguna­annya seperti yang telah disebutkan sebelumnya.</p>
<p>Di dalam meningkatkan nilai-nilai budaya, permainan penteng merupakan kegiatan permainan yang sifatnya hiburan tetapi me­ngandung gabungan dua unsur yakni unsur bermain dan berolah raga. Dalam unsur bermain, anak-anak yang terlihat dalam permainan ini dapat menikmatinya sebagai suatu permainan yang sangat mengasyikkan. Sedangkan dalam unsur olah raga, anak yang terlibat dalam permainan ini tentunya dapat membuat gerak permainan di mana setiap gerak permainan ini dapat diartikan sebagai olah raga yang dapat melenturkan otot-ototnya, yakni me­latih ketrampilan dan ketangkasan anak-anak. Selain itu juga dapat mengembangkan daya pikir dalam menghitung nilai-nilai yang diperoleh.</p>
<p>Oleh karena itulah, permainan penteng dapat membantu pem­bentukan jiwa dan sifat anak agar berjiwa sportif, trampil, sigap, dapat menggunakan otaknya untuk mengembangkan daya pikir menyiasati lawannya dan memperluas pergaulan dengan menggu­nakan waktu senggangnya untuk hal-hal yang efektif. Apabila kita kaji latar belakang sosial budaya dari permainan ini, di mana permainan berasal dari permainan anak-anak petani yang dalam pelaksanaannya dapat mendidik anak-anak dalam rang­ka proses sosialisasi, maka nilai-nilai yang terkandung dalam permainan ini antara lain:</p>
<p>Rasa disiplin, karena pemain harus mematuhi peraturan-peraturan permainan yang telah disepakati bersama. Seperti, jika ada pemain yang melakukan kesalahan pada satu tahap permainan untuk menyelesaikan tahapan berikutnya, jadi temannya harus melakukan dari semula kembali.</p>
<p>Nilai-nilai yang diperoleh dari masing-masing anggota ke­lompok disatukan (dijumlahkan) sehingga mencapai/memperoleh nilai yang telah ditentukan. Begitu pula dalam kelompok yang se ajaga, di sini nampak keija sama di antara anggota pemainnya karena setiap anggota pemain selalu siap berjaga agar dapat me­nangkap pangkene yang terlempar ke atas. Ketika pangkene oleh yang aloko dilemparkan, maka salah seorang anggota kelom­pok yang se ajaga akan berusaha untuk menangkapnya sehingga kelompok yang alako menjadi mati atau tidak mendapat nilai, sehingga teijadilah pergantian pemain. Karena itulah, dengan hasil yang sama ini akan menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan.</p>
<p>Sportifitas atau kepatuhan akan perjanjian, yakni mempu­nyai jiwa konsekuen, jika mendapat kekalahan mematuhi perjan­jian yang telah disepakati sebelumnya. Kelompok yang kalah akan menggendong kelompok yang menang.</p>
<p>Pada masa ini, permainan penteng kurang berkembang teruta­ma di kota-kota, tetapi di desa-desa terutama di kalangan anak-anak pada masyarakat yang kurang mampu masih digemari.</p>
<p>Hal ini, kemungkinan menurunnya minat anak-anak terhadap per­mainan penteng karena sudah banyak jenis permainan anak-anak yang modern atau memang anak-anak sekarang waktunya lebih banyak tersita untuk berbagai kegiatan di sekolah mau pun masyarakat, sehingga waktu terluang tidak banyak seperti dahulu. Atau dapat pula karena kehidupan perekonomian orang tua yang semakin berat, menyebabkan anak-anak penduduk Madura khususnya di desa yang tidak mampu, terpaksa ikut membantu orang tuanya membantu mencari dan menambah sumber peng­hasilan. Keadaan ini umumnya masih sering terjadi di daerah pe­desaan dan di daerah pesisir. Tidak masuknya anak-anak ke sekolah, karena adanya kegiatan musim tertentu sehingga tenaga­nya banyak dibutuhkan untuk membantu orang tuanya. Keadaan demikian, tentunya tidak banyak membantu perkembangan suatu permainan anak-anak yang memang membutuhkan waktu seng­gang dalam memainkan suatu permainan dengan teman-temannya. Namun demikian, tidak berarti permainan ini menghilang, sebab masih sering tampak kerumunan anak-anak yang bermain dan cukup banyak penggemarnya, terutama kalangan anak-anak.</p>
<p>Hanya saja dikhawatirkan akan hilang kalau keadaan ekonomi penduduk sedemikian rupa sehingga anak-anak diperlukan orang tuanya untuk membantunya dalam perjuangan hidupnya, dan banyaknya kegiatan yang menyita waktu bagi anak-anak untuk memperoleh kesenggangan untuk bermain sesuka hatinya. Begitu penteng akan lenyap tetapi juga permainan tradisional lainnya juga adanya hiburan lainnya seperti mendengarkan lagu-lagu melalui radio transistor, atau adanya bacaan yang dapat dibaca sambil bersantai-santai, maka tidak saja permainan tradisional seperti yang semacam ini akan lenyap pula.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sumber:</p>
<p>Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Nilai Budaya Dalam Permainan Rakyat Madura- Jawa timur. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, 1991. hlm. 24-34.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/184/penteng-permainan-rakyat-madura/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ragam Kebudayaan di INDONESIA</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/181/ragam-kebudayaan-di-indonesia/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/181/ragam-kebudayaan-di-indonesia/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Jul 2013 03:32:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=181</guid>

