<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Agama &#8211; Perpustakaan Sidodadi (TBM)</title>
	<atom:link href="https://perpustakaansidodadi.com/category/agama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://perpustakaansidodadi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Mar 2015 02:29:23 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.5</generator>

<image>
	<url>https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2021/02/ico-perpustakaan-sidodadi-hargomulyo-pripih.jpg</url>
	<title>Agama &#8211; Perpustakaan Sidodadi (TBM)</title>
	<link>https://perpustakaansidodadi.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>3 Obat untuk Penyakit Hati</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/873/3-obat-untuk-penyakit-hati/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2014 03:41:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=873</guid>

					<description><![CDATA[Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh, إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><meta http-equiv="content-type" content="text/html; charset=utf-8" /></p>
<p><em>Assalamu alaikum wa rahmatullah wa barakaatuh,</em></p>
<p>إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ<br />
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ<br />
اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن، أَمَّا بَعْدُ</p>
<p>Kaum muslimin yang berbahagia</p>
<p>Syukur Alhamdulillah kita haturkan ke hadhirat Allah, Sang Pemberi petunjuk, Yang menguasai dan mengendalikan seluruh hati manusia. Puji syukur kita haturkan pula kepada Allah, karena dengan rahmat dan hidayahnya, kita bisa merasakan nikmatnya ibadah dan ketaatan kepada-Nya.</p>
<p>Hadhirin yang kami hormati,</p>
<p>Seperti yang kita sadari bersama, umumnya manusia sangat sulit untuk melakukan ibadah kepada Allah. Umumnya manusia sangat malas untuk diajak melakukan ketaatan kepada Sang Pencipta. Mengapa?<br />
Kita semua akan memiliki jawaban yang sama, karena manusia dibekali dengan hawa nafsu. Hanya saja, manusia berbeda-beda. Ada yang hawa nafsunya lebih menguasi dirinya, sehingga dia bergelimang dengan maksiat, namun dia tidak merasa bersalah. Ada yang hati nuraninya lebih mendominasi, sehingga dia menjadi hamba yang taat.</p>
<p>Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,</p>
<p>Jika kita perhatikan, sejatinya iman, islam, dan ketaatan kepada Allah adalah sebuah kenikmatan. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa ibadah bisa dirasakan kenikmatannya, diantaranya firman Allah ketika menceritakan salah satu kenikmatan yang Allah berikan kepada para sahabat,</p>
<p>وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ</p>
<p><em>Ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauan kalian dalam beberapa urusan benar-benarlah kalian mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kalian ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hati kalian…</em> (QS. Al-Hujurat: 7).</p>
<p>Atas petunjuk Allah ta’ala, Allah jadikan para sahabat manusia yang bisa menikmati lezatnya iman, bahkan Allah jadikan iman itu sesuatu yang indah pada hati para sahabat. Sehingga kecintaan mereka kepada kebaikan, mengalahkan segalanya.</p>
<p>Kemudian dalam hadis dari Abbas bin Abdul Mutahalib radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا</p>
<p><em>“Akan merasakan nikmatnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabnya, islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai rasulnya.”</em> (HR. Muslim, Turmudzi dan yang lainnya).</p>
<p>Dalam hadis di atas, Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menyebut tiga kriteria:</p>
<ul>
<li>Orang yang mentauhidkan Allah dengan sepenuhnya, sebagai bukti dia ridha Allah sebagai Rabnya,</li>
<li>kemudian dia menjadikan syariat islam sebagai aturan hidupnya, sebagai bukti dia ridha bahwa islam sebagai agamanya</li>
<li>dan dia mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hidupnya</li>
</ul>
<p>orang yang memiliki 3 kriteria ini akan merasakan lezatnya.</p>
<p>Dalam hadis lain, yang mungkin hadis ini sering kita dengar, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> juga bersabda,</p>
<p>ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ</p>
<p><em>“Tiga hal, siapa yang memilikinya maka dia akan merasakan lezatnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari pada selainnya, dia mencintai seseorang hanya karena Allah, dan dia sangat benci untuk kembali kepada kekufuran, sebagaimana dia benci untuk dilempar ke neraka.”</em> (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).</p>
<p>Semua dalil di atas menunjukkan betapa iman, islam, dan segala turunannya, merupakan kenikmatan dan bisa dirasakan lezatnya.</p>
<p>Hadhirin, jamaah yang kami hormati,</p>
<p>Yang menjadi tanda tanya kita, mengapa banyak orang justru merasa berat atau bahkan merasa tersiksa ketika melakukan ketaatan? Bisa jadi, bahkan termasuk kita, seringkali masih menganggap ketaatan itu sesuatu yang sulit bagi kita. Lalu dimanakah nikmatnya iman itu?</p>
<p>Jamaah yang berbahagia,</p>
<p>Sejatinya kasus semacam ini juga dialami oleh fisik manusia. Seperti yang kita pahami, hampir semua orang yang mengalami sakit, dia akan susah makan, dan semua terasa pahit. Selezat apapun jenis makanan yang diberikan, orang sakit akan merasakannya sebagai sesuatu yang pahit. Soto pahit, sate pahit, bahkan sitipun pahit rasanya. Kenapa? Karena dia sedang sakit.</p>
<p>Seperti itu pula, orang yang sedang sakit hati dan mentalnya. Selezat apapun nutrisi yang diberikan, dia akan merasakan pahit dan berusaha menolaknya. Dengan ini kita bisa menemukan jawaban, mengapa banyak orang tidak merasakan nikmatnya iman? Karena kebanyakan manusia, hati dan jiwanya sedang sakit.</p>
<p>Jamaah yang berbahagia,</p>
<p>Untuk bisa mengembalikan pada kondisi normal, tentu kita harus berusaha mengobati penyakit itu. Karena jika sakit ini dibiarkan, selamanya kita tidak bisa merasakan nikmatnya nutrisi dan makanan. Hati sakit yang dibiarkan, selamanya akan sulit untuk menikmati lezatnya iman.</p>
<p>Lalu bagaimana <a title="cara mengobati hati" href="http://konsultasisyariah.com/materi-singkat-kultum-ramadhan-3-obat-untuk-penyakit-hati" target="_blank"><strong>cara mengobati hati</strong></a>?</p>
<p>Imam Ibnul Qoyim, dalam karyanya Ighatsatul Lahafan (1/16 – 17) menjelaskan bahwa ada 3 teori pokok untuk mengobati sesuatu yang sakit. Teori ini juga digunakan dalam ilmu medis.</p>
<p>Dalam dunia medis, ketika seorang dokter hendak mengobati pasien, dia akan memberlakukan 3 hal:</p>
<p>Pertama, [حِفْظُ القُوَّة] menjaga kekuatan. Ketika mengobati pasien, dokter akan menyarankan agar pasien banyak makan yang bergizi, banyak istirahat, tenangkan pikiran, tidak lupa, sang dokter juga memberikan multivitamin. Semua ini dilakukan dalam rangka menjaga kekuatan fisik pasien.</p>
<p>Ibnul Qoyim menjelaskan, orang yang sakit hati, salah satu upaya yang harus dia lakukan adalah menjaga kekuatan mentalnya, dengan ilmu yang bermanfaat dan melakukan berbagai ketaatan. Hatinya harus dipaksa untuk mendengarkan nasehat dan ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan sunah, serta fisiknya dipaksa untuk melakukan ibadah dan ketaatan. Karena ilmu dan amal, merupakan nutrisi bagi hati manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadis riwayat Bukhari, memisalkan ilmu sebagaimana hujan dan hati manusia sebagaimana tanah. Karena hati senantiasa butuh nutrisi berupa ilmu.</p>
<p>Kedua, [الحِمَايَة عَنِ الـمُؤْذِى] melindungi pasien dari munculnya penyakit yang baru atau sesuatu yang bisa memparah sakitnya.</p>
<p>Dalam mengobati pasien, tahapan lain yang dilakukan dokter adalah menyarankan pasien untuk menghindari berbagai pantangan sesuai jenis penyakit yang diderita pasien.</p>
<p>Hal yang sama juga berlaku untuk penyakit hati. Seperti yang dijelaskan Ibnul Qoyim, orang yang sakit harus menghindari segala yang bisa memperparah panyakit dalam hatinya, yaitu dengan menjauhi semua perbuatan dosa dan maksiat. Dia hindarkan dirinya dari segala bentuk penyimpangan. Karena dosa dan maksiat adalah sumber penyakit bagi hati. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bagaimana bahaya dosa bagi hati manusia,</p>
<p>إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ» {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}</p>
<p>Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan perbuatan maksiat maka akan dititikkan dalam hatinya satu titik hitam. Jika dia meninggalkan maksiat itu, memohon ampun dan bertaubat, hatinya akan dibersihakn. Namun jika dia kembali maksiat, akan ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar-raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan sanadnya dinilai kuat oleh Syuaib Al-Arnauth).</p>
<p>Ketiga, [اِسْتِفْرَاغُ الـمَوَاد الفَاسِدَة] menghilangkan penyakit yang ada dalam dirinya</p>
<p>Tahapan terakhir, setelah dokter memastikan jenis penyakit yang diderita pasien, dokter akan memberikan obat untuk menyerang penyakit itu. Dokter akan memberinkan antibiotik dengan dosis yang sesuai, atau obat lainnya yang sesuai dengan penyakit pasien.</p>
<p>Di bagian akhir keterangannya untuk pembahasan ini, Ibnul Qoyim menjelaskan bahwa<a title="cara untuk menghilangkan penyakit yang merusak hati" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">cara untuk menghilangkan penyakit yang merusak hati</a> adalah dengan banyak bertaubat, beristighfar, memohon ampunan kepada Allah. Jika kesalahan itu harus ditutupi dengan membayar kaffarah maka dia siap membayarnya. Jika terkait dengan hak orang lain, diapun siap dengan meminta maaf kepadanya.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggambarkan,</p>
<p>التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ، كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ</p>
<p><em>Orang yang bertaubat dari satu perbuatan dosa, seperti orang yang tidak melakukan dosa itu.</em>(HR. Ibn Majah).</p>
<p>Karena dengan taubat, berarti dia menghilangkan penyakit hati berupa dosa dalam dirinya.</p>
<p>Jamaah yang kami hormati,</p>
<p>Obat yang diberika seorang dokter akan berbeda-beda sesuai dengan jenis dan tingkat penyakit yang diderita pasien.</p>
<p>Dokter akan memberikan penanganan lebih, ketika sakit yang diderita pasien cukup parah, bahkan sampai harus rawat inap di ICU atau bahkan CCU. Dengan rentang waktu berbeda-beda, atau bahkan pemberian obat tanpa batas waktu. Termasuk treatment operasi dan ampuntasi.</p>
<p>Sama halnya dengan mereka yang sakit hatinya. Jika penyakit yang diderita sangat parah, karena pelanggaran yang dilakukan adalah dosa besar, syariat memberikan treatment sampai pada taraf hukuman had, seperti cambuk, potong tangan, pengasingan, qishas, denda, hingga rajam.</p>
<p>Sebagaimana anda tidak dibenarkan untuk menuduh dokter kejam karena melakukan bedah operasi atau amputasi. Anda juga sangat tidak dibenarkan mengatakan islam kejam karena memberikan hukuman kematian.</p>
<p><em>Allahu a’lam.</em></p>
<p>Semoga Allah melindungi kita dari segala penyakit hati yang berbahaya, dan menjadikan hati kita, hati yang sehat, yang bisa merasakan lezatnya iman, islam, dan amal soleh.</p>
<p>Amiin..</p>
<p>وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ</p>
<p><strong>Ditulis oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi keluarga dan rubrik kesehatan" href="http://konsultasisyariah.com/" target="_blank">www.KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Raya Idul Adha</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/859/selamat-hari-raya-idul-adha/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2014 04:12:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=859</guid>

					<description><![CDATA[Idul Adha dilakukan sehari setelah pelaksanaan puncak ibadah haji, Wukuf Arafah, ditunaikan oleh mereka yang sedang menunaikannya. Pada hari ini yang dinamai sebagai hari "nahar" atau hari mengalirnya darah hewan korban, para jema'ah haji mengalir (afadha dalam bahasa Qur'annya) ke daerah Mina untuk melakukan pelemparan terhadap "Jamrah Aqabah" yang selanjutnya &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><meta http-equiv="content-type" content="text/html; charset=utf-8" /></p>
<pre>Idul Adha dilakukan sehari setelah pelaksanaan puncak ibadah haji, Wukuf
Arafah, ditunaikan oleh mereka yang sedang menunaikannya. Pada hari ini yang
dinamai sebagai hari "nahar" atau hari mengalirnya darah hewan korban, para
jema'ah haji mengalir (afadha dalam bahasa Qur'annya) ke daerah Mina untuk
melakukan pelemparan terhadap "Jamrah Aqabah" yang selanjutnya dilanjutkan
dengan tahallul awal sebagai tanda dihalakannya kembali berbagai hal yang
diharamkan dalam rangkaian ihram, kecuali hubungan suami-isteri (seksual).

