Donor ASI, Amankah?

 

Air Susu Ibu (ASI) sangat bermanfaat bagi bayi. Didalamnya terkandung nutrisi lengkap yang dibutuhkan bagi bayi. Namun apa jadinya jika ada seorang ibu yang tidak bisa menyusui karena beberapa kasus kesehatan, Ibu bayi meninggal usai melahirkan atau sama sekali tidak bisa mengeluarkan ASI. Nah, donor ASI jawabannya. Tapi, amankah?

Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, donor ASI sudah mulai dilakukan. Melalui Bank ASI yang tersedia, para Ibu yang tidak bisa memberikan ASI kepada bayinya karena beberapa alasan bisa tetap memberikan ASI kepada bayinya dengan bantuan pendonor ASI. Tapi sayang, secara resmi belum ada Bank ASI di Indonesia karena Indonesia baru melakukan aktifitas donor ASI saja.

Untuk mengetahui tingkat keamanan ASI yang didonorkan, sebaiknya Anda harus mengetahui beberapa hal-hal di bawah ini karena baik mendonorkan ASI atau menerima donor ASI tidak boleh sembarangan. Ada rangkaian prosedur yang harus dijalani kedua belah pihak.

Tahap pertama, pemeriksaan lisan berupa wawancara. Tujuannya untuk mengorek riwayat kesehatan pendonor ASI. Tahap kedua berupa pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh untuk mengetahui apakah si pendonor mengidap penyakit Hepatitis A, Hepatitis C, Rubella dan HIV.

Setelah didonorkan, ASI masih harus dipasteurisasi untuk mematikan virus dan bakteri yang berbahaya bagi bayi. Donor ASI juga ditempatkan di wadah dan suhu yang khusus agar ASI bisa bertahan lama. Pemerintah sendiri sudah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 2012 tentang ASI Eksklusif sebenarnya telah menetapkan persyaratan bagi pendonor dan penerima ASI. Diantaranya, donor ASI dilakukan sesuai permintaan Ibu kandung atau kerabat bayi, identitas pendonor ASI harus jelas dan pendonor ASI memiliki riwayat kesehatan yang baik.

Bagi Anda yang ingin mendonorkan ASI, tidak disarankan jika Anda menerima donor darah dalam 12 bulan terakhir, menerima transplantasi organ dalam waktu 1 tahun terakhir, minum alkohol lebih dari 24 jam, pengguna obat-obatan berdosis tinggi, pengguna obat-obat herbal, merokok, menggunakan obat-obat terlarang, memiliki penyakit hepatitis, HIV dan memakai implant payudara.

Ditulis oleh
Maria Ulfa Eleven Safa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>