					<description><![CDATA[»Sejarah Gedung SATE Bandung »Yusuf Islam is a British singer-songwriter »Sejarah Kota Kediri »Sejarah kota Jombang »Aal mula dan sejarah kota Madiun »Sejarah terbentuknya Kabupaten Wonogiri »Riwayat Kota Bojonegoro »Asal muasal kota Gresik »Sejarah kota Balikpapan &#160; budaya » Ragam Kebudayaan di INDONESIA &#160; Suku Baduy diPedalaman Banten (Budaya Banten) &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div id="headlines">
<div>
<div><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/sejarah-gedung-sate-bandung_19.html"> »Sejarah Gedung SATE Bandung</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/yusuf-islam-is-british-singer-songwriter.html"> »Yusuf Islam is a British singer-songwriter</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/sejarah-kota-kediri.html"> »Sejarah Kota Kediri </a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/sejarah-kota-jombang.html"> »Sejarah kota Jombang</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/aal-mula-dan-sejarah-kota-madiun.html"> »Aal mula dan sejarah kota Madiun</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/sejarah-terbentuknya-kabupaten-wonogiri.html"> »Sejarah terbentuknya Kabupaten Wonogiri</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/riwayat-kota-bojonegoro.html"> »Riwayat Kota Bojonegoro</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/asal-muasal-kota-gresik.html"> »Asal muasal kota Gresik</a><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/2012/11/sejarah-kota-balikpapan.html"> »Sejarah kota Balikpapan</a></div>
</div>
</div>
<p>&nbsp;</p>
<div><a href="http://trendmagtheme.blogspot.com/search/label/budaya?&amp;max-results=7" rel="tag">budaya</a> » Ragam Kebudayaan di INDONESIA</div>
<p>&nbsp;</p>
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="center">
<tbody>
<tr>
<td><img loading="lazy" decoding="async" alt="" src="http://perpustakaan.untirta.ac.id/foto_berita/52baduy.JPG" width="400" height="300" /></td>
</tr>
<tr>
<td>Suku Baduy diPedalaman Banten (Budaya Banten)</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Desa Wisata Kamasan Kabupaten klungkung,Bali (Budaya Bali)</p>
<p>Kamasan adalah sebuah komunitas seniman lukisan tradisional. Begitu intim dan begitu lama berkembangnya seni lukis tradisional maka para seniman menyebut hasil-hasil lukisan di sana memiliki gaya (style) tersendiri yaitu lukisan tradisional Kamasan. Sesungguhnya bakat seni tumbuh pula pada karya-karya seni lainnya yaitu berupa seni ukir emas dan perak dan yang terakhir ialah seni ukir peluru.</p>
<p>Meskipun dari segi material yang digunakan kain warna logam<i><b> </b></i>mengikuti perubahan yang terjadi tetapi ciri khasnya tetap tampak dalam tema lukisan atau ukiran yaitu menggambarkan tokoh-tokoh wayang.</p>
<p>Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan &#8220;Baduy&#8221; merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau &#8220;orang Kanekes&#8221; sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo</p>
<p>Upacara Ngaben Bali (Budaya Bali)</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/-SWa-tlhBrSM/TnFRAfeHK8I/AAAAAAAAAJs/RDnFU_0AacE/s400/ngaben-tabanan.jpg" /></p>
<p>Ngaben adalah upacara penyucian atma (roh) fase pertama sbg kewajiban suci umat Hindu Bali terhadap leluhurnya dengan melakukan prosesi pembakaran jenazah. Seperti yg tulis di artikel ttg pitra yadnya, badan manusia terdiri dari badan kasar, badan halus dan karma. Badan kasar manusia dibentuk dari 5 unsur yg disebut Panca Maha Bhuta yaitu pertiwi (zat padat), apah (zat cair), teja (zat panas) bayu (angin) dan akasa (ruang hampa). Kelima unsur ini menyatu membentuk fisik manusia dan digerakan oleh atma (roh). Ketika manusia meninggal yg mati adalah badan kasar saja, atma-nya tidak. Nah ngaben adalah proses penyucian atma/roh saat meninggalkan badan kasar.</p>
<p>Upacara Kasada (Kasodo) dan Pura Luhur Poten Gunung Bromo (Budaya Jawa Timur)</p>
<p><img loading="lazy" decoding="async" id="irc_mi" alt="" src="http://kebudayaanindonesia.net/media/images/upload/culture/UPACARA%20ADAT%20%20KASADA,%20SUKU%20TENGGER2.jpg" width="577" height="432" /></p>
<p>Sejak Jaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci, karena mereka dianggap abdi – abdi kerajaan Majapahit. Sampai saat ini mereka masih menganut agama hindu, Setahun sekali masyarakat tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki gunung bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung Bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama dibulan Kasodo menurut penanggalan Jawa.</p>
<p>Tana Toraja – Tanah Kerajaan Surga (Budaya Sulawesi Selatan)</p>
<p><img decoding="async" alt="" src="http://www.visit-tanatoraja.org/tana-toraja.jpg" /></p>
<p>Perjalanan dari Makasar atau Ujung Pandang ke Toraja dengan melewati jalur pesisir sepanjang 130 km mendaki pegunungan. Setelah memasuki Tana Toraja, anda mulai memasuki pamandangan alam yang penuh dengan keagungan. Batu grafit dan batuan lainnya, serta birunya pegunungan di kejauhan setelah melewati pasar Desa Mebali akan terlihat masyarakat yang sedang beternak domba sehingga pemandangan terlihat kontras dengan padang rumput yang hijau subur, limpahan makanan di tanah tropis yang indah. Ini adalah Tana Toraja, salah satu tempat wisata terbaik di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/181/ragam-kebudayaan-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