Rangkaian kata Idul-Adha yang terdiri dari dua kata itu berasal dari bahasa
Arab. Kata pertama Idul berasal dari kata "'aada-ya'uudu-awdatan wa 'iidan"
yang berarti kembali. Sedangkan Adha adalah kata kerja yaitu
"Adha-Yudhii-udhiyatan" yang berarti berkorban. Dengan demikian, idul adha
adalah suatu perayaan yang dilakukan oleh ummat sebagai tekad untuk kembali
kepada semangat pengorbanan.

Defenisi ini tentu sangat sederhana. Namun saya yakin, jika kita kaji lebih
jauh makna filosofis yang ada padanya, akan kita dapati betapa hal ini
sangat mendasar dalam kehidupan kita. Dikatakan bahwa kehidupan ini adalah
jihad atau perjuangan (al hayaatu jihaadun), sedangkan setiap perjuangan
membutuhkan pengorbanan. Dengan demikian, sifat berkorban adalah sifat
keharusan bagi setiap insan. Sehingga kesadaran untuk kembali kepada sifat
ini merupakan suatu keharusan pula.

Dalam konteks waktu pelaksanaannya, yaitu pada hari pelemparan Jumrah Aqabah
dilakukan oleh jama'ah haji, juga menunjukan bahwa salah satu bentuk
pengorbanan yang paling mendesak adalah pengrobanan dalam melakukan
perlawanan tanpa akhir dengan musuh-musuh kita. Sehingga perayaan idul adha
juga berarti suatu kesadaran sejati untuk melakukan perlawanan terhadap
musuh-musuh manusia dalam kehidupan ini.

Kali ini, saya tidak akan menguraikan makna idul adha dari kata "adha" ini
sendiri, melainkan saya akan bertolak dari kata "Korban" yang lebih dikenal
di kalangan Muslim Indonesia. Korban dalam bahasa Indonesia sesungguhnya
juga berasal dari kata Arab "Qurbaan" yang asalnya adalah
"Qaruba-yaqrabu-qurbun wa qurbaan" (kedekatan yang sangat).

Kata "qurbaan" adalah bentuk tafdhiil yang menunjukkan penguatan terhadap
sifat yang dikandung kata tersebut. Dengan demikian, kurbaan atau korban
adalah wujud kedekatan yang sangat tinggi. Sehingga dapat dikatakan bahwa
dengan simbol penyembelihan hewan seorang hamba diharapkan semakin dekat
(qariib) dengan Rabnya. Penyerahan pengorbanan dan tersimbahnya darah dari
hewan adalah simbol penyerahan hidup seorang hamba kepada Rabbul 'aalamin
sekaligus pembuktian dari ikrarnya: "Qul inna shalaati wa nusukii wamahyaaya
mamaati lillahi Rabbil 'aalamiin" (sungguh shalatku, pengorbananku, hidup
dan matiku adalah milik Allah, Tuhan seluruh alam).

Melaksanakan korban adalah bentuk ritual yang sedemikian suci dan tinggi
yang menggambarkan kedekatan seorang hamba terhadap Sang Khaliq. Seolah
dengan segala keredhaan, dipersembahkan yang tercinta (kasus Ibrahim dengan
anaknya) dalam rangka meraih keredhaan Ilahi. Sehingga pada akhirnya akan
terpatri suatu hubungan yang dibangun di atas landasan "Radhiyatun
Mardhiyaatun" yaitu seorang hamba yang memiliki jiwa yang redha lagi
diridhai oleh Allah SWT" Tingkatan kejiwaan seperti ini adalah puncak
kejiwaan insan muttaqiin, sebagaimana disebutkan dalam tingkatan-tingkatan
tangga riyadhah nafsiyah (latihan kejiwaan) dalam dunia tasawuf.

Penjelasan kejiwaan seperti ini sendiri sejalan dengan makna lain yang
dikandung oleh kata "Adha" atau "Dhuha".

Dalam bahasa Arab, selain berarti pengorbanan, kata dhuha juga berarti suatu
waktu di mana mentari sedang menapaki jenjang awal dalam terbitnya. Maka
dikenallah misalnya waktu dhuha dengan shalat sunnah dhuhanya. Waktu ini
secara khusus dinamakan dhuha, karena pada masa ini merupakan awal mentari
pagi menapaki jenjang-jenjang kebarangkatannya menuju ufuk.

Artinya, Pengorbanan yang dilakukan seorang Mu'min sesungguhnya juga
merupakan mentari jiwa dalam menapaki kehidupannya menuju alam kehidupan
sejatinya. Diharapkan dengan motivasi pengorbanan, jiwa semakin bersih, suci
(muzakkah) sehingga dapat berpaut dengan nuur cahaya Ilahi. Dengan jiwa
bersih dan suci ini (qalbun saliim) seorang Muslim manapaki sisa-sisa
perjalanannya menuju Khaliqnya. Hanya jiwa seperti ini yang dapat membawa
manfaat di hari segala sesuatunya akan sia-sia dan bahkan menjadi penyesalan
(yawma laa yanfa'u maalun wa laa banuun, illa man atallaha biqalbin saliim).

Namun, akankah serpihan sinar tersebut bersembunyi di balik nurani-nurani
manusia? Akankah ia ragu menampakkan diri kepada mereka-mereka yang di
sekeliling kita? Masihkah pantulan sinar itu terhijab oleh ego manusia itu
sendiri?

Bagi Muslim sejati, jawabnya adalah tidak. Seorang Muslim sejati,
sebagaimana ia dituntut untuk terus membesarkan sinar qalbunya, juga
dituntut agar sinar qalbunya mampu terrefleksi ke alam sekitarnya. Di
sinilah ia dituntut dalam pengabdiannya untuk bertakbir (Allahu akbar)
membesarkan Ilahi. Namun pada akhirnya jua ia harus menyinari alam
sekitarnya dengan sinar kedamaian dan ketentraman (Salaam).

Kesadaran jiwa pengrobanan seperti ini menjadi tuntutan yang begitu mendesak
saat ini. Pasca krisis yang terjadi di negara kita telah meninggalkan
permasalahan-permasalahan sosial yang cukup parah. Pengangguran, yang nota
benenya hampir semuanya adalah Muslim, kini mencapai jumlah 36 juta manusia.
Pembantaian sistematis akibat dendam yang tak berkesudahan di berbagai
tempat, khususnya di Maluku masih terus berlangsung. Anak-anak remaja yang
tercampakkan ke dalam jurang narkoba, prostitusi dan berbagai masalah
lainnya, telah mengancam masa depan generasi ummat ini. Semua ini adalah
realita-realita kehidupan yang membutuhkan sinar (dhuha) mentari yang
terpantul dalam nurani setiap Mu'min. Akankah kita biarkan semua ini
berlalu? Akankah kita merayakan pengorbanan ini, sementara tak secercah
sinar pengorbanan terbetik dalam jiwa kita? Ingat, "Man lam yahtamma bi
amril Muslimiina falaesa Minhum" (sungguh siapa yang tidak memperhatikan
masalah ummat Islam, maka bukanlah dari golongan mereka).

Semoga Idul Adha kita kali ini menjadi semangat pengorbanan yang hakiki.
Suatu semangat yang melandasi hidup dan kehidupan kita menuju ridha Ilahi,
sekaligus menyinari qalbu dan nurani kita untuk menengok realita kebesaran
Khaliq an realita kehidupan di sekitar kita. Alangkah, kegelapan menjadi
kabut tebal yang menutupi kebenaran Ilahi di sekitar kita perlu disingkap
dengan sinar mentari pagi (dhuha) yang kita rayakan ini. Wallahu A'lam, dan
Selamat berkorban.

M. Syamsi Ali
New York</pre>
<div></div>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>4O KEBERKAHAN PADA BULAN RAMADHAN</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/769/4o-keberkahan-pada-bulan-ramadhan/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/769/4o-keberkahan-pada-bulan-ramadhan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2014 08:55:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=769</guid>

