Kirab Miyos Gongso YOGYAKARTA

300_200__miyosgongso_00118012013134311

Iringan gerimis hujan mengawal kedua perangkat Gamelan Pusaka Sekaten, Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo mulai dipersiapkan dipindahkan menuju Pagongan di Masjid Gedhe. Kirab pemindahan dikawal oleh dua bregada prajurit, yaitu Bregada Prajurit Mantrijeron dan Patangpuluhan, tidak ketinggalan pula para Panji dari semua bregada prajurit Keraton. Turut serta sejumlah abdi dalem setingkat Bupati, abdi dalem Keprajan dan abdi dalem Punokawan.

Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB, Kirab Miyos Gongso dimulai dari Regol Brojonolo menuju Masjid Gedhe melewati Supit Urang, Sitihinggil, Pagelaran dan Alun-alun, dan langsung membelok kebarat menuju Regol Masjid Gedhe. Kirab Miyos Gongso yang membawa perangkat Gamelan Pusaka Sekaten, yaitu Kyai Gunturmadu dan Kyai Nogowilogo merupakan tradisi yang sudah berlangsung lama dari sejarah kerajaan-kerajaan Islam di Jawa Tengah, dari jaman Kasultanan Demak hingga berdiri Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Tradisi Miyos Gongso bermula dari kejatuhan Kerajaan Majapahit pada tahun 1400 Saka yang diakibatkan serangan dari Kerjaan Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Tidak butuh waktu lama, 1403 Saka berdirilah Kerajaan Kasultanan Demak  dengan Raden Patah sebagai raja pertama yang bergelar Sultan Syah Alam Akbar. Untuk menunjukkan keberadaannya sebagai pusat kekuasaan baru, Kasultanan Demak mengambil sisa-sisa kejayaan dan kekayaan Majapahit, termasuk Gamelan Pusaka Kyai Sekar Delima.

Untuk menunjukkan keberadaannya, Kerajaan Demak menggelar Sekaten sebagai komunikasi politik antara pihak kerajaan dengan rakyat yang berada di wilayahnya. Untuk melengkapi gamelan tersebut, Kanjeng Sunan Kalijaga kemudian menciptakan seperangkat gamelan yang diberinama Kyai Sekati. Satu perangkat lagi merupakan warisan Kerajaan Majapahit, yang kemudian diberi nama Nyai Sekati. Kedua perangkat gamelan Pusaka inilah yang selalu diperdengarkan dalam keramaian Sekaten.

Berjalannya waktu dengan diringi kejatuhan pusat-pusat kekuasaan di Jawa, tetap tidak menghilangkan tradisi Sekaten beserta Kirab Miyos Gongso yang diwariskan secara turun-temurun. Dimulai dari keruntuhan Kasultanan Demak, tradisi ini diwariskan oleh Kasultanan Pajang dan dilanjutkan Dinasti Mataram Islam sejak dari Kotagede, Kerta, Plered sampai dengan Kartasuro dan Surakarta.

Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari pada tahun 1755 –yang membagi Dinasti Mataram Islam menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, sebagaimana wilayah-wilayah kekuasaan, pusaka-pusaka pun kemudian dibagi dua untuk masing-masing Keraton– tidak menghilangkan tradisi Sekaten dan Miyos Gongso yang merupakan warisan jaman Kasultanan Demak.

Setelah Perjanjian Giyanti terwujud, Kasunanan Surakarta mewarisi Gamelan Pusaka Kyai Sekati, sementara pasangannya Gamelan Pusaka Nyai Sekati diwarisi oleh Kasultanan Yogyakarta. Mengingat tradisi Gamelan Pusaka Sekaten bersifat sepasang, kedua kerajaan baru tersebut membuat duplikat Gamelan Pusaka yang tidak dimilikinya. Kasultanan Yogyakarta kemudian memiliki sepasang Gamelan Pusaka Sekaten, yaitu Nyai Sekati dan duplikat Kyai Sekati.

Atas dasar inisiatif Sri Sultan HB I, pasangan gamelan tersebut disempurnakan kembali dan diberikan nama baru. Gamelan Pusaka Nyai Sekati diberi nama baru Kyai Gunturmadu, sementara duplikat Gamelan Pusaka Kyai Sekati diberi nama Kyai Nogowilogo. Gunturmadu mengandung arti “turunnya anugerah“, sedangkan Nogowilogo memiliki makna “ kemenangan perang yang lestari”.

Dan menjelang tengah malam, sesampainya di depan Regol Masjid Gedhe, Kirab Miyos Gongso berhenti sejenak untuk melakukan upacara serah terima bersama seluruh pengiringnya. Setelah dilakukan upacara serah terima, bersama seluruh pengiringnya, kedua perangkat Gamelan Pusaka Sekaten langsung dibawa menuju Pagongan (Pagongan adalah sebuah bangunan berbentuk panggung, yang secara khusus dipergunakan untuk menempatkan sekaligus memperdengarkan Gamelan Pusaka Sekaten pada setiap bulan Maulud. Sebagaimana Gamelan Pusaka Sekaten, bangunan Pagongan juga berjumlah sepasang, yang terletak di halaman depan Masjid Gedhe, pada sisi utara dan selatan. Gamelan Pusaka Kyai Gunturmadu selalu ditempatkan di Pagongan sebelah selatan, sementara Gamelan Pusaka Kyai Nogowilogo ditempatkan di Pagongan sebelah utara).

Bregada Prajurit Patangpuluh, mengawal Gamelan Pusaka Kyai Nogowilogo menuju Pagongan di sebelah Utara dan Bregada Prajurit Mantrijero, mengawal Gamelan Pusaka Kyai Gunturmadu menuju Pagongan di sebelah selatan. Sementara Di kedua bangunan Pagongan ini, kedua perangkat Gamelan Pusaka tersebut akan diperdengarkan terus-menerus setiap hari selama sepekan, kecuali pada waktu-waktu sholat dan pada malam Jum’at sampai dengan setelah Sholat Jum’at. (konten: aan ardian/kotajogja.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>