					<description><![CDATA[Berbicara bulan Ramadhan memang sangat menarik bagi kita semua umat muslim di dunia. Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan penuh kenikmatan. Namun, banyak dari kita menyalahartikan ramadhan sehingga mereka tidak mendapat makna dan hikmah dari bulan ramadhan tersebut. sebelum memasuki bulan ramadhan berdasarkan hadis rasul ada 3 &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/07/ramadan11.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-770" alt="ramadan11" src="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/07/ramadan11.jpg" width="320" height="240" srcset="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/07/ramadan11.jpg 320w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/07/ramadan11-300x225.jpg 300w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2014/07/ramadan11-268x200.jpg 268w" sizes="(max-width: 320px) 100vw, 320px" /></a></p>
<div>Berbicara bulan Ramadhan memang sangat menarik bagi kita semua umat muslim di dunia. Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, bulan penuh ampunan, bulan penuh kenikmatan. Namun, banyak dari kita menyalahartikan ramadhan sehingga mereka tidak mendapat makna dan hikmah dari bulan ramadhan tersebut. sebelum memasuki bulan ramadhan berdasarkan hadis rasul ada 3 hal yang apabila tidak dilakukan maka puasanya di bulan ramadhan tidak diterima.</div>
<div></div>
<div>waktu zaman rasulullah saw, malaikat jibril datang kepada rasul dan meminta doannya untuk diaminkan, rasulullah pun mengaminkan doa malaikat jibril tersebut, doa yang pertama &#8220;jangan diterima puasa suami yang tidak meminta maaf kepada istrinya dan sebaliknya istri yang tidak meminta maaf kepada suaminya&#8221; rasulullah saw pun mengaminkannya, kedua &#8220;jangan diterima puasa orang tua yang tidak meminta maaf kepada anak-anaknya dan sebaliknya anak-anak yang tidak meminta maaf kepada orang tuanya&#8221; rasulullah saw pun mengaminkan, dan yang terakhir &#8220;jangan diterima puasa orang yang tidak saling meminta maaf kepada tetangganya&#8221; rasulullah saw mengaaminkan kembali. doa ini insyaAllah akan terkabul.</div>
<div></div>
<div>oleh karena itu agar ibadah puasa kita mendapat berkah dan diterima oleh Allah SWT maka sebelum puasa ini marilah kita saling meminta maaf dan saling memaafkan kepada oarang tua, suami, istri, anak, dan tetangga kita. karena dengan itu semua kita akan lebih mendekatkan tali silaturahmi kita.</div>
<div></div>
<div>kemudian perbedaan 1 ramadhan di Indonesia ini janganlah kita jadikan sebuah perdebatan, lebih baik kita saling menghormati dan menjalankan ibadah puasa dengan khusuk dan penuh keikhlasan.</div>
<div></div>
<div>oleh karena hal itu semua maka kami segenap penulis blog AURELLYRERESAPUTRA memohon pintu maaf yang seluas-luasnya kepada para pengunjung dan pembaca apabila blog kami belum bisa memberikan yang terbaik dan apabila ada artikel kami yang menyinggung para pengunjung dan pembaca, kami pun meminta maaf keapad orang tua kami dan kepada saudara-saudara kami dan kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mengembangkan blog ini walaupun masih jauh dari kata sempurna.</div>
<div></div>
<div>sumber: http://aurellyreresaputra.blogspot.com/2013/07/ramadhan-bulan-penuh-berkah.html</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/769/4o-keberkahan-pada-bulan-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>4</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bulan Penuh Berkah, Rahmat dan Ampunan</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/767/ramadhan-bulan-penuh-berkah-rahmat-dan-ampunan/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/767/ramadhan-bulan-penuh-berkah-rahmat-dan-ampunan/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2014 08:52:38 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=767</guid>

					<description><![CDATA[Minggu kedua bulan Agustus ini umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa sebulan penuh, tepatnya pada bulan suci Ramadhan 1431 H. Mengapa bulan Ramadhan menjadi bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia? Dan ada apa dengan malam Lailatulkadar? Yang pasti, Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Minggu kedua bulan Agustus ini umat Islam di seluruh dunia melaksanakan puasa sebulan penuh, tepatnya pada bulan suci Ramadhan 1431 H. Mengapa bulan Ramadhan menjadi bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh umat muslim di seluruh dunia? Dan ada apa dengan malam Lailatulkadar? Yang pasti, Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan maghfiroh (ampunan), seperti disebutkan pada firman Allah SWT di dalam kitab suci Al-Quran.<br />
Sesuai firman Allah SWT di dalam Al-Quran yang berbunyi: &#8220;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang bertaqwa.&#8221; (Surat Al-Baqarah: 183). Menyitir dari ayat tersebut maka jelaslah Allah SWT menegaskan bahwa puasa merupakan wajib hukumnya, seperti tertuang dalam Rukun Islam. Dan dalam ayat ini Allah SWT hanya menyeru kepada orang-orang yang beriman, dalam artian bagi mereka yang mengerti akan makna puasa Ramadhan dan hikmah di baliknya.<br />
Namun demikian, wajar bila ibadah puasa dikatakan bukanlah ibadah yang ringan. Pasalnya, dalam puasa kita dituntut dua aspek, yakni aspek fisik dan psikis. Secara fisik kita dituntut menahan rasa haus dahaga dan lapar, dan secara psikis puasa melatih kita untuk berupaya menahan emosi, selalu berbuat dan berkata jujur, berperilaku sopan dan santun, menjauhi yang dilarang Allah seperti tidak mencuri, berbohong, apalagi berbuat korupsi!<br />
Itu sebabnya, kehadiran bulan Ramadhan hanyalah &#8220;menyapa&#8221; orang-orang yang salih, beriman dan bertaqwa. Artinya, tidak semua umat mampu menjalankan ritual ini kecuali muslim yang selalu taqarub, mendekatkan diri pada Sang Khaliq. Tentang mengapa tidak semua umat manusia di dunia mampu melaksanakan ibadah ini, oleh karena puasa atau shaum menuntut berbagai hal kepada setiap individu, baik kekuatan fisik dan kesiapan psikis untuk selalu menahan hawa nafsu seharian penuh selama sebulan penuh.</p>
<p>Syarat wajib puasa<br />
Dalam bahasa Arab, puasa disebut saumun atau siyamun, artinya &#8220;menahan&#8221;. Sementara itu menurut ajaran agam Islam, puasa adalah menahan diri dari makan, minum, dan segala hal yang membatalkannya serta mengendalikan diri dari hawa nafsu sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap muslim yang telah baligh, berakal sehat, baik laki-laki maupun perempuan.<br />
Ada beberapa syarat wajib puasa antara lain: pertama baligh atau cukup umur, artinya telah dewasa. Maka, anak-anak yang belum baligh boleh mengerjakan puasa sebagai latihan. Kedua, berakal sehat. Bagi orang yang berubah akalnya atau orang gila tidak wajib puasa. Ketiga, bagi kaum wanita tentunya tidak dalam keadaan haid atau nifas.<br />
Dan keempat, orang tersebut mampu atau kuat melaksanakan puasa, artinya orang yang sakit atau sudah tua renta boleh tidak berpuasa. Orang yang sakit bila sudah sembuh, maka harus menggantinya atau meng-qada pada bulan yang lain sebanyak hari yang ditinggalkannya, sedangkan orang sudah tua renta dapat diganti dengan membayar fidyah.<br />
Syarat sahnya puasa antara lain beragama Islam. Orang yang tidak memeluk agama Islam puasanya tidak sah. Juga Mumayyiz, yaitu orang yang dapat membedakan yang benar dan yang salah. Suci dari haid (darah kotor) dan nifas (orang yang keluar darah setelah melahirkan). Kemudian pada waktu yang diperbolehkan berpuasa, misalnya puasa hanya boleh dilaksanakan pada siang hari.<br />
Rukun puasa yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, pertama niat dengan menyengaja mengerjakan puasa Ramadhan. Dan kedua, menahan diri dari segala perbuatan yang dapat membatalkan puasa sejak terbit fajar (subuh) hingga terbenam matahari (maghrib).<br />
Untuk niat berpuasa di bulan Ramadhan cukup di dalam hati. Akan tetapi, ada juga yang biasa mengucapkannya. Niat puasa Ramadhan sebaiknya dilakukan pada malam hari, karena jika di siang hari maka puasanya tidak sah. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad SAW: &#8220;Dari Hafsah Ummul Mu&#8217;minin RA bahwasanya Nabi SAW bersabda: Barang siapa yang tidak menetapkan puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.&#8221; (HR Lima Perawi Hadist).</p>
<p>Hikmah puasa<br />
Mengapa Allah SWT mewajibkan orang beriman untuk berpuasa? Tujuan utama dari puasa adalah untuk membentuk manusia yang bertaqwa. Selain itu, puasa juga memiliki beberapa hikmah yang sangat mendalam. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah SWT, baik dalam Al-Qur&#8217;an maupun Hadist Rasulullah SAW bahwa hikmah-hikmah puasa tersebut adalah:<br />
1. Meningkatkan derajat orang mukmin menjadi orang yang bertaqwa. Sebab orang yang bertaqwa itu adalah orang yang paling mulia di sisi Allah SWT, sesuai firman Allah SWT (QS Al-Hujurat: 13): &#8220;Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah yang paling taqwa di antara kamu.&#8221;<br />
2. Menyehatkan badan. Sabda Nabi Muhammad SAW: &#8220;Berpuasalah agar kamu sehat.&#8221; Maka, hikmah yang terkandung dalam puasa, bukan hanya berguna untuk menyehatkan jiwa belaka, melainkan juga dapat menyehatkan badan. Ini sebagaimana disabdakan nabi dalam hadist di atas.<br />
3. Mendidik orang untuk memiliki sifat sabar. Jika puasa tersebut dilakukan dengan sebaik-baiknya maka akan timbul dalam diri seseorang sifat sabar, karena dalam berpuasa seseorang akan dilatih untuk bisa menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa, misalnya makan dan minum. Walaupun makanan dan minuman yang dimiliki halal, namun ia tidak mau memakan dan meminumnya karena belum waktunya untuk makan dan minum sampai waktu maghrib.<br />
4. Puasa merupakan pelindung diri dari perbuatan keji dan munkar atau tidak senonoh. Sebagaimana sabda Nabi SAW: &#8220;Puasa itu perisai (pelindung diri) yang membentengi dari sentuhan api neraka.&#8221; (HR Ahmad, Muslim dan Al-Baihaqi).<br />
5. Menanamkan rasa cinta kasih kepada orang fakir dan miskin karena dapat merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan makanan. Setelah kita seharian merasakan menahan rasa lapar tentunya akan menumbuhkan rasa kasih dan sayang kepada orang-orang fakir dan miskin.</p>
<p>Malam Lailatulkadar<br />
Salah satu kemuliaan dan keistimewaan yang terkandung di dalam bulan suci Ramadhan adalah adanya satu malam yang disebut Lailatulkadar. Malam Lailatulkadar selalu menjadi malam yang ditunggu-tunggu, dirindukan dan teramat dinantikan. Pasalnya, malam Lailatulkadar adalah malam yang penuh berkah, dan lebih baik dari seribu bulan.<br />
Mengapa demikian? Karena, pertama, pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi untuk memberi salam &#8211; kesejahteraan, kebahagiaan dan keselamatan &#8211; kepada umat Nabi Muhammad SAW hingga terbit fajar.<br />
Kedua, Allah SWT mengevaluasi ketetapan-Nya terhadap manusia. Paling tidak, untuk setahun ke depan Allah akan mengoreksi ketetapan-Nya untuk menjadi lebih baik atau buruk, tergantung bagaimana umat Islam yang beriman itu memanfaatkan malam-malam turunnya Lailatulkadar secara optimal dan bermakna.<br />
Ketiga, diturunkannya Al-Quran menjadi pedoman hidup bagi manusia. Dan keempat, sebagai kado istimewa dari Tuhan Yang Maha Kuasa kepada khusus umat Nabi Muhammad SAW, sebagaimana sabdanya: &#8220;Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada umatku malam Al-Qadr dan itu tidak diberikan kepada umat sebelumnya.&#8221; (HR Addailamy)<br />
Maka, malam Lailatulkadar selalu menjadi malam yang ditunggu-tunggu, dirindukan dan teramat dinantikan. Sebab, malam Lailatulkadar adalah malam yang penuh berkah, dan lebih baik dari seribu bulan. Meskipun sesungguhnya malam yang istimewa itu dirahasiakan Allah, dan selalu menjadi misteri kapan persisnya ia turun, namun sebagai umat Islam kita patut bersyukur.<br />
Dan untuk meraih malam Lailatulkadar kali ini, mari kita tetap semangat beribadah, bekerja, dan membangun kehidupan rahmatan lil-alamin.<br />
*)Penulis adalah pengajar dan Ketua Paguyuban Udho Setiko.</p>
<p>sumber: http://www.gemari.or.id/artikel/4820.shtml</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/767/ramadhan-bulan-penuh-berkah-rahmat-dan-ampunan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Marhabah Ya Ramadhan</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/764/marhabah-ya-ramadhan/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/764/marhabah-ya-ramadhan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2014 08:48:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=764</guid>

					<description><![CDATA[Marhaban Ya Ramadha Ditulis oleh Muhammad Niam Umat Islam kini kembali menjalankan ibadah puasa Ramadan. Bulan yang oleh Allah subhanahu wata&#8217;ala dihimpun di dalamnya rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan), dan itqun minan naar (terselamatkan dari api neraka). Bulan Ramadan juga disebut dengan &#8220;shahrul Qur&#8217;an&#8221;, bulan diturunkannya al-Qur&#8217;an yang merupakan lentera &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<table class=" alignleft" width="700">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: justify;" width="100%"><a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=1175:marhaban-ya-ramadhan&amp;catid=15:pengajian&amp;Itemid=63">Marhaban Ya Ramadha</a></td>
<td style="text-align: justify;" align="right" width="100%"></td>
<td style="text-align: justify;" align="right" width="100%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table>
<tbody>
<tr>
<td valign="top">Ditulis oleh Muhammad Niam</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p style="text-align: left;">Umat Islam kini kembali menjalankan ibadah puasa Ramadan. Bulan yang oleh Allah subhanahu wata&#8217;ala dihimpun di dalamnya <em>rahmah</em> (kasih sayang), <em>maghfirah</em> (ampunan), dan <em>itqun minan naar</em> (terselamatkan dari api neraka). Bulan Ramadan juga disebut dengan &#8220;shahrul Qur&#8217;an&#8221;, bulan diturunkannya al-Qur&#8217;an yang merupakan lentera hidayah ketuhanan yang sangat dibutuhkan umat manusia dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta mana jalan yang benar dan mana jalan yang sesat.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah SWT mengistemewakan bulan Ramadan di atas bulan-bulan lainnya dengan menurunkan Al-Qur&#8217;an di dalamnya. Kitab-kitab suci yang diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu juga diturunkan pada bulan Ramadan. Kitab nabi Ibrahim (<em>suhuf</em>) diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan, kitab Zabur diturunkan kepada nabi Dawud pada malam kedua belas bulan Ramadan, kitab Taurat diturunkan kepada nabi Musa pada malam keenam bulan Ramadan dan kitab Injil kepada nabi Isa diturunkan pada malam ketiga belas bulan Ramadan. Kitab-kitab tersebut merupakan petunjuk bagi umat manusia ke jalan yang benar dan penyelamat dari jalan yang sesat. Maka bulan Ramadan dalam sejarahnya merupakan bulan dimulainya gerakan membasmi kemusyrikan di muka bumi, menghancurkan kekufuran, menepis kedengkian, melawan kebatilan dan kemungkaran, hawa nafsu serta kesombongan.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Melalui puasa Ramadan, Allah SWT menguji hamba-Nya untuk mengendalikan nafsunya, serta memberikan kesempatan kepada kalbu untuk menembus wahana kesucian dan dan kejernihan rabbani. para hukama terdahulu meyakini bahwa dengan perut adalah pengendali nafsu manusia. Luqman Hakim pernah menasehati anaknya ”Wahai anakku, manakala perutmu kenyang, maka tidurlah fikiranmu, sirnalah kecerdikanmu dan anggota tubuhmu enggan beribadah”. Ali bin Abi Thalib r.a. juga berkata: ”Manakala perutmu penuh, maka kamu adalah orang yang lumpuh”. Sahabat Umar menambahkan: ”Barangsiapa banyak makannya, maka ia tidak akan merasakan kenikmatan dzikir kepada Allah”.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Puasa Ramadan dengan demkian merupakan pengendalian diri dari hegemoni nafsu syahwat dan pemisahan diri dari kebiasaan buruk dan maksiat, sehingga memudahkan bagi seorang hamba untuk menerima pancaran cahaya ilahiyah. Fakhruddin al-Razi menjelaskan dalam tafsirnya <em>Mafatihul Ghaib</em>, bahwa cahaya ketuhanan tak pernah redup dan sirna, namun nafsu syahwat kemanusiaan sering menghalanginya untuk tetap menyinari sanubari manusia, puasa merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan penghalang tersebut. Oleh karena itu pintu-pintu <em>mukashafah</em> (keterbukaan) ruhani tidak ada yang mampu membukanya kecuali dengan puasa.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa puasa adalah seperempat iman, berdasar pada hadis Nabi: <em>Ash shaumu nisfush shabri</em>, dan hadis Nabi saw: <em>Ash Shabru Nisful Iman</em>. Puasa itu seperdua sabar, dan sabar itu seperdua iman. Dan puasa itu juga ibadah yang mempuyai posisi istimewa di mata Allah. Allah berfirman dalam hadis Qudsi: &#8220;Tiap-tiap kebajikan dibalas dengan sepuluh kalilipat, hingga 700 kali lipat, kecuali puasa, ia untuk-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya&#8221;.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Imam Ghozali juga menjelaskan bahwa puasa mempunyai tiga tingkatan. Pertama puasa kalangan umum, yaitu menjaga perut dan alat kelamin dari memenuhi shawatnya sesuai aturan yang ditentukan. Kedua adalah puasa kalangan khusus, yaitu selain puasa umum tadi dengan disertai menjaga pendengaran, penglihatan, mulut, tangan dan kaki serta seluruh anggota tubuh lainnya dari perbuatan maksiat. Ketiga, yang paling tinggi, adalah puasa kalangan khususnya khusus, yaitu puasa dengan menjaga hati dan pemikiran dari noda-noda hati yang hina dan dari hembusan pemikiran duniawi yang sesat serta memfokuskan keduanya hanya kepada Allah. Inilah puncak kontemplasi hamba dengan Allah SWT.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Puasa Ramadan merupakan kesempatan bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas dimensi keagamaannya. Pertama, dimensi teologis dan spiritualitas yang tercermin dalam komunikasi antara manusia dan Tuhannya, sehingga memungkinkan dalam dirinya semakin berkembang sifat-sifat ketuhanan yang sebenarnya sudah dimiliki, yakni sifat-sifat positif untuk berbuat kebajikan dan tertanam kepekaan hati nurani dalam bertingkah laku.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Kedua, dimensi sosial. Yaitu tumbuhnya kesadaran sosial dalam batin untuk peduli dengan aspek-aspek sosial kemanusiaan. Kualitas kesadaran batin dapat diukur dengan tingkat kepedulian terhadap realitas sosial tersebut, seperti ketaatan kepada pemimpin, hormat dan berbakti kepada orang tua, menyantuni anak yatim dan orang-orang miskin, membela orang yang tertindas hak dan martabatnya, keberanian melakukan kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Ketiga, dimensi mental. Dengan berpuasa akan melahirkan mental tegar dan tahan banting, sehingga mampu untuk mengahadapi berbagai tantangan, cobaan, godaan, dan ujian dalam kehidupan ini. Senantiasa optimistis dalam berikhtiar dan berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik dengan tetap mengacu pada nilai-nilai etika dan moral agama. Puasa juga akan melatih mentalitas kita untuk sportif dan jujur dalam menerima amanat dan mengemban tugas, menjauhi sikap pengecut dan khianat serta tidak mudah mengumbar emosi amarah dan permusuhan.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Keempat, dimensi etika. Dengan menjalankan ibadah puasa Ramadan dengan benar dan berkualitas, maka akan tercermin dalam diri kita nilai-nilai etika dan moral agama yang positif untuk diaktualisasikan dalam pola kehidupan sehari-hari, seperti: kemampuan menghadirkan alternatif-alternatif terbaik, dalam pola berpikir, bersikap, dan bertingkah laku; kemampuan dalam mengendalikan diri terhadap keinginan-keinginan negatif, maupun emosional destruktif; kemampuan mengarahkan diri sendiri kepada kebenaran, sifat obyektif dan konstruktif; kemampuan untuk menahan diri dari jebakan materialistik dan hedonistik serta kemampuan moralitas dalam melakukan tugas dan kewajiban melalui pertimbangan rasionalitas dan hati nurani.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">Marilah kita masuki bulan Ramadan ini dengan kesiapan diri yang prima, dengan perasaan yang tulus ikhlas untuk menjalankan ibadah-ibadah di bulan Ramadan. Marilah kita mantapkan hati dan jiwa kita dalam memperoleh kemuliaan puasa Ramadan, sehingga mengantarkan kita pada satu format kehidupan yang lebih baik. Bulan Ramadan kita jadikan momentum pembersihan diri dari dosa dan angkara murka dan penyadaran hati nurani kemanusiaan kita. Puasa jangan hanya kita laksanakan dengan menahan diri untuk tidak makan dan minum, namun yang paling substansial adalah menjadikannya upaya pengekangan diri dari segala bentuk hawa nafsu yang merugikan manusia dan kemanusiaan itu sendiri.</p>
<p style="text-align: left;">
<p style="text-align: left;">sumber: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=1175:marhaban-ya-ramadhan&amp;catid=15:pengajian&amp;Itemid=63</p>
<p style="text-align: left;">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/764/marhabah-ya-ramadhan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>5 Fakta Unik Yang Nyata Tentang Ka&#8217;bah</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/534/5-fakta-unik-yang-nyata-tentang-kabah/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/534/5-fakta-unik-yang-nyata-tentang-kabah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 27 Dec 2013 05:16:37 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=534</guid>

					<description><![CDATA[1. Ka&#8217;bah mengeluarkan sinar radiasi Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet. Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<h5>1. Ka&#8217;bah mengeluarkan sinar radiasi</p>
<p>Planet bumi mengeluarkan semacam radiasi, yang kemudian diketahui sebagai medan magnet. Penemuan ini sempat mengguncang National Aeronautics and Space Administration (NASA), badan antariksa Amerika Serikat, dan temuan ini sempat dipublikasikan melalui internet. Namun entah mengapa, setelah 21 hari tayang, website yang mempublikasikan temuan itu hilang dari dunia maya.</p>
<p>Namun demikian, keberadaan radiasi itu tetap diteliti, dan akhirnya diketahui kalau radiasi tersebut berpusat di kota Makkah, tempat di mana Ka&#8217;bah berada. Yang lebih mengejutkan, radiasi tersebut ternyata bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbuktikan ketika para astronot mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih tetap terlihat. Para peneliti Muslim mempercayai bahwa radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka&#8217;bah di planet bumi dengan Ka&#8217;bah di alam akhirat.</p>
<p>2. Zero Magnetism Area</p>
<p>Di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan, ada suatu area yang bernama ‘Zero Magnetism Area’, artinya adalah apabila seseorang mengeluarkan kompas di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub.</p>
<p>Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, maka ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab itu, ketika mengelilingi Ka’ah, maka seakan-akan fisik para jamaah haji seperti di-charge ulang oleh suatu energi misterius dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah.</p>
<p>3. Tekanan Gravitasi Tinggi</p>
<p>Ka&#8217;bah dan sekitarnya merupakan sebuah area dengan gaya gravitasi yang tinggi. Ini menyebabkan satelit, frekuensi radio ataupun peralatan teknologi lainnya tidak dapat mengetahui isi di dalam Ka&#8217;bah. Selain itu, tekanan gravitasi tinggi juga menyebabkan kadar garam dan aliran sungai bawah tanah tinggi. Inilah yang menyebabkan salat di Masjidil Haram tidak akan terasa panas meskipun tanpa atap di atasnya.</p>
<p>Tekanan gravitasi yang tinggi memberikan kesan langsung kepada sistem imun tubuh untuk bertindak sebagai pertahanan dari segala macam penyakit.</p>
<p>4. Tempat ibadah tertua</p>
<p>Pembangunan Ka&#8217;bah telah dilakukan sejak zaman Nabi Adam AS. Ada pula sumber yang menyebutkan, Ka&#8217;bah telah dibangun semenjak 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan. Pembangunannya pun memerlukan waktu yang lama karena dilakukan dari masa ke masa.</p>
<p>Menurut sebagian riwayat, Ka&#8217;bah sudah ada sebelum Nabi Adam AS diturunkan ke bumi, karena sudah dipergunakan oleh para malaikat untuk tawwaf dan ibadah. Ketika Adam dan Hawa terusir dari Taman Surga, mereka diturunkan ke muka bumi, diantar oleh malaikat Jibril. Peristiwa ini jatuh pada tanggal 10 Muharam.</p>
<p>5. Ka&#8217;bah memancarkan energi positif</p>
<p>Ka&#8217;bah dijadikan sebagai kiblat oleh orang yang salat di seluruh dunia, karena orang salat di seluruh dunia memancarkan energi positif apalagi semua berkiblat kepada Ka&#8217;bah. Jadi dapat Anda bayangkan energi positif yang terpusat di Ka&#8217;bah, dan juga menjadi pusat gerakan salat sepanjang waktu karena diketahui waktu salat mengikuti pergerakan matahari. Itu artinya, setiap waktu sesuai gerakan matahari selalu ada orang yang sedang salat. Jika sekarang seseorang di sini melakukan salat Dhuhur, demikian pula wilayah yang lebih barat akan memasuki waktu Dhuhur dan seterusnya atau dalam waktu yang bersamaan orang Indonesia salat Dhuhur orang yang lebih timur melakukan salat Ashar demikian seterusnya.</p>
<p>Memandang Ka&#8217;bah dengan ikhlas akan mendatangkan ketenangan jiwa. Aturan untuk tidak mengenakan topi atau kepala saat beribadah haji juga memiliki banyak manfaat. Rambut yang ada di tubuh manusia dapat berfungsi sebagai antena untuk menerima energi postif yang dipancarkan Ka&#8217;bah.</h5>
<p>https://www.facebook.com/1SLAM.TERBUKTI.BENAR/posts/536529463055405</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/534/5-fakta-unik-yang-nyata-tentang-kabah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Manfaat Sedekah</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/476/manfaat-sedekah/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/476/manfaat-sedekah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Dec 2013 04:31:12 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=476</guid>

					<description><![CDATA[Inilah rumus matematika sedekah Siapa yang menginkan 10, sedekahkan saja 1 Siapa menyedekahkan 1, ia akan dapat 10 Jika anda punya uang 1 juta dan ingin mendapatkan uang dua juta, cukup anda sedekahkan 200 ribu, namun jika anda menginginkan yang 10 juta, infaqkan saja semuanya yang satu juta. Jika perusahaan &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Inilah rumus matematika <a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/sambutan-positif-masyarakat-ke-e-miracle-yusuf-mansur/">sedekah</a></strong></p>
<p><a href="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/12/SEDEKAH-Tidak-harus-KAYA.jpg"><img decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-477" alt="SEDEKAH-Tidak-harus-KAYA" src="http://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/12/SEDEKAH-Tidak-harus-KAYA.jpg" width="640" height="303" srcset="https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/12/SEDEKAH-Tidak-harus-KAYA.jpg 640w, https://perpustakaansidodadi.com/wp-content/uploads/2013/12/SEDEKAH-Tidak-harus-KAYA-300x142.jpg 300w" sizes="(max-width: 640px) 100vw, 640px" /></a></p>
<p>Siapa yang menginkan 10, sedekahkan saja 1<br />
Siapa menyedekahkan 1, ia akan dapat 10</p>
<p>Jika anda punya <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">uang</a> 1 juta dan ingin mendapatkan uang dua juta, cukup anda sedekahkan 200 ribu, namun jika anda menginginkan yang 10 juta, infaqkan saja semuanya yang satu juta.</p>
<div>Jika perusahaan menginginkan keuntungan hingga seratus maka anda mesti menyedekahkan sebesar sepuluh juta, atau jika perusahaan anda keuntungannya bersih 1 milyar menginginkan penambahan keuntungan hingga 2 milyar, perusahaan anda mesti keluarkan sedekah 200 juta.</div>
<div>Jika anda sakit, dan sang dokter memberikan rincian biaya yang mesti dikeluarkan selama 1 bulan perawatan adalah 100 juta, maka untuk mempercepat kesembuhan sedekahkan saja 10 juta</div>
<div>Segera buktikan ayat-ayat <a href="http://yusufmansur.biz/video/terkabulnya-doa-1-dan-2/">Allah</a> bahwa itu akan tergantikan 10 kali lipat bahkan <a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/kaya-bersama-e-miracle-ustad-yusuf-mansur/">bisa</a> lebih dari 700 kali lipat, anda mesti yakin. Berbagilah kepada sesama, kepada orang-orang yang disekitar anda yang lebih membutuhkan dan tunggulah keajaiban itu tidaklah lagi akan datang.</div>
<div>Jika itu terbukti, anda mesti menjadi orang yang ketagihan dalam bersedekah. Lihatlah orang-orang yang disekeliling anda yang lebih membutuhkan dari anda. Kunjungilah orang-orang yang tak mampu,</div>
<div>Alihkan belanja anda yang tadinya ke toko besar ke warung-warung kecil di sekitar anda, belanja sayuran kepada tukang sayur keliling, mudah-mudahan itu akan lebih membantu mereka</div>
<div>“Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba <a href="http://yusufmansur.biz/video/di-bawah-lindungan-allah/">Allah</a> kecuali turun kepada mereka dua <a href="http://yusufmansur.biz/aqidah/alam-jin-penciptaan-dan-bentuk-fisik-jin/">malaikat</a>. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhari 5/270)</div>
<div>Dari Abu Hurairah r.a: “Ada seorang lelaki datang kepada <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/kafir-hidup-kaya-muslim-nampak-miskin/">Nabi</a> s.a.w. lalu berkata: “Ya <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">Rasulullah</a>, sedekah manakah yang teragung pahalanya?” Rasulullah s.a.w. bersabda: <em>“jikalau engkau bersedekah, sedangkan engkau itu masih <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">sehat</a>, dan sebenarnya engkau merasa sayang mengeluarkan sedekah itu, karena takut menjadi fakir dan engkau amat mengharap-harapkan untuk menjadi kaya. Tetapi janganlah engkau menunda-nunda, sehingga apabila nyawamu telah sampai di kerongkong lalu berkata: “Untuk si Fulan itu, yang <a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/testimoni-miracle-water-ustad-yusuf-mansur/">ini</a> dan untuk si Fulan ini, yang itu, sedangkan orang yang engkau maksudkan itu<br />
telah memiliki apa yang hendak kau berikan.”</em> (Muttafaq ‘alaih)</div>
<div><strong>SEDEKAH tidak perlu menunggu harta cukup nishab atau menunggu banyak harta.</strong></div>
<div>Dianjurkan untuk senantiasa bersedekah dalam kondisi apapun. Sebagaimana Firman <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/10-dosa-besar-menurut-ustad-yusuf-mansur/">Allah Swt</a> yang artinya: <em>“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan/menyedekahkan (hartanya), baik di waktu lapang (banyak <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/entrepreneur-ala-rasulullah/">rizki</a>) maupun sempit (tidak banyak rizki), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”</em> (QS. Al-Imron (3): 134)</div>
<div><a href="http://yusufmansur.biz/video/terkabulnya-doa-1-dan-2/">Sahabat</a> Ali bin Abi Thalib dalam sebuah riwayat ketika memiliki empat dirham. Ia menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.</div>
<div><em>Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. (QS. Al-Baqarah (2): 261)</em><strong></strong></div>
<div>”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), Maka <a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/kaya-bersama-e-miracle-ustad-yusuf-mansur/">Kami</a> kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (kesuksesan).” (QS. Al-Lail (92): 5-7)</div>
<div>Senantiasa terus memperbaiki diri dan memberikan kemanfaatan bagi yang lain. Hendaknya kehadiran kita ada sesuatu manfaat yang bisa dirasakan oleh orang-orang yang ada di sekeliling kita, Baik itu tenaga, pikiran, materi dll. Tampakkan wajah ceria, murah senyum, tidak sekadar simpati saja, tetapi bagaimana bisa berempati. Berbagi dengan sesama, mengutamakan kepentingan saudaranya, <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">saling</a> berlomba dalam kebaikan dan <a href="http://yusufmansur.biz/video/bertaqwa-bukan-instan/">taqwa</a></div>
<div>“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Al Baqarah: 245)</div>
<div><strong>Siapakah yang dapat memberi keuntungan 700 kali lipat?</strong></div>
<div>Allah berfiman : <em>“Perumpamaan (<a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/entrepreneur-ala-rasulullah/">nafkah</a> yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”</em> (QS. 2 : 261)</div>
<div>Harta tidak akan pernah bisa mempertahankan kehidupan di muka bumi. Sehebat apapun usaha manusia untuk memperpanjang hidupnya, kematian pasti akan tiba pada saat yang telah ditentukan. Sebelum menyesal, masih ada kesempatan untuk membuat harta kita menjadi abadi. Caranya: transferlah harta anda ke <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">akhirat</a>. Salurkan kekayaan anda melalui lembaga-lembaga sosial yang membantu fakir <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">miskin</a> dan anak yatim, lebih dari itu wakafkan harta anda untuk pelayanan sosial seperti masjid, sekolah pendidikan <a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/kaya-bersama-e-miracle-ustad-yusuf-mansur/">agama</a> dan rumah sakit. Dari sini harta anda akan bergerak mencarikan pahala untuk anda. Dari sini kecapean yang selama ini anda lakukan tidak akan menjadi sia-sia. Anda kelak ditunggu oleh harta anda di <a href="http://yusufmansur.biz/video/penutup-kajian-surga-neraka-dlm-kajian-qs-al-fath/">surga</a>.</div>
<div>Mari turut berpartisipasi memproduksi berjuta kebaikan, Jangan puas hanya melaksanakan yang wajib. <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/10-dosa-besar-menurut-ustad-yusuf-mansur/">Shalat</a> Fardhu jangan dilalaikan, lengkapi dengan shalat sunnah, ada shalat rawatib, shalat malam, shalat dhuha dan lainnya. Puasa Romadhan kita laksanakannya, puasa sunnah kita kerjakan semampu kita, ada puasa 6 hari di bulan syawal, puasa 3 hari setiap bulan, puasa senin dan kamis, dll. Bersihkan harta dengan mengeluarkan zakat, tumbuh suburkan harta anda agar lebih berkah dan semakin berkembang sehingga dapat memberikan manfaat lebih banyak dengan menginfaqkannya di jalan Allah niscaya Allah akan ganti dengan yang lebih baik, jika di <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">dunia</a> belum ada ganti di akhirat kita menyesal, mengapa tidak menginfaqkannya lebih banyak lagi.</div>
<div><strong>Do’a kita untuk yang rajin berinfaq</strong></div>
<div>Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sesungguhnya <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/entrepreneur-ala-rasulullah/">Nabi Muhammad</a> shollallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Tidak ada satu subuh-pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa: “Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfaq”, sedangkan yang satu lagi berdo’a “Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan (hartanya)” (HR Bukhary 5/270)</div>
<div>Jangan lupa sertakan harapan anda… mintalah hajat anda…</div>
<div>Terbukti Shadaqah penuh keajaiban…</div>
<div>harta menjadi berkah, berlimpah dan penuh manfaat…</div>
<div>–&gt; Mau sembuh dari sakit, ayo shadaqoh</div>
<div>—&gt; Mau dapat anak, pancing dengan shadaqah</div>
<div>—-&gt; Anda mau apa, lakukan shadaqah, lalu mintalah hajat anda pada Allah…</div>
<div>Lakukan dari keluarga terdekat, tetangga dan orang-orang yang ada disekitar anda, semoga menjadi orang yang bermanfaat…</div>
<div><strong>Bahagia dunia akhirat, Ayo Shadaqah…..</strong></div>
<div align="center"><em>Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.</em></div>
<div>Ya Allah kabulkanlah do’a kaum muslimin di penjuru bumi..</div>
<div>Ya Allah kabulkanlah do’a-do’a kami…</div>
<div>Ya Allah kami telah berusaha mengorbankan harta kami tuk perjuangan menegakkan kalimat-Mu…</div>
<div>kami korban harta kami tuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan ke lebih banyak orang di seluruh penjuru bumi…</div>
<div>Ya Allah sembuhkanlah diantara kami yang sedang sakit, sembuhkanlah keluarga kami, sembuhkanlah tetangga kami, sembuhkanlah teman-teman…</div>
<div>Ya Allah di antara kami ada yang belum memiliki keturunan, berikanlah segera amanah itu,</div>
<div>Ya Allah berilah kami keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan do`a.</div>
<div>Ya Allah jadikanlah anak-anak kami, anak-anak yang shaleh dan shalehah…</div>
<div><em>“Wahai Allah limpahkanlah rahmat atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw; sebanyak aneka rupa rizqi. Wahai Dzat Yang Maha Meluaskan rizqi kepada orang yang dikehendaki-Nya tanpa hisab. Luaskan dan banyakanlah rizqiku dari segenap setiap penjuru dan perbendaharaan rizqi-Mu tanpa pemberian dari makhluk, berkat kemurahan-Mu jua. Dan limpahkanlah pula rahmat dan salam atas dan para sahabat beliau. ” </em></div>
<div><em>“Wahai Allah, wahai Dzat Yang Maha Kaya, wahai Dzat Yang Maha Terpuji, wahai Dzat Yang memulai, wahai Dzat Yang Mengembalikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang, wahai Dzat Yang Maha Mencintai. Cukupilah kami dengan kehalalan-Mu dari keharaman-Mu. Cukupilah kami dengan anugerah-Mu dari selain Engkau. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad Saw. keluarga dan sahabat beliau.”</em></div>
<div><em>“Dengan nama Allah, semoga Engkau menjaga diri kami, harta kami dan agama kami. Wahai Allah, ridhailah kami dari ketetapan-Mu dan berilah berkah kepada kami pada segala apa yang telah Engkau putuskan sehingga kami Tidak suka apa yang Engkau mempercepatkan apa yang Engkau akhirkan dan tidak pula menyukai mengakhirkan apa yang, Engkau cepatkan. “</em></div>
<div><em>“Ya Tuhan, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa <a href="http://yusufmansur.biz/video/penutup-kajian-surga-neraka-dlm-kajian-qs-al-fath/">neraka</a>.” </em>(QS. Al-Baqarah: 201).</div>
<div><em>“Ya Tuhan, janganlah Engka siksa kami karena lupa atau bersalah. Ya Tuhan, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/berbisnis-secara-berjamaah/">berat</a> sebagaimana telah Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kamj, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami dalam mengalahkan orang-orang <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/kafir-hidup-kaya-muslim-nampak-miskin/">kafir</a>.” </em>(QS. Al-Baqarah: 286).</div>
<div><em>“Ya Tuhan sungguh kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada iman: “Barimanlah kamu kepada Tuhanmu, maka kami pun beriman. Ya Tuhan, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta matikanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbuat kebajikan. Ya Tuhan, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat nanti. Sungguh Engkau sama sekali tidak akan pernah menyalahi janji.” </em>(QS. Âli Imrân: 193-294).</div>
<div><strong>Sedekah yang Utama</strong></div>
<div>Shadaqah adalah baik seluruhnya, namun antara satu dengan yang lain berbeda keutamaan dan nilainya, tergantung kondisi orang yang bersedekah dan kepentingan proyek atau sasaran shadaqah tersebut. Di antara shadaqah yang utama menurut <a href="http://yusufmansur.biz/video/kajian-islam-bulanan-masjid-istiqlal-1-sampai-5/">Islam</a> adalah sebagai berikut:</div>
<div><strong>1. Shadaqah Sirriyah</strong></div>
<div>Yaitu shadaqah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Shadaqah ini sangat utama karena lebih medekati ikhlas dan selamat dari sifat pamer. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> telah berfirman, <em>“Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> (QS. 2:271)</div>
<div>Yang perlu kita perhatikan di dalam ayat di atas adalah, bahwa yang utama untuk disembunyikan terbatas pada shadaqah kepada fakir miskin secara khusus. Hal ini dikarenakan ada banyak jenis shadaqah yang mau tidak mau harus tampak, seperti membangun sekolah, jembatan, membuat sumur, membekali pasukan jihad dan lain sebagainya.</div>
<div>Di antara hikmah menyembunyikan shadaqah kepada fakir miskin adalah untuk menutup aib saudara yang miskin tersebut. Sehingga tidak tampak di kalangan manusia serta tidak diketahui kekurangan dirinya. Tidak diketahui bahwa tangannya berada di bawah, bahwa dia orang papa yang tak punya sesuatu apa pun.Ini merupakan nilai tambah tersendiri dalam ihsan terhadap orang fakir.</div>
<div>Oleh karena itu Nabi <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> memuji shadaqah sirriyah ini, memuji pelakunya dan memberitahukan bahwa dia termasuk dalam tujuh golongan yang dinaungi Allah nanti pada hari Kiamat. <em>(Thariqul Hijratain)</em></div>
<div><strong>2. Shadaqah Dalam Kondisi Sehat</strong></div>
<div>Bersedekah dalam kondisi sehat dan kuat lebih utama daripada berwasiat ketika sudah menjelang ajal, atau ketika sudah sakit parah dan tipis harapan kesembuhannya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> bersabda, <em>“Shadaqah yang paling utama adalah engkau bershadaqah ketika dalam keadaan sehat dan <a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/manfaat-e-miracle-water-untuk-kesehatan-dan-pengobatan-alternatif/">bugar</a>, ketika engkau menginginkan kekayaan melimpah dan takut fakir. Maka jangan kau tunda sehingga ketika ruh sampai tenggorokan baru kau katakan, “Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian.”</em> (HR.al-Bukhari dan <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/kafir-hidup-kaya-muslim-nampak-miskin/">Muslim</a>)</div>
<div><strong>3. Shadaqah Setelah Kebutuhan Wajib Terpenuhi</strong></div>
<div>Allah <em>subhanahu wata’ala</em> telah berfirman, <em>“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah, “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”</em> (QS. 2:219)</div>
<div>Nabi <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> bersabda, <em>“Tidak ada shadaqah kecuali setelah kebutuhan (wajib) terpenuhi.” Dan dalam riwayat yang lain, “Sebaik-baik shadaqah adalah jika kebutuhan yang wajib terpenuhi.” </em>(Kedua riwayat ada dalam al-Bukhari)</div>
<div><strong>4. Shadaqah dengan Kemampuan Maksimal</strong></div>
<div>Berdasarkan sabda Nabi <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em>, <em>“Shadaqah yang paling utama adalah (infak) maksimal orang yang tak punya. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” </em>(HR. Abu Dawud)</div>
<div>Beliau juga bersabda, <em>“Satu dirham telah mengalahkan seratus ribu dirham.” </em>Para sahabat bertanya,” Bagaimana itu (wahai Rasululullah)? Beliau menjawab, <em>“Ada seseorang yang hanya mempunyai dua dirham lalu dia bersedakah dengan salah satu dari dua dirham itu. Dan ada seseorang yang mendatangi hartanya yang sangat melimpah ruah, lalu mengambil seratus ribu dirham dan bersedekah dengannya.” </em>(HR. an-Nasai, Shahihul Jami’)</div>
<div>Al-<a href="http://yusufmansur.biz/berita-artikel-e-miracle/testimoni-miracle-water-ustad-yusuf-mansur/">Imam</a> al-Baghawi <em>rahimahullah</em> berkata, “Hendaknya seseorang memilih untuk bersedekah dengan <a href="http://yusufmansur.biz/video/kelemahanku-kelebihanku/">kelebihan</a> hartanya, dan menyisakan untuk dirinya kecukupan karena khawatir terhadap fitnah fakir. Sebab boleh jadi dia akan menyesal atas apa yang dia lakukan (dengan infak seluruh atau melebihi separuh harta) sehingga merusak pahala. Shadaqah dan kecukupan hendaknya selalu eksis dalam diri manusia. Rasululllah <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> tidak mengingkari Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>yang keluar dengan seluruh hartanya, karena Nabi tahu persis kuatnya keyakinan Abu Bakar dan kebenaran tawakkalnya, sehingga beliau tidak khawatir fitnah itu menimpanya sebagaimana Nabi khawatir terhadap selain Abu Bakar. Bersedekah dalam kondisi keluarga sangat butuh dan kekurangan, atau dalam keadaan menanggung banyak hutang bukanlah sesuatu yang dikehendaki dari sedekah itu. Karena membayar hutang dan memberi nafkah keluarga atau diri sendiri yang memang butuh adalah lebih utama. Kecuali jika memang dirinya sanggup untuk bersabar dan membiarkan dirinya mengalah meski sebenarnya membutuhkan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> dan juga itsar (mendahulukan orang lain) yang dilakukan kaum Anshar terhadap kaum Muhajirin.” <em>(Syarhus Sunnah) </em></div>
<div><strong>5. Menafkahi Anak Istri</strong></div>
<div>Berkenaan dengan ini Rasulullah <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> bersabda, <em>“Seseorang apabila menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahalanya maka dia mendapatkan pahala sedekah.” </em>( HR. al-Bukhari dan Muslim)</div>
<div>Beliau juga bersabda, <em>“Ada empat dinar; Satu dinar engkau berikan kepada orang miskin, satu dinar engkau berikan untuk memerdekakan budak, satu dinar engkau infakkan fi sabilillah, satu dinar engkau belanjakan untuk keluargamu. Dinar yang paling utama adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” </em>(HR. Muslim).</div>
<div><strong>6. Bersedekah Kepada Kerabat</strong></div>
<div>Diriwayatkan bahwa Abu Thalhah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> memiliki kebun kurma yang sangat indah dan sangat dia cintai, namanya Bairuha’. Ketika turun ayat, <em>“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” </em>(QS. 3:92)</div>
<div>Maka Abu Thalhah mendatangi Rasulullah dan mengatakan bahwa Bairuha’ diserahkan kepada beliau, untuk dimanfaatkan sesuai kehendak beliau. Rasulullah <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> menyarankan agar ia dibagikan kepada kerabatnya. Maka Abu Thalhah melakukan apa yang disarankan Nabi tersebut dan membaginya untuk kerabat dan keponakannya.(HR. al-Bukhari dan Muslim)</div>
<div>Nabi <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> juga bersabda, <em>“Bersedakah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat maka ada dua (kebaikan), sedekah dan silaturrahim.” </em>(HR. Ahmad, an-Nasa’i, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah)</div>
<div>Secara lebih khusus, setelah menafkahi keluarga yang menjadi tanggungan, adalah memberikan nafkah kepada dua kelompok, yaitu:</div>
<div>Anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, <em>”(Yaitu) melepaskan budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang masih ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” </em>(QS. 90:13-16)</div>
<div>Kerabat yang memendam permusuhan, sebagaimana sabda Nabi, <em>“Shadaqah yang paling utama adalah kepada kerabat yang memendam permusuhan.” </em>(HR. Ahmad, Abu Dawud dan at-Tirmidzai, Shahihul jami’)</div>
<div><strong>7. Bersedekah Kepada Tetangga</strong></div>
<div>Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman di dalam surat an-Nisa’ ayat 36, di antaranya berisikan perintah agar berbuat baik kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. Dan Nabi juga telah bersabda memberikan wasiat kepada Abu Dzar <em>radhiyallahu ‘anhu</em>,<br />
<em>“Jika engkau memasak sop maka perbanyaklah kuahnya, lalu bagilah sebagiannya kepada tetanggamu.” </em>(HR. Muslim)</div>
<div><strong>8. Bersedekah Kepada Teman di Jalan Allah.</strong></div>
<div>Rasulullah <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> bersabda, <em>“Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang untuk keluarganya, dinar yang dinafkahkan seseorang untuk kendaraannya (yang digunakan) di jalan Allah dan dinar yang diinfakkan seseorang kepada temannya fi sabilillah Azza wa Jalla.” </em>(HR. Muslim)</div>
<div><strong>9. Berinfak Untuk Perjuangan (Jihad) di Jalam Allah</strong></div>
<div>Amat banyak firman Allah <em>subhanahu wata’ala</em> yang menjelaskan masalah ini, di antaranya, <em>“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Allah.” </em>(QS. 9:41)</div>
<div>Dan juga firman Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, <em>“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” </em>(QS. 49:15)</div>
<div>Di dalam sebuah <a href="http://yusufmansur.biz/motivasi/kafir-hidup-kaya-muslim-nampak-miskin/">hadits</a>, Nabi <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> bersabda, <em>“Barang siapa mempersiapkan (membekali dan mempersenjatai) seorang yang berperang maka dia telah ikut berperang.” </em>(HR. al-Bukhari dan Muslim)</div>
<div>Namun perlu diketahui bahwa bersedekah untuk kepentingan jihad yang utama adalah dalam waktu yang memang dibutuhkan dan mendesak, sebagaimana yang terjadi pada sebagian negri kaum Muslimin. Ada pun dalam kondisi mencukupi dan kaum Muslimin dalam kemenangan maka itu juga baik akan tetapi tidak seutama dibanding kondisi yang pertama.</div>
<div><strong>10. Shadaqah Jariyah</strong></div>
<div>Yaitu shadaqah yang pahalanya terus mengalir meskipun orang yang bersedekah telah meninggal dunia. Nabi <em>shallallahu ‘alihi wasallam</em> bersabda, <em>“Jika manusia meninggal dunia maka putuslah amalnya kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang diambil manfaat dan anak shalih yang mendoakannya.” </em>(HR. Muslim).</div>
<div>Di antara yang termasuk proyek shadaqah jariyah adalah pembangunan masjid, madrasah, pengadaan sarana air bersih dan proyek-proyek lain yang dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh masyarakat.</div>
<div>Wallahu’alam…</div>
<div></div>
<div>http://yusufmansur.biz/motivasi/penjelasan-sedekah-dan-manfaat-sedekah/</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/476/manfaat-sedekah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sedekah, Doa, &#038; Pamrih</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/473/sedekah-doa-pamrih/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/473/sedekah-doa-pamrih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Dec 2013 04:25:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=473</guid>

					<description><![CDATA[Ttg sedekah, doa, dan pamrih, konsep saya memang beda. Doa itu ibadah. Seperti sedekah, di mana ia juga ibadah. Dan doa, bukan pamrih. Niat, ga bisa disebut atau disamakan dengan doa. Niat ya niat. Doa ya doa. Dari sini semua bermula. Sekedar sharing juga, he he he. Seseorang yang sedekah, &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Ttg sedekah, doa, dan pamrih, konsep saya memang beda.</p>
<p>Doa itu ibadah.</p>
<p>Seperti sedekah, di mana ia juga ibadah. Dan doa, bukan pamrih.</p>
<p>Niat, ga bisa disebut atau disamakan dengan doa.</p>
<p>Niat ya niat. Doa ya doa.</p>
<p>Dari sini semua bermula. Sekedar sharing juga, he he he.</p>
<p>Seseorang yang sedekah, kepengen anaknya sembuh, maka permintaan itu “setara/sama/serupa” dengan pengen kaya, pengen selamet, pengen nikah, pengen kerja, pengen tolak bala, pengen punya rumah, pengen terus sekolah, pengen masuk kampus favorit, pengen beasiswa di luar negeri, pengen punya anak, pengen punya modal, pengen punya modal, pengen ngembangin usaha, pengen punya usaha, pengen naik karir, dll.</p>
<p>Ketika “pengen”, maka itu udah masuk wilayah doa. Bukan niat lagi.</p>
<p>Niatnya apa? Ya niatnya sedekah.</p>
<p>Doanya? Doanya supaya bisa selamet dari fitnah, dll. Semua yg disebut: setara, sama, serupa. Sebab sama-sama disebut doa.</p>
<p>Orang shalat tahajjud. Niatnya?</p>
<p>Ya tentunya niat shalat tahajjud. Usholii sunnatat-tahajjud…</p>
<p>Ketika dia shalat tahajjud supaya dinaikkan derajat, supaya jadi orang kaya, dilapangkan rizki, lunas hutang, sembuh dari penyakit, dll., maka ketika ada kalimat “supaya”, maka itu masuk wilayah doa.</p>
<p><strong>Sedekah, tanpa doa? 1 pahala.</strong></p>
<p><strong>Sedekah + doa ? 2 pahala.</strong></p>
<p>Bila beda di awal, maka beda pula serencengan, he he he. Saya, terhadap amal-amal lain, ya ga nyebut itu sbg pamrih. Bahkan ngarep di mata saya, adalah juga doa. Amal tinggi banget bila seseorang bisa ngarep sama Allah saja. Ga ngarep sama yang lain. Baru bermasalah, bila ngarepnya ke orang. Dia bantu orang lain, tapi ada maunya dari orang itu. Itu yg ga boleh. Atau riya (memperlihatkan amal kepada yg lain). Atau sum’ah (memperdengarkan kpd yg lain).</p>
<p>Baca Qur’an, supaya dapat berkah. Boleh ga?</p>
<p>Nah di sini, beda konsep.</p>
<p>Baca Qur’an, niatnya apa?</p>
<p>Ya pastinya ridho Allah.</p>
<p>Ya baca Qur’an aja. Terus minta hidup berkah, kekayaan berkah, anak2 berkah, rumah tangga berkah, pekerjaan berkah, usaha berkah, umur berkah, tenaga berkah.</p>
<p>Ketika nyebut “supaya”, itu udah masuk lagi2 ke wilayah doa. Jangankan sekedar berkah, atau katakanlah bahwa permintaan itu adalah “cuma” 1 permintaan. Dia minta sejuta permintaan, setelah baca Qur’an, atau bahkan sebelum baca Qur’an, atau bahkan nih, tanpa baca Qur’an, maka doa itu boleh banget2. Ngarep, boleh2 banget. Tidak ada satupun yang berhak melarang.</p>
<p>Jika doa sudah disebut niat, maka itulah awal pertentangan atau perbedaan.</p>
<p>Koq sedekah pengen kaya?</p>
<p>Koq birrul walidain pengen diangkat derajatnya, koq dhuha pengen dibuka rizki… Salah semua jadinya. Padahal, menurut konsep yg saya ikutin, kalo masuk “supaya”, itu masuk wilayah doa sebagaimana disebut di atas. Adalah rugi jika seseorang yg beramal saleh, lalu dia tidak meminta kepada Allah. Rugi banget.</p>
<p>Tapi saya sangat setuju, jika kemudian permintaan itu tidak hanya bersifat duniawi belaka. Tapi minta ridho Allah, minta surga, pengampunan, selamat dunia akhirat. Apapun, itu namanya “minta”. Yg bagus, beramal yang banyak, dan minta yang banyak.</p>
<p>Tulisan yg gini2, sdh jadi buku kompleto atas izin Allah. Judulnya: Boleh Ga Sih Sedekah Ngarep?</p>
<p>Boleh juga ada yg mengatakan. Niatnya melaksanakan tugas kantor. Ngejar target. Supaya naik pangkat, supaya promosi. Supaya naik gaji. Itu kalau di dunia manusia kerja. Apalagi kalau niatnya ibadah, ya keren banget.</p>
<p>Seluruh motivasi dunia, dibenarkan, menurut saya, jika mencarinya “hanya” di Sisi-Nya, dan dg Cara-Cara-Nya.</p>
<p>Dunia adalah milik Allah. Dekatkan semua yang pengen dunia, dengan Pemilik-Nya. Supaya mereka tidak meminta dunia dari selain-Nya, dengan cara-cara yang tidak diridhai juga oleh Pemilik-Nya.</p>
<p>Dan ajarkan mereka yang kepengen dunia, sebagaimana kita mengajarkan karyawan-karyawan kantor u/ bekerja terbaik, ngejar target, lalu dapet bonus terbaik juga.</p>
<p>Maka ajarkan yg pengen dunia, apa-apa yang diperintahkan Pemilik Dunia, spy dapat bonus banyak fii-haadzihil-hayaatid-duniaa… Ajarkan mereka yang pengen dunia, untuk meninggalkan seluruh larangan Pemilik Dunia. Spy dapet. Atau dapetnya dengan ridha-Nya.</p>
<p>Sbb banyak yg dapat, tp tidak dg Ridha-Nya. Dengan cara-cara yang benar, cara2 yg betul, yg hati2, tapi penuh semangat, sbb dunia memang milik Allah. Sementara itu, Allah pun mengajarkan, bahwa semua dunia ini, ga ada seberapanya dibanding apa-apa yang Allah akan berikan di negeri akhir. Ini dia… Ga seberapa dibanding dengan apa-apa yang Allah akan beri di negeri akhir.</p>
<p>Jadi, bukan ga boleh. Justru boleh banget. Malah dimotivasi, bahwa akan dapat yang lebih baik lagi nanti di akhirat. Ajarkan pula kehati2an, bahwa jangan sampe berhenti di expecting something about dunia only. Harus lebih powerful. Minta itu selalu dua, selalu seimbang: permintaan dunia, permintaan akhirat… Kayak yg diajarkan Allah sendiri: Rabbanaa aatinaa fid-duniaa hasanah, wafil-aakhiroti hasanah, wa qinaa ‘adzaabannaar.</p>
<p>Permintaan seimbang pun trnyata msh ga seimbang. Sbb Allah ngajarin 2:1, dua banding 1. Permintaan kebaikan negeri akhir, msh ditambah permintaan selamat dan terlindungi dari api neraka. Dua permintaan berbanding 1 permintaan di dunia.</p>
<p>Ini sekaligus ngajarin juga kita, bahwa sebaik-baik permintaan, tetap permintaan akhirat. Tapi permintaan akhirat, tetaplah permintaan. Artinya, ya harus juga diminta. Jangan diem aja. Jangan sampe sedekah ya sedekah saja, baca Qur’an ya baca Qur’an saja, dhuha ya dhuha aja, berbuat baik ya berbuat baik saja. Jangan. Kudu ada permintaannya. Kudu ada doanya.</p>
<p>sumber :  http://yusufmansur.com/sedekah-doa-pamrih/</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/473/sedekah-doa-pamrih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Biar Rezeki Jadi Berkah</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/471/biar-rezeki-jadi-berkah/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/471/biar-rezeki-jadi-berkah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Dec 2013 04:23:24 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=471</guid>

					<description><![CDATA[Sebagai seorang muslim Allah SWT mewajibkan kepada kita agar senantiasa bersyukur sebagaimana yang termaktub dalam surah al ankabut ayat 17. رِزْقاً فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu) (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta) kalian mengatakan kebohongan, bahwa berhala-berhala itu &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div></div>
<div>
<div id="r1PostCPBlock">Sebagai seorang muslim Allah SWT mewajibkan kepada kita agar senantiasa bersyukur sebagaimana yang termaktub dalam surah al ankabut ayat 17.<br />
رِزْقاً فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ</p>
<p>(Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu) (adalah berhala-berhala, dan kalian membuat dusta) kalian mengatakan kebohongan, bahwa berhala-berhala itu adalah sekutu-sekutu Allah. (Sesungguhnya yang kalian .sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian) maksudnya mereka tidak akan mampu memberi rezeki kepada kalian (maka mintalah rezeki di sisi Allah) yakni mintalah rezeki itu kepada-Nya (dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kalian akan dikembalikan) .</p>
<p>Menurut para ulama ada 3 hakikat syukur :<br />
1.    Hati : Yaitu memantapkan dalam hati bahwa hanya kepada Allahlah kita besyukur.<br />
2.    Lisan : Yaitu uacapan, ungkapan rasa gembira atas nikmat Allah dengan memuji dan berdzikir kepadaNya<br />
3.    Perbuatan : Yaitu peabdian hamba secara fisik dan memanfaatkan potensi  yang diberikan secara maksimal.</p>
<p>Syukur terkait erat dengan rasa . Bukan hanya hati atau ucapan. Melainkan totalitas antara hati, ucapan dan perbuatan. Apa yang kita pikirkan belum tentu apa yang kita rasakan. Apa yang sudah kita ucapkan juga belum tentu apa yang kita rasakan. Bahkan apa yang kita perbuat, juga belum tentu apa yang kita rasakan. Sedangkan emosi yang dihasilkan dari peleburan ketiganya itulah yang akan menghasilkan rasa syukur. Ada yang menyebutnya sebagia feeling. Bukan sekedar thinking, speaking atau action.</p>
<p>Ketika ketiganya melebur menjadi satu  janji Allah yang diinformasikan pada surah ibrahim ayat 7 akan aktif :<br />
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ<br />
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih&#8221;.</p>
<p>Allah sudah memberikan segala anugerah berupa kecerdasan, ilmu pengetahuan, kekuatan, kekuasaan, rezeki, dan sebagainya. Kita harus menyukurinya dengan hati, lisan dan  menggunakannya secara maksimal.</p>
<p>Cheetah, diciptakan dengan kecepatan lari mengagumkan, 114km/jam, dan hanya butuh 3 detik berakselerasi 0-60km/jam. Usain Bolt, berlari mentok di kecepatan 48km/jam. tapi dengan memanfaatnya potensinya manusia dengan ridho Allah mampu menciptakan kendaraan yang lebih cepat dari Cheetah, berkat menyukuri potensinya secara maksimal. bukan hanya hati dan lisan. tapi peleburan ketiganya.</p>
<p>Sebagai sorang siswa, Allah memberi rezeki kepada kita kesempatan belajar, kita wajib menyukurinya dengan belajar secara maksimal agar Allah menambah ilmu dan derajat kita. Sebagai seorang guru kita harus menyukurinya dengan mengamalkannya secara maksimal, dengan begitu Allah menambah nikmat para guru dengan ilmu baru dan bonus  gaji. Ketika kita kufur terhadap nikmatnya maka Allah akan mengazab kita sebagaimana Allah mengadzab Hammam karena kufur nikmat kepintarannya dan fir’aun yanng kufur terhadap nikmat kekuasaannya.</p>
<p>orang yang bersyukur tentang kesehatan ia berarti telah menikmati ‘sehat’. Orang yang mensyukuri kekayaannya  telah menikmati ‘hidup kaya’. Yang mensyukuri ilmu, berarti telah menikmati ‘ilmu’. Yang mensyukuri kebahagiaannya, telah menikmati ‘hidup bahagia’. Semakin banyak mensyukuri segala sesuatu, berarti dia telah menikmati segala-galanya.</p>
<p>begitu sederhana hidup ‘berkelimpahan’ penuh dengan ‘kesehatan, kekayaan, keilmuan, kebahagiaan, dan segala-galanya’</p>
<p>dengan meleburnya ketiga hakikat syukur tersebut isnyaAllah rezeki kita menjadi berkah (berhasil karena Allah)
</p></div>
</div>
<div id="r1PostCPBlock">http://fikri-note.blogspot.com/2012/10/biar-rezeki-jadi-berkah.html</div>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/471/biar-rezeki-jadi-berkah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tradisi Maulid Nabi</title>
		<link>https://perpustakaansidodadi.com/411/tradisi-maulid-nabi/</link>
					<comments>https://perpustakaansidodadi.com/411/tradisi-maulid-nabi/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[adminweb]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 18 Nov 2013 04:49:45 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://perpustakaansidodadi.com/?p=411</guid>

					<description><![CDATA[Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW bermula pada masa pemerintahan Bani Taimiyah, kemudian dilanjuti pada masa pemerintahan Khalifah Bani Abbas oleh penguasa Al Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) Sultan Salahuddin Al Ayyubi (Soultan Saladin). Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub, setingkat Gubernur &#8230;]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW bermula pada masa pemerintahan Bani Taimiyah, kemudian dilanjuti pada masa pemerintahan Khalifah Bani Abbas oleh penguasa Al Haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) Sultan Salahuddin Al Ayyubi (Soultan Saladin).</p>
<p>Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub, setingkat Gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.</p>
<p>Perintah merayakan Maulid ini disampaikan pertama kali pada musim Haji 579 H (1183 Masehi). Sebagai penguasa dua tanah suci kala itu, atas persetujuan Khalifah Bani Abbas di Baghdad, Sultan mengimbau agar seluruh jamaah haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialisasikan kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Maksud Sultan Salahuddin merayakan tradisi ini selain bentuk cintanya pada Rasul juga sebagai cara membangkitkan semangat juang umat Islam yang kala itu kehilangan semangat juang dan persaudaraan ukhuwah ketika terjadi perang salib.</p>
<p>Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.</p>
<p>Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.</p>
<p>Penyair Ahmad Syauqi menggambarkan kelahiran Nabi Mulia itu dalam syairnya yang indah:</p>
<p>“Telah dilahirkan seorang Nabi, alam pun bercahaya, sang waktu pun tersenyum dan memuji”.</p>
<p>Tradisi Maulid Nabi di Tanah Jawa</p>
<p>Bagi sebagian orang Islam tradisi merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan sebagai salah satu bentuk pengejewantahan rasa cinta umat kepada Rasul Nya.</p>
<p>Di tanah Jawa sendiri tradisi ini telah ada sejak zaman walisongo, pada masa itu tradisi Maulid Nabi dijadikan sebagai sarana dakwah penyebaran agama Islam dengan menghadirkan berbagai macam kegiatan yang menarik masyarakat. Pada saat ini tradisi Maulid/Mauludan di Jawa disamping sebagai bentuk perwujudan cinta umat kepada Rasul juga sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa Walisongo.</p>
<p>Sebagian masyarakat Jawa merayakan maulid dengan membaca Barzanji, Diba’i atau al-Burdah atau dalam istilah orang Jakarta dikenal dengan rawi. Barzanji dan Diba’i adalah karya tulis seni sastra yang isinya bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Sedangkan Al-Burdah adalah kumpulan syair-syair pujian kepada Rasulullah SAW yang dikarang oleh Al-Bushiri.</p>
<p>Berbagai macam acara dibuat untuk meramaikan acara ini, lambat laun menjadi bagian dari adat dan tradisi turun temurun kebudayaan setempat.</p>
<p>Di Cirebon, Yogyakarta, dan Surakarta, perayaan maulid dikenal dengan istilah sekaten. Istilah ini berasal dari stilasi lidah orang Jawa atas kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Perayaan umumnya bersifat ritual penghormatan (bukan penyembahan) terhadap jasa para wali penyebar Islam, misalnya upacara Panjang Jimat yaitu upacara pencucian senjata pusaka peninggalan para wali.</p>
<p>Di Cirebon upacara Panjang Jimat di fokuskan di dua tempat yaitu Keraton Kasepuhan dan Astana Gunung Jati. Di Jogjakarta dan Surakarta di masing-masing keraton dengan acaranya Grebeg Mulud. Pada zaman kesultanan Mataram perayaan Maulid Nabi disebut Gerebeg Mulud. Kata &#8220;Gerebeg&#8221; artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan Maulid Nabi, lengkap dengan sarana upacara, seperti nasi gunungan dan sebagainya. Di Garut, terdapat upacara Ngalungsur yaitu proses upacara ritual dimana barang-barang pusaka peninggalan Sunan Rohmat (Sunan Godog/Kian Santang) setiap setahun sekali dibersihkan atau dicuci dengan air bunga-bunga dan digosok dengan minyak wangi supaya tidak berkarat, di fokuskan di desa Lebak Agung, Karangpawitan. Di Banten kegiatan di fokuskan di Masjid Agung Banten. ditempat lain diantaranya tempat-tempat ziarah makam para wali.</p>
<p>Di beberapa tempat kadang-kadang perayaan ini dijadikan ajang berkumpulnya para tokoh masyarakat dan sesepuh setempat, seperti kyai, bangsawan/elang, dan tidak ketinggalan para jawara dari berbagai paguron untuk saling bersilaturahim, untuk membicarakan berbagai macam hal yang menyangkut daerah setempat. Tapi hal ini jarang diekspos karena sifatnya yang non formal, sehingga tidak banyak masyarakat yang mengikuti.</p>
<p>Pandangan Ulama NU</p>
<p>Para ulama NU memandang peringatan Maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada, namun termasuk bid’ah hasanah (bid’ah yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam. Banyak memang amalan seorang muslim yang pada zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan (bacaan Tahlilnya, misalnya, tidak bid’ah sebab Rasulullah sendiri sering membacanya), mau’izhah hasanah pada acara temanten dan Muludan.<br />
Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah SAW bersabda: &#8220;Siapa menghormati hari lahirku, tentu aku berikan syafa&#8217;at kepadanya di Hari Kiamat.&#8221; Sahabat Umar bin Khattab secara bersemangat mengatakan: “Siapa yang menghormati hari lahir Rasulullah sama artinya dengan menghidupkan Islam!”</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://perpustakaansidodadi.com/411/tradisi-maulid-nabi/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
